Loading Now

Atraksi Badabus :Peluang dan Tantangan Digitalisasi Budaya

Atraksi Badabus merupakan salah satu warisan budaya khas Maluku Utara yang sarat akan nilai sejarah, spiritualitas, dan identitas masyarakat setempat. Tradisi ini tumbuh di tengah keberagaman budaya yang dimiliki Maluku Utara, daerah yang dihuni oleh berbagai suku seperti Ternate, Tidore, dan Makian yang telah lama hidup berdampingan secara damai.

Berbagai pihak kini berupaya memperkenalkan Atraksi Badabus kepada masyarakat yang lebih luas dengan mengusung semangat digitalisasi budaya. Melalui pemanfaatan media sosial, platform digital, hingga berbagai konten kreatif, Badabus tidak lagi hanya dapat disaksikan oleh masyarakat lokal, tetapi juga dikenal oleh generasi muda dan masyarakat dunia.

Atraksi Badabus: Tradisi ekstrem untuk hiburan

Dalam pemandangan ini, masyarakat akan melihat seseorang menusukkan benda tajam seperti besi ke tubuhnya. Ini merupakan tradisi yang ekstrim dan disucikan oleh Masyarakat Tidore, Maluku Utara. Sehingga tidak boleh sembarangan dilakukan oleh orang biasa.

Tradisi ini juga dikenal dengan nama Ratib Taji Besi yang diadakan pada acara hajatan, syukuran, dan hiburan untuk keluarga yang sedang berduka setelah 44 hari kematian.

Biasanya waktu pelaksanaannya disesuaikan dengan tuan rumah, apakah akan dilakukan pagi atau malam hari. Untuk tahapan pelaksanaannya, pelaku Badabus akan berjongkok dan bersalaman dengan pemuka agama. Pemuka agama inilah yang akan memimpin jalannya Atraksi Badabus.

Alwan atau besi sepanjang 30 cm dan runcing akan diasapi dengan kemenyan yang telah dibakar. Pelaku Badabus menggoyang tubuhnya ke kanan dan kiri, lalu mengusap besi ke pundak kanan naik ke atas kepala dan turun ke pundak kiri. Pelaku atraksi mengangkat Alwan atau besi runcing itu dan menusuk ke dada berkali-kali. Bahkan juga ditusukkan ke paha sambil menari-nari yang menunjukkan Badabus telah dimulai.

Atraksi yang syaratnya akan bernilai Spiritual

Kondisi Atraksi Badabus akan bernilai keagamaan karena sebelum pelaku mulai diwajibkan untuk berwudhu. Jalannya acara juga disiarkan dengan doa, dzikir, dan tabuhan rebana. Pemuka agama juga membacakan ayat-ayat pilihan dari Al-Qur’an dengan berdiri, lalu duduk kembali sambil membacakan Alfatihah yang ditujukan kepada Rasulullah SAW, Waliyullah, guru-guru, dan terakhir membacakan doa untuk niat hajatan. Pertunjukan terakhir badabus ditutup dengan ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan yang telah banyak memberi kenikmatan.

Atraksi Badabus ini telah dibawakan oleh leluhur atau nenek moyang masyarakat Maluku Utara dalam waktu yang lama, tetapi tradisi lokal syarat akan nilai keislaman ini tetap lestari hingga sekarang.

Digitalisasi Atraksi Badabus

Di era digital yang semakin canggih ini, generasi muda cenderung kurang mengenal budaya lokal, termasuk atraksi Badabus yang menjadi warisan masyarakat Maluku Utara. Perkembangan teknologi dan arus globalisasi yang pesat membuat minat terhadap tradisi menurun, sehingga budaya tersebut bisa semakin terancam hilang hilang ditelan zaman yang dinamis.

Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah nyata untuk melestarikan Atraksi Badabus, baik melalui kegiatan edukasi, promosi di media digital, maupun penyelenggaraan kegiatan budaya yang melibatkan generasi muda agar mereka lebih peduli dan bangga terhadap warisan leluhur.

Menurut Figueiredo, dkk. Pada Tahun 2024, menyatakan bahwa digitalisasi budaya merupakan sebuah tahapan untuk mengubah elemen budaya menjadi bentuk digital yang dapat dilihat, disebarkan, atau bahkan diedit melalui teknologi informasi dan komunikasi. Biasanya sarana media sosial, seperti Instagram, YouTube, dan TikTok menyajikan budaya lokal ke dalam bentuk video yang dapat dilihat dan disebarluaskan oleh penonton.

Hari ini upaya digitalisasi budaya sangat penting untuk dilakukan di tengah perkembangan zaman yang semakin dinamis. Berangkat dari hal tersebut sudah saatnya pemandangan Badabus akan lebih dikenal di seluruh Indonesia bahkan sampai ke luar negeri melalui konten-konten digital.

Digitalisasi budaya perlu melibatkan pembuat konten

Dalam hal ini perlu juga turut melibatkan pembuat konten yang dapat mengintegrasikan unsur-unsur budaya, seperti musik, ritual, dan gerakan-gerakan ke dalam bentuk video atau siaran langsung yang dapat dinikmati penonton.

Kreator konten memiliki peran penting dalam pelestarian budaya melalui kegiatan digitalisasi. Sangat penting bagi seorang pembuat konten untuk mengetahui secara mendalam sebuah budaya yang dapat dijadikan konten.

Sama seperti Atraksi Badabus yang menjadi topik dalam artikel ini, pembuat konten harus memahami setiap tahapan dan makna yang terkandung di dalam Atraksi Badabus. Semua ini adalah bentuk tanggung jawab seorang pencipta untuk menjawab pertanyaan dan kesalah pahaman konten yang terjadi di antara penonton nantinya.

Baca juga: h ttps://anakpanah.id/teknologi-dan-budaya-massa/

Peluang dan tantangan digitalisasi budaya

Namun disisi lain sebuah budaya yang sedang mengalami proses digitalisasi akan berpotensi kehilangan rasa kesakralan, penyederhanaan makna, bahkan bisa merusak keotentikan sebuah budaya. Sehingga perlu adanya refleksi dan kajian menyeluruh kembali jika ada penyimpangan makna dari video mengenai budaya yang dipertontonkan di media sosial.

Selain itu, upaya modifikasi harus memiliki batasan yang jelas mana saja bagian yang tidak boleh dihilangkan dalam video pertunjukkan Budaya. Sehingga diharapkan nilai sakralnya akan tetap terjaga meski sudah beralih fungsi menjadi hiburan yang ditampilkan tanpa menghilangkan esensinya.

Digitalisasi membuka pintu kesempatan untuk berinteraksi dengan pembangunan global, hal ini berpotensi untuk meningkatkan jangkauan bagi budaya lokal seperti Atraksi Badabus yang dapat dikenal, dinikmati, dan diapresiasi secara luas.

Meskipun ada risiko hilangnya rasa kesakralan dan penekanan makna yang terkandung di dalamnya. Namun, digitalisasi sangat mutlak untuk dilakukan agar mempertegas sebuah budaya sebagai Identitas Nasional, seperti Atraksi Badabus yang sekarang ini menjadi Identitas Masyarakat Maluku Utara sekaligus Identitas Bangsa Indonesia.

____

Penulis: Agus Sanjaya

Bagikan artikel ini :

Post Comment