Tarwiyah dan Muhammadiyah: Lahirnya Perenungan Kiai Dahlan
Hari Tarwiyah di peringati tiap 8 Dzulhijjah, di hari tersebut juga bertepatan dengan lahirnya Muhammadiyah yang secara hijriyah kini sedang menapaki usianya yang ke-117. Pada momentum itu, kiai Dahlan bersama murid-muridnya mendirikan Muhammadiyah dalam suasana puasa sunnah Tarwiyah, sehingga ada keterikatan antara hari tarwiyah dengan Muhammadiyah. Seolah bukan sekadar pendirian organisasi, tetapi juga lahirnya sebuah gerakan hasil perenungan mendalam tentang nasib umat Islam dan bangsa yang kala itu masih terbelenggu kolonialisme.
Tarwiyah adalah Merenungkan
Hari Tarwiyah sendiri merupakan persiapan Jamaah Haji di Tanah Suci untuk menuju kawasan Arafah guna melaksanakan wukuf sebagai syarat wajib paling utama dalam Ibadah Haji.
Makna lain dari Tarwiyah berasal dari kata Rawa adalah berfikir atau merenungkan. Apa yang direnungkan oleh kiai Dahlan pada saat itu ?. Makna tarwiyah kemudian ditafsirkan Muhammadiyah sebagai perenungan untuk melakukan pembaharuan.
Jika kita melihat sejarah, Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda belum menerapkan politik etis sebagai balas budi kepada negara-negara jajahan mereka, termasuk gugusan kepulauan Nusantara.
Saat itu, Belanda sedang gamang. Eropa dilanda perang dingin, menuju Perang Dunia I yang Meletus di tahun 1914 hingga 1919. Akhirnya, saat Muhammadiyah didirikan, Pemerintah Kolonial Hindia Belanda tidak memiliki kesempatan untuk menekan Muhammadiyah yang dilindungi oleh Kraton Yogyakarta.
KH Ahmad Dahlan sadar betul bahwa Umat Islam di kepulauan Nusantara masih terpecah-belah oleh sistem kolonialisme, yang hanya mencari sumber daya alam Indonesia untuk dijual dan digunakan sebagai logistik perang.
Politik Etis dan Lahirnya Ruang Gerak Muhammadiyah
Setelah Perang Dunia I, Belanda tidak memiliki pilihan kecuali melakukan politik etis memberikan wadah bagi penduduk asli gugusan kepulauan Nusantara untuk menyampaikan aspirasi politik dengan tujuan menghindari terjadinya kembali Perang Jawa, Perang Paderi dan perang-perang lain di berbagai wilayah, yang akan semakin mempersulit posisi Belanda.
Muhammadiyah sebagai gerakan agama, pengaruhnya meluas tidak hanya di Yogyakarta, bahkan di Surabaya hingga Kalimantan dan Sumatra. Belanda tidak bisa berbuat banyak. Jika menekan Muhammadiyah, perlawanan Umat Islam akan mudah meluas dan menghabiskan biaya besar untuk meredamnya. Maka saatu-satunya cara adalah membiarkan Muhammadiyah berkembang.
Tidak diganggunya Muhammadiyah oleh Belanda, dimanfaatkan KH Ahmad Dahlan untuk mengamalkan gagasan pembaharuan kehidupan keberagamaan. Sekolah dengan meja bangku, rumah sakit, Shalat Eid di lapangan dan mengubah arah kiblat, serta berbagai bantuan sosial untuk kalangan fakir miskin dan anak-anak yatim piatu yang bahkan saat itu dianggap seperti kasta dailit di India saat ini, sebagai pengejawantahan dari pengamalan Surah Al-Maun yang berarti paket makanan yang bergizi.
Baca juga: https://anakpanah.id/marhaenisme-dan-teologi-al-maun/
Tarwiyah dan Renungan Kiai Dahlan untuk Islam Berkemajuan
Corak berfikir KH Ahmad Dahlan ini adalah warisan penting bagi para muridnya, dan seluruh kader Muhammadiyah hingga saat ini. Hasil dari perkembangan dan corak Islam Berkemajuan yang ditanamkan oleh KH Ahmad Dahlan antara lain :
Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT), sebagai bentuk semangat persaudaraan dan persatuan Umat Islam sebagai satu entitas yang tidak terpisahkan oleh identitas kebangsaan dan batas negara. Tujuannya hanya satu, satu tanggal untuk satu dunia.
Dam Haji disembelih di tanah air. Ini bukan fatwa baru dalam Dunia Islam. Mesir sudah di era Grand Mufti Mesir Prof Syauqi Allam, bahkan boleh di daerah lain atau negara lain, semisal di Palestina atau daerah lain yang memang sedang membutuhkan. Tujuannya untuk mempermudah penyaluran daging tanpa memakan biaya yang lebih besar untuk pemaketan, pengiriman dan penyimpanan.
Berhati-hati dalam urusan cryptocurrency karena definisi yang beraneka-ragam seperti halnya keanakaragaman dalam dinamika mu’amalah maaliyah yang dinamis. Hasil dari cara berfikir ini merupakan hasil dari perenungan akan kondisi Umat Islam yang semakin kompleks khususnya di kalangan fakir miskin yang memerlukan sentuhan, bahwa agama adalah penyelamat dari kesulitan hidup, bukan beban yang harus dipikul.
Seperti para Jamaah Haji yang merenung dengan berzikir dan beristighfar di Mina dan Muzdalifah sebelum bergerak ke Arafah, tempat mengakui kesalahan dan kondisi diri sendiri yang apa adanya.
____
Penulis: Mush’ab Muqoddas Eka Purnama, Lc
Bagikan artikel ini :



Post Comment