Membaca Diri Lewat Lirik Lagu Iqro’ Karya Raim Laode
Pernahkan kamu merasa begitu kecil di bawah langit malam yang luas? Dan aku tak menyangka, ternyata ku temukan sebuah makna paling dalam dari lirik sebuah lagu. Raim Laode dalam lagunya, Iqro’, memulai liriknya dengan sebuah makna yang jujur, “bintang-bintang dan pepohonan, keduanya bersujud kepadaNya.” Di titik itu, alam semesta sebernarnya sudah selesai dengan tugas dzikirnya. Semua yang ada dilangit dan bumi bertasbih kepadaNya. Namun, kenapa kita sebagai manusia justru sering terjebak dalam riuh rendah pikiran sendiri? Kita sering bertanya, “siapakah aku sebenarnya? Ternyata hanya atom yang kecil, tapi besar sombongnya.” Lirik ini seperti tamparan keras tapi halus yang mengingatkan kita pada pesan Allah dalam QS. Al-Isra’: 37: “Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.” Di hadapan-Nya, kita memang hanya partikel kecil. Kesombongan yang kadang kita pakai sebagai “topeng” di dunia ini sebenarnya hanyalah sebuah ilusi yang melelahkan. Sungguh melelahkan.
Tentang Ramai yang Terasa Sunyi
Raim kemudian membisikkan kegelisahan yang dekat dan melekat di telinga kita, dalam lirik lagunya, “Sampai di masa ini ku masih mencari, tentang arti dunia yang ramai nan sunyi.” Jujur aja, ini kita banget, kan? Kita hidup di era media sosial yang luar biasa ramai. Notifikasi masuk setiap detik, informasi berhamburan, tapi kenapa di saat yang sama kita sering merasa sunyi dan hampa tanpa makna?
Kegelisahan tentang “arti dunia” ini sebenarnya sudah dijawab dengan sangat tegas dalam QS. Al-Hadid: 20: “Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.” Ramainya dunia sering kali menjadi pengecoh yang membuat kita lupa bahwa semua target angka, pencapaian materi, dan validasi manusia itu sifatnya sementara. Kesadaran inilah yang seharusnya membuat kita berhenti mengejar “bayangan” duniawi dan mulai mencari “esensi” kehidupan yang abadi.
Sebuah Rahasia Kecil dari Masa Laluku
Sini, aku mau cerita sedikit, tentang masa laluku. Aku harap, pembaca benar-benar mendengarkan ceritaku. Dulu aku adalah orang yang sangat meragukan diri sendiri. Aku seringkali cemas tentang apa yang akan terjadi di masa depan.
Semasa sekolah di Purwokerto dan Jogja, aku bukan siswa yang luar biasa. Dari kejauhan, aku sering menatap kagum bagaimana teman-temanku yang menjadi ketua-ketua organisasi memimpin dengan begitu gagah dan cakapnya. Aku melihat mereka yang nilai akademiknya jauh di atasku, dengan sabar mengajari apa yang belum aku pahami. Dan pada akhirnya aku belajar banyak dari mereka.
Dulu, aku merasa tertinggal. Aku merasa kecil. Tapi pada akhirnya, aku sadar, jangan pernah membandingkan “bab pertama” bukumu dengan “bab kesepuluh” buku orang lain. Kita semua punya starting point yang berbeda-beda. Mereka mungkin lebih awal memulai, tapi itu bukan berarti kita kehilangan jalan. Fokuslah pada prosesmu sendiri, karena Allah tidak meminta kita untuk menjadi “lebih baik dari orang lain”, tapi menjadi “lebih baik dari diri kita yang kemarin.”
Berjalan Menuju Cahaya
Puncak dari pendakian untuk mencari jati diri ini adalah sebuah uluran tangan dan komitmen yang tulus. Dalam lirik lagunya, “Bantu aku berjalan, menuju cahaya. Lalu aku berjanji menjadi yang baik.” Bagi aku, ini bukan sekadar bait lirik. Ini adalah sebuah ikrar untuk membangun Identity Based Habits seperti apa yang tertulis dalam buku Atomic Habits karya James Clear.
Secara ilmiah, perubahan perilaku yang paling kuat bukanlah tentang hasil yang ingin dicapai, melainkan tentang siapa kita ingin menjadi. Jika kita fokus pada hasil, kita mungkin akan berhenti setelah mencapainya. Namun, dengan Identity Based Habits, kita membangun kebiasaan berdasarkan identitas baru, “Aku adalah hamba yang mencari cahaya.” Ketika identitas itu sudah tertanam, melakukan kebaikan bukan lagi sebuah beban, melainkan refleksi alami dari diri kita.
Keinginan untuk berpindah dari gelapnya keraguan menuju cahaya adalah bentuk pengakuan bahwa kita butuh Allah. Hal ini selaras dengan janji-Nya dalam QS. Al-Baqarah: 257: “Allah pelindung orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya (iman).” Berjalan menuju cahaya berarti meninggalkan ruang gelap yang bermakna berani melepaskan ego dan rasa iri, untuk kemudian memeluk identitas baru sebagai hamba yang bertakwa, cerminan dari cahaya.
Bahagia Itu Perkara Waktu Sekarang yang Berbuah Kebermanfaatan
Raim menutup refleksinya dengan sebuah “kunci” penting, bahwa Bahagia itu bukan perkara nanti, tapi sekarang. Harta yang paling berharga bukanlah materi yang kita tumpuk, melainkan waktu.
Untuk kamu yang mungkin saat ini sedang merasa kecil atau ragu seperti aku dulu, yuk kita lakukan Iqro dalam makna yang paling tulus. Iqro yang maknanya bukan sekadar membaca, tapi membaca diri, membaca sekitar, dan mengakui bahwa kita memang “atom yang kecil”. Namun, justru dengan kerendahan hati itulah, jalan menuju cahaya akan terbuka lebar.
Sebab pada akhirnya, kebahagiaan sejati adalah saat kita bisa berdamai dengan waktu dan tetap melangkah menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri. Jadi, siap untuk tumbuh lebih baik bersamaku? Kau bisa jawab dengan kata “siap“ ataupun “belum”, tapi aku harap kau memilih jawaban yang pertama.
Bagikan artikel ini :



Post Comment