Loading Now

Peluncuran Buku Dari Ruang Kelas Menuju Ruang Kebijakan

Peluncuran Buku Dari Ruang Kelas Menuju Ruang Kebijakan - Berita
Haedar Nashir Menyampaiakan pidato dalam peluncuran Buku

Dari Ruang Kelas Menuju Ruang Kebijakan : Gagasan Untuk Reformasi Pendidikan Indonesia. Sabtu, 06 Juni 2026 sebuah buku refleksi pendidikan karya Arif Jamali Muis diluncurkan. Bertempat di Ampiteater Fakultas Kedokteran UAD. Pusat Studi Kebijakan Publik (PSKP)  memotori kegiatan peluncuran buku ini. Azaki Khairudin selaku kapala PSKP menyampaikan terimakasih atas kesediaan Pak Arif Jamali Muis dalam peluncuran buku ini. Azaki juga menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi bagian produktivitas PSKP selama setahun terakhir, yang sebelumnya juga telah melakukan survei tentang Muhammadiyah Di Mata Anak Muda, Riset 7 Kebiasaan Indonesia Hebat dan saat ini sedang menjalankan riset “Dinamika Pemikiran dan Gerakan Muhammadiyah tahun 2000-2025” bekerjasama dengan LKKS (Lembaga Kajian Dan Kemitraan Strategis)  PP Muhammadiyah.

Mukhlas M.T selaku Rektor Universitas Ahmad Dahlan memberikan apresiasi atas dedikasi Dr. Azaki Khairudin atas pesatnya perjalanan PSKP ini yang baru seumur jagung, “sepertinya ini menjadi satu-satunya pusat studi terbaik,  karena satu-satunya yang mampu menghadirkan Ketua Umum PP Muhammadiyah” tegas Rektor UAD sambil tersenyum. Ia juga menyinggung sekilas tentang isi buku Arif Jamali yang menyuguhkan filosofi Pendidikan K.H Ahmad Dahlan, Filosofi tersebut patut untuk kita renungkan bersama dalam jalannya pendidikan kita.

Arif Jamali Muis selaku Penulis tidak lahir dari sebuah keistimewan nasab dan jabatan. Beliau lahir sebagai seorang guru yang mengamati kegiatan pembelajaran secara mendalam dari ruang kelas ke ruang kelas yang lain. dan saat ini menjadi bagian jalannya birokrasi kita yang menjadi poros dalam melahirkan kebijakan yang berpihak. Buku ini merupakan refleksi beliau selama hampir 5 tahun, proses yang ia lalui sebagai seorang guru dan aktivis pendidikan melahirkan sebuah gagasan dan pemikiran yang ia tuangkan dalam berbagai tulisan. dinamika realitas di lapangan dengan idealisme yang tak sejalan menjadikan keresahan tersendiri bagi penulis.   Ia berharap gagasan dan pengalamannya itu dapat memberikan sumbangsih bagi kemajuan pendidikan Indonesia.

Prof. Haedar Nashir Ketua Uum PP Muhammadiyah melakukan penandatanganan buku yang juga didampingi oleh Arif Jamali Muis, Dr. Mukhlas MT, Dr. Azaki Khairudin, Prof. Biyanto (Staf Ahli Kemendikdasmen) dan Diyah Puspitarini (Komisioner KPAI). seletah melakukan penandatanganan dan peluncuran buku secara resmi Haedar Nashir memberikan nasehat dan pidatonya.

Ilmu Membangun Peradaban

Haedar Nashir memulai dengan penegasan budaya keilmuan, “bahwa kunci ilmu itu tidak ada di pasar loakan, membutuhkan suatu proses panjang melalui membaca dan menulis. Keduanya menjadi mata rantai yang tidak terpisahkan” cara ini adalah strategi kita dalam merawat  dan mengembangkan ilmu itu” tegas Haedar

Beliau juga menegaskan bahwa Islam punya rencana besar dengan menurunkan surat Al-Alaq dan Q.S. Al-Mujadilah ayat 11, ini artinya kata Iqra adalah kunci risalah untuk membangun peradaban. Dan eksistensi manusia secara kolektif sebagai bangsa puncak tertingginya adalah peradaban.

Antara Kebijakan dan Pendidikan Kita

Haedar Nashir menyoroti kepemimpinan Di era Harun Ar Rasyid yang melahirkan intitusi Baitul Hikmah. Intitusi tersebut menjadi pusat kajian dan pusat riset yang justru lebih fokus pada ilmu-ilmu umum, dan pemikir-pemikir besar lahir di era itu.

Beliau merefleksikan Sistem Kurikulum tradisi islam di zaman itu yang melahirkan ilmuan yang beragam dengan mengaitkan kondisi birokrasi kita hari ini sebagai intitusi yang melahirkan kebijakan.

“Reformasi transformasi itu terjadi dalam kebijakan kita”. Tegas Haedar. Ini menandakan bahwa kebijakan menjadi pusat strategis dalam menentukan arah pendidikan. Beliau juga mengutip Perkataan taufik Abdullah bahwa pendidikan bukan saja fokus pada kecerdasan manusianya tetapi juga ekosistem masyarakatnya. Tidak terbatas kognisi ilmu pengetahuan, tapi juga akal budi. Itulah yang disebut dalam islam pembangunan Insan Kamil.

Manusia memiliki ruang tumbuh yang lebih baik. Rezim berganti kebijakan strategis berhenti. Akibatnya tujuan kita tidak pernah sampai. Strategi pendidikan kita hari ini tidak longterm, setiap periode itu terjadi patahan yang tidak menjadi matarantai,  sampai kapan negeri ini bisa mewujudkan pendidikan yang sesuai dengan cita-cita kita ? Tegas Hadar Nashir

Bagikan artikel ini :

Post Comment