Aging Like Vintage Books: Lionel Messi dan Teologi Al-‘Ashr
Setidaknya ada dua cara waktu memperlakukan manusia. Sebagian dibiarkan larut bersama usia hingga perlahan kehilangan daya hidup, seperti daun yang mengering sebelum gugur. Sebagian lainnya menjadikan tahun sebagai ruang pendewasaan, layaknya manuskrip tua yang semakin dihargai karena jejak sejarah, kedalaman makna, dan ketahanan yang dikandungnya. Waktu memang tidak memilih siapa yang akan menjadi rapuh atau bernilai, manusialah yang menentukan berapa usia bekerja di atas dirinya.
Maka, sang legenda Lionel Messi termasuk kelompok kedua. Pada usia ketika banyak pesepak bola mulai mengakhiri karir atau menerima kenyataan bahwa masa terbaik telah berlalu, ia tetap tampil kompetitif di level profesional. Memang, ledakan akselerasinya tidak juga sama seperti satu dekade silam. Namun, ketajaman membaca ruang, presisi dalam mengambil keputusan, kecerdasan mengelola ritme pertandingan, justru menampilkan tingkat kematangan yang semakin layak. Kariernya menawarkan pelajaran bahwa keunggulan adalah akumulasi dari ribuan hari yang diisi dengan latihan, evaluasi, dan kesediaan untuk terus berkembang.
Teologi Al-‘Ashr: Waktu sebagai Amanah Peradaban
Dalam khazanah pemikiran Muhammadiyah, Surah Al-‘Ashr menempati posisi sebagai fondasi etis yang menempatkan waktu sebagai amanah, sekaligus ukuran kualitas kehidupan manusia. Seluruh manusia berada dalam kerugian apabila perjalanan hidup berlalu tanpa diisi oleh iman, amal saleh, komitmen terhadap kebenaran, dan keteguhan dalam kesabaran. Keempat prinsip tersebut membentuk satu kesatuan yang menegaskan bahwa kualitas keberagamaan senantiasa diwujudkan melalui kontribusi nyata bagi kehidupan.
Berangkat dari semangat itu, Muhammadiyah mengembangkan pandangan bahwa setiap fase kehidupan adalah kesempatan untuk menghadirkan kemajuan. Waktu dipandang sebagai modal peradaban yang patut dikelola melalui pengembangan berbagai hal, termasuk kerja-kerja kemanusiaan. Sehingga, keberhasilan seseorang ataupun suatu komunitas diukur dari sejauh mana tiap detik yang dimiliki terus melahirkan kemaslahatan yang senantiasa bertumbuh.
Messi dan Etos Menghargai Waktu
Perspektif tersebut menghadirkan sudut pandang menarik ketika disandingkan dengan perjalanan Lionel Messi. Sebagai atlet, Messi tentu tidak sedang menjalankan proyek teologis. Namun, kedisiplinan telah mewarnai perjalanan kariernya sehingga menghadirkan nilai universal yang selaras dengan pesan Surah Al-‘Ashr, bahwa setiap detik merupakan kesempatan untuk memperbaiki kualitas diri.
Prestasi yang diraihnya tentu tidak lahir dari bakat semata. Di balik delapan Ballon d’Or, trofi Piala Dunia, Copa América, dan berbagai rekor lainnya, terdapat ribuan sesi latihan yang berlangsung tanpa sorotan kamera. Ada proses pemulihan cedera, adaptasi terhadap perubahan taktik, bahkan evaluasi yang dilakukan secara terus-menerus. Seluruh proses tersebut menampilkan penghormatan terhadap waktu sebagai dimensi pertumbuhan.
Dalam salah satu pernyataannya, Messi pernah menyampaikan, “Hari di mana Anda berpikir tidak ada perbaikan yang bisa dilakukan adalah hari yang menyedihkan bagi pemain mana pun.” Kutipan tersebut memantik kesadaran, bahwa prestasi kehilangan maknanya ketika seseorang berhenti belajar. Justru pada saat seseorang merasa telah mencapai puncak, tantangan terbesar sesungguhnya dimulai: menjaga kerendahan hati untuk terus berkembang.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa keberhasilan tidak pernah dipandang sebagai titik akhir. Hidup selalu menawarkan ruang untuk menjadi lebih baik. Cara berpikir demikian memiliki resonansi yang kuat dengan semangat Teologi Al-‘Ashr. Hari-hari yang berlalu menghadirkan pertanyaan yang sama, sejauh mana waktu telah diubah menjadi ikhtiar, pembelajaran, dan manfaat?
Kritik terhadap Budaya Serba Instan
Budaya populer hari ini menghadirkan paradoks. Teknologi memungkinkan seseorang memperoleh popularitas dalam hitungan jam, di sisi lain juga mengikis penghargaan terhadap proses yang panjang. Media sosial membangun ilusi bahwa keberhasilan identik dengan pencapaian instan, sementara perjalanan yang tidak dipublikasikan sering luput dari perhatian. Fenomena tersebut melahirkan generasi yang tergesa-gesa mengejar hasil, hingga enggan menjalani proses yang tengah berjalan. Kesabaran dianggap kuno, konsistensi terasa membosankan, bahkan latihan dipersepsikan sebagai fase yang ingin segera dilalui.
Messi justru tampil ke arah yang berlawanan. Selama lebih dari dua dekade, standar profesionalismenya relatif tidak berubah. Ia terus melakukan latihan, memperbaiki aspek teknis permainan, menjaga kondisi fisik, serta menyesuaikan diri terhadap perubahan sepak bola modern, termasuk dalam ajang Piala Dunia. Rutinitas yang tampak biasa itu akhirnya melahirkan pencapaian yang luar biasa.
Dalam perspektif Teologi Al-‘Ashr, konsistensi semacam ini memiliki dimensi etik yang penting. Yakni, waktu diperoleh melalui kesungguhan. Sehingga, keberhasilan menjadi hasil dari akumulasi ikhtiar yang dilakukan secara berkelanjutan.
Menjadi Vintage, Bukan Usang
Masyarakat modern sering memandang usia sebagai ancaman. Ditambahnya umur diasosiasikan dengan menurunnya produktivitas, melemahnya kemampuan fisik, bahkan berakhirnya relevansi seseorang. Cara pandang tersebut menimbulkan kecemasan kolektif terhadap penuaan. Teologi Al-‘Ashr menawarkan cakrawala yang berbeda. Kehidupan Yakni milai tidak ditentukan oleh lamanya umur, tetapi oleh kualitas pemanfaatannya. Setiap fase kehidupan memiliki peluang untuk melahirkan amal, memperdalam ilmu, memperluas manfaat, hingga memperkaya nikmat.
Messi memberikan ilustrasi yang menarik. Ia memang tidak lagi mengandalkan kekuatan seperti masa mudanya. Namun, pengalaman telah membentuk visi permainan yang lebih tajam, bahkan dengan bertambahnya usia justru memperluas kualitas yang tidak selalu dapat diukur melalui statistik.
Menulis Jejak di Dalam Waktu
Membaca perjalanan Lionel Messi melalui perspektif Teologi Al-‘Ashr tidak lantas menempatkannya sebagai representasi ajaran Islam. Irisan keduanya terletak pada nilai-nilai universal, disiplin, ketekunan, penghormatan terhadap setiap kesempatan, dan kesediaan untuk terus bertumbuh. Spirit tersebut menunjukkan bahwa pencapaian yang bertahan lama lahir dari proses panjang yang dijalani secara konsisten,
Dalam maknanya itulah penuaan seperti buku-buku kuno menemukan relevansinya. Manuskrip kuno memperoleh nilai karena setiap halaman merekam jejak sejarah, pemikiran, dan pengalaman yang melampaui zamannya. Bertambahnya usia menghadirkan kedalaman, sementara setiap fase kehidupan subur hikmah yang diwariskan. Begitu pula seseorang; kematangan sejati terbangun melalui akumulasi pengalaman, perluasan perspektif, serta kontribusi yang terus mengalir bagi lingkungan sekitar.
Pada akhirnya, Teologi Al-‘Ashr memusatkan perhatian pada satu pertanyaan mendasar, apa yang tersisa ketika perjalanan hidup mencapai halaman terakhir? Jawabannya adalah pengaruh yang terus hidup dalam ingatan dan tindakan orang lain. Dalam perspektif itu, perjalanan Lionel Messi menampilkan bahwa disiplin, kerendahan hati, dan kesediaan untuk terus bertumbuh mampu mengubah usia menjadi modal kebijaksanaan. Seperti buku vintage , perjalanan yang dipenuhi makna akan selalu menemukan relevansinya. Karena ketika keajaiban dipaksakan oleh waktu, maka cerita yang akan abadi.
Bagikan artikel ini :



Post Comment