Komika Muhammadiyah dan Wajah Baru Dakwah
Beberapa waktu belakangan sebelum meledak, jagad dunia maya sempat tiba-tiba bergempita menyambut komika baru Muhammadiyah, Choirul Mukmin yang menjuarai Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) 12. Mukmin yang acap mengalungkan sorban di merangkumi bak seorang pendendang kabar gembira di hati penikmat komedi dalam negeri. Pemberitaan pun beranak sungai latar belakang Choirul Mukmin menuju sebagai “santri” Muhammadiyah. Afiliasinya dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta sebagai sumber pengetahuannya membuat Muhammadiyah tertawa ria.
Tentu saja bagi Muhammadiyah, Mukmin merupakan kader atau setidaknya warga yang membuka mata publik akan citra dakwah dari organisasi Islam moderat itu. Tampilnya figur lucu seperti Mukmin seolah sebuah sentilan bahwa dakwah amar ma’ruf nahi munkar tidaklah kaku serupa paku payung di atas seng. Selama ini, dakwah Muhammadiyah acap beroleh cap tak asyik, terlalu serius, lagi duduk di menara gading. Misalnya saja, Mazaya Abdillah Iskandar dalam buku Berislam Ala Gen Z (2026) menyebut jika banyak dai Muhammadiyah bergaya dakwah monoton dan membosankan.
Keberhasilan Choirul Mukmin menyabet gelar gelar SUCI 12 meruntuhkan klaim dan vonis di atas senyata-nyatanya. Dakwah warisan Kiai Muhammad Darwis dan Nyai Siti Walidah nyatanya kini napas punya lucu yang bernas, tak kalah dari ormas lain yang acap menampilkan wajah guyon, asyik, serta penuh riang tawa. Menariknya, Choirul Mukmin bukanlah santri Mbah Ahmad Dahlan satu-satunya yang telah berupaya menampilkan dakwah Muhammadiyah dalam wajah yang lebih berbinar. Sebelumnya, banyak komika berprestasi yang lahir dari rahim organisasi yang berdiri tahun 1912 itu.
Komika Sang Surya yang Mengundang Tawa
Sebut saja nama Abdurrahim Arsyad alias Abdur. Komika kelahiran 6 April 1988 itu merupakan finalis SUCI 4 2014. Abdur juga merupakan seorang kader Muhammadiyah, mengingat ia pernah mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang. Selain Abdur, ada nama Mamat Alkatiri. Pria bernama asli Muhammad Yusram Farid Alkatiri itu memiliki sinar Sang Surya yang ia peroleh dari studinya di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Mamat mencatatkan diri sebagai finalis SUCI 7 2017.
Nama yang tak boleh lewat dari daftar komika berbendera Muhammadiyah ialah Indra Jegel. Komedian kelahiran Medan, 5 November 1989 yang punya nama asli Indra Gunawan ini merupakan juara SUCI 6 2016. Ia mengawali karir pelawaknya sedari kuliah di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Mukmin, Abdur, Mamat, serta Indra Jegel hanyalah sedikit dari representasi dakwah Muhammadiyah dengan wajah yang lebih menggembirakan. Sebetulnya, banyak dai Muhammadiyah lainnnya yang juga tak kalah pecah manakala berdiri di atas mimbar dakwah.
Ketika Mimbar Masih Menjadi One Man Show
Namun, meski sudah punya banyak representasi dakwah lucu di kancah nasional, satu hal yang masih terlewat adalah tentang representasi figur perempuan. Mimbar dakwah, termasuk komedi yang masih dominan menjadi ajang one man show . Padahal, Merujuk pada angka rasio jenis kelamin yang rilis pada laman resmi Badan Statistik Nasional (BPS) tahun 2026, rasio jenis kelamin nasional cenderung hampir berimbang. Artinya, masih ada tantangan bagi komedian perempuan untuk berani membuka mic di hadapan publik.
Komedian perempuan di Indonesia sebetulnya bukan sama sekali tidak ada. Nama-nama seperti Neneng Wulandari, Aci Resti, Kiky Saputri, atau juga Arafah Rianti adalah beberapa dari nama kondang yang sering menghiasi layar televisi nasional. Selain keempatnya, masih ada pula nama-nama lain, seperti Sakdiyah Ma’ruf, Boah Sartika, Sri Rahayu, juga Musdalifah Basri. Hanya saja, nama-nama tadi secara kuantitas maupun influensi masih ketinggalan dari para komika pria yang bahkan sering kehujanan job .
Situasi tersebut menandai bagaimana representasi perempuan di ruang publik belum sepenuhnya terwadahi. Kita perlu bersama-sama mengupayakannya, utamanya demi menjamin resiprokalitas ruang diskursus publik agar tidak jomplang gender dan monopolistik. Kita tentu berharap, bahwa di masa depan, semakin banyak juara serupa SUCI dalam diri seorang perempuan. Tentu, akan lebih istimewa lagi jika kader Muhammadiyah lah sosok perempuan juara tersebut. Sehingga, kembali melahirkan komika Muhammadiyah yang siap berdaya.
Penulis: Khoirul Imamil M
Kamp Penulisan Alumni Majelis Tabligh Gen-Z PP Muhammadiyah 2025
Bagikan artikel ini :



Post Comment