Empathy as a Power, Transformasi Kepemimpin ‘Aisyiyah
Selama ribuan tahun tahun perempuan tidak diberikan akses untuk belajar memimpin, sehingga muncul persepsi dalam masyarakat bahwa mereka “tidak mampu”. Hal ini menciptakan lingkaran setan: perempuan tidak boleh memimpin karena dianggap tidak memiliki kemampuan atau kapasitas yang sama dengan laki-laki. Masyarakat kita sering berujar, perempuan terlalu emosional atau lemah untuk memimpin karena merupakan makhluk yang lebih mengedepankan perasaan dibandingkan logika. Menurut mereka, ketika perempuan dibiarkan memimpin, maka dapat menimbulkan kekacauan, terkhusus dalam hal pengambilan keputusan.
Dalam konstruksi berpikir seperti ini, perempuan kerap ditempatkan di barisan belakang, sehingga ruang-ruang rapat besar, kursi parlemen, hingga pimpinan kekuasaan tertinggi dalam sebuah institusi sering kali didominasi oleh laki-laki. Padahal, perempuan yang mengedepankan perasaan bukan berarti tidak bisa memimpin, justru hal tersebut merupakan kekuatan tersendiri bagi mereka. Menghadirkan perasaan dalam kepemimpinan tidak membuat keputusan menjadi tidak logis, melainkan menjadikannya lebih bijaksana.
Emphaty as a Power
Sifat memperhatikan perasaan sering kali berarti empati. Menempatkan empati sebagai pilar utama kepemimpinan bukanlah tanda kelemahan. Sebaliknya, empati adalah kekuatan yang dapat mengubah cara kerja organisasi. Pemimpin perempuan memiliki keunggulan alami dalam membangun hubungan yang erat, bukan hanya menuntut kepatuhan. Mereka memimpin dengan cara mendengarkan secara mendalam, peka terhadap situasi tim, dan mampu menciptakan lingkungan kerja yang aman dan nyaman. Dalam dunia yang penuh konflik, empati adalah kompas terbaik untuk menghasilkan kebijakan yang adil, merangkul, dan memuliakan manusia.
Ketika rasa takut disingkirkan dari budaya organisasi, kreativitas dan loyalitas para anggota akan meningkat secara alami. Ini merupakan esensi dari transformational leadership, yaitu gaya memimpin yang mengutamakan hubungan kemanusiaan, saling menghargai, memperhatikan bawahan, dan menginspirasi serta memberdayakan, bukan mengintimidasi, menghasilkan organisasi yang lebih merangkul.
‘Aisyiyah: Empati yang Menjadi Gerakan Sosial
Jika kita mencari bukti empiris bagaimana empati ini bekerja dalam skala masif dan melintasi zaman, kita tidak perlu menengok jauh sampai ke luar negeri. Di Indonesia sendiri, ‘Aisyiyah (organisasi perempuan Islam tertua di Indonesia) telah mempraktekkan konsep ini sejak tahun 1917. Lahir di bawah bimbingan Nyai Ahmad Dahlan, ‘Aisyiyah hadir sebagai sebuah manifestasi hidup bahwa empati perempuan, jika dikelola dengan manajemen yang tepat dan landasan iman yang kuat, dapat menjadi kekuatan utama yang memajukan peradaban. Kekuatan utama Aisyiyah berada pada empati yang mendalam terhadap kondisi sosial perempuan di masanya. Bagi perempuan-perempuan berkemajuan di ‘Aisyiyah, empati tidak hanya berhenti sebagai rasa iba atau air mata kesedihan di ruang domestik saja. Mereka mentransformasikan rasa peka itu menjadi kerja nyata (amal saleh).
Kepedulian Yang Menjadi Institusi Peradaban
Ketika para pemimpin ‘Aisyiyah melihat tingginya angka kematian ibu dan anak serta minimnya akses kesehatan pada masa kolonial, empati mereka melahirkan Rumah Bersalin Ibu dan Anak, yang kini telah meluas menjadi ratusan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah-‘Aisyiyah di seluruh penjuru negeri. Ketika mereka melihat anak-anak terlantar tanpa pendidikan, empati tersebut terwujud dalam ribuan Taman Kanak-Kanak Bustanul Athfal (TK ABA).
Hal tersebut merupakan bukti nyata bahwa kepemimpinan berbasis empati memiliki kekuatan yang luar biasa. Ketegasan pemimpin perempuan ‘Aisyiyah diukur dari konsistensi mereka selama lebih dari satu abad dalam merawat umat, mendidik bangsa, dan membela kaum mustad’afin (mereka yang lemah dan tertindas). Mereka memimpin dari bawah, mendengar jeritan akar rumput, dan merumuskan solusi yang inklusif serta memuliakan manusia.
Mendorong kepemimpinan perempuan yang empatik seperti ini sama sekali tidak bertujuan untuk mengurangi peran pemimpin laki-laki. Hal ini merupakan ikhtiar untuk menghadirkan keseimbangan perspektif. Pengalaman hidup perempuan memberikan sudut pandang yang berbeda, kaya, bahkan sesuai dengan isu-isu krusial. Diantaranya kesejahteraan keluarga, perlindungan anak, dan keadilan sosial. Menolak kepemimpinan perempuan dalam ruang publik sama saja dengan membiarkan peradaban ini berjalan dengan satu mata tertutup dan satu tangan terikat.
Belajar dari Gaya Kepemimpinan ‘Aisyiyah
Pada akhirnya, ‘Aisyiyah telah memberikan teladan yang berharga bagi dunia, bahwa kepemimpinan yang kuat adalah kepemimpinan yang dipimpin oleh hati yang berempati, dijalankan oleh akal yang berkemajuan, dan diwujudkan melalui tangan-tangan yang siap mengabdi. Sudah saatnya kita berhenti memperdebatkan kapasitas perempuan. Ketika kita memberikan ruang bagi perempuan untuk memimpin dengan kekuatan empatinya, kita tidak sekadar membantu perempuan, kita juga menciptakan ruang yang lebih inklusif, adil, dan manusiawi untuk ditinggali oleh semua orang.
Penulis: Tiara Aisyah
Bagikan artikel ini :



Post Comment