Loading Now

Buya Syafii Maarif, Feminisme yang Lahir dari Kesalehan

Buya Syafii Maarif, Feminisme yang Lahir dari Kesalehan

Ada satu hal menarik yang luput dari perhatian ketika membicarakan Ahmad Syafii Maarif,  Guru Bangsa yang berpulang pada 27 Mei 2022 itu. Publik lebih hafal Buya Syafii sebagai sejarawan kritis, pemikir kebangsaan, bahkan Ketua Umum Muhammadiyah dua periode. Akan tetapi, jarang yang menyoroti bahwa lelaki kelahiran Sumatera Barat ini juga meninggalkan jejak pemikiran yang p tegas mengenai kesetaraan perempuan. Isu yang ironisnya, Buya sendiri akui tidak banyak ia tulis secara khusus, tetapi ia hidupi secara konsisten.

Feminis yang Tak Suka Label

Kendati demikian, sejumlah tokoh perempuan lintas latar belakang justru berlomba-lomba menahbiskan Buya Syafii sebagai “feminis Muslim Indonesia”. Salah satu ulasan Kompas, menilai bahwa pemikiran Buya Syafii tentang kesetaraan gender dalam Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan, jernih juga menyejukkan bagi gerakan feminis Muslim Indonesia. Dalam buku itu, Buya bahkan menyebut perlakuan berabad-abad terhadap perempuan dalam komunitas Muslim sebagai semacam “kecelakaan sejarah”. Ini menjadi sebuah pernyataan yang cukup berani untuk seorang tokoh yang dibesarkan dalam tradisi pesantren dan organisasi Islam modernis.

Magisnya lagi,  dari cara Buya membangun argumennya ialah tiak mengambil jalan pintas dengan meminjam kerangka feminisme Barat mentah-mentah. Ia justru menggali argumen kesetaraan dari sumber yang paling sulit dibantah oleh kalangan konservatif, teks Al-Quran itu sendiri. Dalam pandangan Buya, perempuan memiliki kemerdekaan mutlak untuk meraih hal-hal setara dengan laki-laki di ruang publik. Sebagaimana dalam sumbernya, prinsip kesetaraan gender justru mendapat legitimasinya dari Al-Quran. Dengan demikian, kesetaraan gender berdiri sebagai nilai yang dapat ditemukan melalui pembacaan kritis terhadap sumber keagamaan itu sendiri.

Hal ini memperlihatkan strategi argumentasi Buya yang khas, kritik terhadap ketimpangan gender dibangun dari dalam bangunan teologi, bukan seperti kebanyakan pemikir yang entah dari mana asalnya. Lebih mudah menempatkan feminisme sebagai gagasan yang berhadapan dengan Islam. Strategi ini barangkali menjadi salah satu warisan metodologis Buya yang paling relevan bagi perkembangan diskursus Islam dan feminisme di Indonesia. Khususnya, karena Buya menunjukkan bahwa perjuangan kesetaraan dapat memperoleh pijakan yang kuat dari khazanah keislaman sendiri.

Wacana yang Menjadi Sikap Hidup

Salah satu hal yang membuat pemikiran Buya soal kesetaraan perempuan terasa otentik, ialah karena Buya menwujudukannya dalam pilihan hidup pribadi. Tokoh feminis Muslim Prof. Musdah Mulia pernah mengungkapkan penilaiannya yang jujur. Bagi Musdah cukup dua hal saja sebagai bukti, Buya tidak berpoligami dan tidak pernah melakukan tindakan yang bisa dikategorikan sebagai kekerasan terhadap perempuan, baik di ranah domestik maupun publik. Maka tak ayal bila Buya masyhur dengan cara pandang yang konsistensi antara ucapan maupun laku.

Sikapnya menolak poligami, misalnya, mungkin saja dipandang sebagai pilihan personal biasa. Namun, jika ditempatkan dalam konteks Buya sebagai tokoh Muhammadiyah dengan panggung besar untuk membenarkan praktik tersebut. Pilihan itu, seandainya memang dikehendakinya, memperoleh makna yang jauh lebih substantif. Cara hidup Buya dapat dibaca sebagai pernyataan etis bahwa keadilan yang diperjuangkannya dalam wacana keagamaan semestinya tercermin pula dalam relasi personal dan kehidupan sehari-hari.

Buya Syafii Maarif dan Malala

Salah satu tulisan Buya yang sering dikutip adalah opininya di Republika pada 2017 berjudul “Malala: Oase di Bumi yang Tandus”. Pilihan Buya untuk menulis Malala, merupakan representasi dari komitmen yang teguh pada nilai kemanusiaan, dukungan akses pendidikan bagi semua, serta penolakannya terhadap ketimpangan gender, dan ekstremisme atas nama agama.

Ada prinsip yang konsisten Buya tulis  perdamaian tidak mungkin terwujud tanpa keadilan sosial, dan keadilan sosial itu mustahil hadir tanpa mengikutsertakan keadilan gender di dalamnya. Bagi Buya, isu perempuan ialah satu kesatuan dari bentuk kemanusiaan. Perspektif Buya telah memperluas makna kesetaraan gender, dari “isu sektoral” menjadi bagian dari agenda kemanusiaan yang relevan bagi kehidupan bersama.

Warisan yang Perlu Dilanjutkan

Ketika Buya wafat, banyak pihak sepakat bahwa keberpihakannya pada kesetaraan gender tidak perlu diragukan. Sylvana Maria Apituley misalnya, menyebut Buya sebagai tokoh yang mendukung perempuan menjadi pemimpin. Serta menilai Buya sebagai tokoh yang mendukung bahwa laki-laki harus hadir dalam perjuangan kesetaraan gender. Termasuk dalam upaya menghapus perkawinan anak dan memastikan keterlibatan perempuan dalam pengambilan kebijakan.

Namun barangkali cara paling adil memperlakukan warisan Buya bukanlah dengan memujanya sebagai feminis paripurna yang sudah menuntaskan semua pekerjaan rumah soal kesetaraan gender. Buya memang relatif sedikit menulis tentang perempuan dan keterbatasan ini kerap menjadi sasaran kritik terhadap pemikirannya. Kritik tersebut mendorong Buya menambahkan satu bab khusus mengenai perempuan pada edisi revisi, Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan yang terbit 2015 silam.

Kesadaran akan keterbatasan itulah yang membuat pemikiran Buya layak dibaca secara utuh. Buya memang belum menjangkau seluruh perdebatan tentang kesetaraan gender dalam Islam, tetapi telah meninggalkan fondasi penting melalui keselarasan antara gagasan dan laku. Serta keberaniannya membuka ruang pembacaan teologis yang lebih adil terhadap perempuan. Warisan tersebut memberi generasi berikutnya titik pijak untuk memperluas percakapan maupun menguji kembali batas-batas yang ada. Pada akhirnya, penghormatan paling bermakna terhadap warisan Buya adalah keberanian untuk meneruskannya hingga ke wilayah yang belum sempat ia datangi. Sebab, pemikiran yang benar-benar hidup selalu menemukan generasi yang bersedia melanjutkan jalannya.

Bagikan artikel ini :

Post Comment