Loading Now

Masih Pentingkah Filsafat?

Relevansi filsafat di era modern bagi mahasiswa

Pentingnya Filsafat di Era Modern: Masih Relevankah?

Di tengah kemajuan teknologi dan pembangunan yang masif, pertanyaan tentang pentingnya filsafat kembali mengemuka. Apakah filsafat masih relevan di era modern? Ataukah ia hanya warisan pemikiran masa lalu yang tidak lagi dibutuhkan oleh masyarakat yang serba praktis dan instan?

Tulisan ini merupakan materi yang penulis sampaikan pada Diskusi Series 2 Sekolah Pemikiran Islam PK IMM FAI UMY. Tulisan ini ditujukan untuk menumbuhkan keinginan mahasiswa menyelami dunia kefilsafatan di masa kini, khususnya mahasiswa yang tergabung dalam organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang berbasis ideologi.

Selain itu, tulisan ini perlu dimaknai secara objektif. Penulis pun memiliki keterbatasan dalam dunia kefilsafatan. Maka sangat mungkin terdapat kekurangan dalam pemaparan ini. Namun demikian, yang menjadi poin penting adalah tanggung jawab kolektif kita untuk terus membangun kesadaran berpikir melalui dialog dan diskusi.


Relevansi Filsafat di Era Modern

Hari ini kita hidup di zaman modern yang penuh kemajuan. Pembangunan infrastruktur berlangsung cepat. Perkembangan ekonomi semakin dinamis. Teknologi mutakhir hadir dalam genggaman. Banyak hal yang dahulu tak pernah kita bayangkan kini menjadi kenyataan.

Namun, masa modern ini perlu dipertanyakan kembali. Apakah benar kita hidup dalam zaman yang benar-benar maju? Ataukah justru kita sedang mengalami kemunduran dalam cara berpikir dan menyikapi realitas?

Pembangunan infrastruktur misalnya, tidakkah kita melihat begitu banyak proyek kontroversial? Tidakkah kita menyaksikan masyarakat yang kehilangan rumah karena tergusur? Tanah-tanah yang terpaksa dijual murah demi pembangunan tol? Bahkan orang-orang yang menolak pembangunan lalu mengalami tragedi atau hilang tanpa kabar?

Kemajuan yang kita rayakan sering kali menyimpan persoalan yang tidak sederhana. Di sinilah pentingnya filsafat: bukan untuk menolak kemajuan, tetapi untuk menguji, mempertanyakan, dan membaca realitas secara kritis, radikal, dan komprehensif.

Filsafat tidak pernah menjadi kuno. Selama manusia masih menghadapi ketidakadilan, ketimpangan, dan manipulasi narasi kemajuan, selama itu pula filsafat tetap relevan.

baca juga pembahasan tentang filsafat stoisisme


Apa Itu Filsafat?

Secara konseptual, filsafat sering disebut sebagai Mother of Science (induk ilmu pengetahuan). Filsafat membahas tiga pokok utama:

  1. Ontologi, yaitu ilmu tentang hakikat sesuatu.

  2. Epistemologi, yaitu ilmu tentang sumber dan cara memperoleh pengetahuan.

  3. Aksiologi, yaitu ilmu tentang nilai dan kegunaan pengetahuan.

Secara etimologis, filsafat berasal dari bahasa Yunani: philo (cinta) dan sophia (kebijaksanaan). Maka secara sederhana, filsafat dapat dimaknai sebagai mencintai kebijaksanaan. Dalam pengertian yang lebih mendalam, filsafat adalah aktivitas mencari kebijaksanaan dalam memandang realitas kehidupan.

Dalam terminologi Islam, kita mengenal istilah batil (kesalahan, kemungkaran) dan zalim (menindas, meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya). Upaya mencari kebijaksanaan dalam filsafat dapat dipahami sebagai upaya meninggalkan kebatilan dan kezaliman. Sedangkan kebenaran (al-haq) lahir dari sikap bijaksana dalam memahami realitas.

Dengan demikian, filsafat adalah aktivitas berpikir yang melibatkan anugerah terbesar yang Allah SWT berikan kepada manusia, yaitu akal. Ketika akal digunakan secara serius dan mendalam, lahirlah upaya untuk memahami kehidupan secara lebih utuh.


Filsafat dan Watak Instan Manusia Modern

Sayangnya, aktivitas berpikir mendalam tidak selalu diminati manusia modern. Kecanggihan teknologi dan kemajuan zaman justru membentuk watak praktis dan instan. Banyak orang lebih memilih menerima informasi apa adanya tanpa pertimbangan rasional yang matang.

Akibatnya, daya kritis melemah. Narasi besar tentang kemajuan diterima tanpa diuji. Informasi viral dipercaya tanpa diverifikasi.

Padahal, fungsi filsafat bukan hanya melahirkan kebijaksanaan dalam menghadapi hidup. Dalam kerangka metodenya, filsafat mampu menjadi pisau analisis untuk membongkar fenomena sosial. Ia membentuk kerangka berpikir kritis dalam mengatasi problematika masyarakat.


Filsafat Mengatasi Problematika Masyarakat?

Sebagaimana telah dijelaskan, filsafat adalah aktivitas berpikir yang mampu membongkar realitas. Filsafat membantu membentuk kerangka berpikir yang utuh dan tidak parsial.

Memang, filsafat sangat mengutamakan fungsi akal. Tidak jarang muncul anggapan bahwa filsafat mengingkari wahyu. Namun apakah itu menjadi alasan untuk takut mempelajarinya? Tentu tidak.

Dalam agama, filsafat justru dapat digunakan sebagai kerangka berpikir untuk membaca realitas masyarakat secara lebih rasional dan humanis. Ini bukan berarti meninggalkan tafsir, melainkan memperkaya perspektif dalam memahami ajaran agama.

Setidaknya, filsafat mampu menjadi alat uji secara rasional terhadap praktik-praktik sosial dan keagamaan. Meski demikian, kita juga sadar bahwa tidak semua ajaran agama dapat dirasionalkan sepenuhnya.

Di tengah kompleksitas persoalan masyarakat modern, seorang muslim sebagai khalifah fil ardh memiliki tanggung jawab untuk berpikir kritis. Terlebih lagi bagi mahasiswa yang tergabung dalam organisasi berbasis ideologi seperti IMM.

Filsafat dapat menjadi pisau analisis untuk menerjemahkan ideologi agar mampu menjawab persoalan nyata di masyarakat. Seperti halnya pisau, filsafat bisa digunakan untuk kebaikan maupun keburukan. Namun sungguh tidak elok jika ilmu dipelajari hanya untuk memuaskan nafsu pribadi semata.

Baca juga tentang pemikiran Ibnu Rusyd dalam tradisi filsafat Islam


Penutup: Mengapa Filsafat Tetap Dibutuhkan

Pentingnya filsafat di era modern bukan sekadar wacana akademik. Ia adalah kebutuhan mendasar dalam menghadapi realitas yang semakin kompleks.

Filsafat membantu kita berpikir sebelum bereaksi.
>Filsafat mengajarkan kita mempertanyakan sebelum mempercayai.
>Filsafat membentuk kesadaran kritis dalam membaca kekuasaan, pembangunan, dan dinamika sosial.

Selama manusia masih memiliki akal, selama keadilan masih diperjuangkan, dan selama kebenaran masih perlu ditegakkan, filsafat tidak akan pernah kehilangan relevansinya.

_____

Ramadhanur Putra, Anggota Bidang RPK PK IMM FAI UMY, Alumni Sekolah Pemikiran Islam 2021, Anggota Komunal Yogyakarta

Bagikan artikel ini :

Post Comment