Ramadhan, Momen Memetakan Kekuatan Nafsu
Nafsu di bulan Ramadhan menjadi refleksi penting setiap kali puasa tiba. Rasulullah SAW bersabda :
“Apabila Ramadhan datang, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.”
Sebagian memahami hadis ini secara lahiriah, bahwa memang benar-benar terjadi pembelengguan setan. Sebagian lain memahaminya sebagai kiasan, bahwa pada bulan Ramadhan suasana spiritual memudahkan manusia untuk beribadah dan taat kepada Allah SWT.
Terlepas dari perbedaan sudut pandang tersebut, ada satu ungkapan yang menarik untuk direnungkan lebih dalam: setan-setan dibelenggu.
Nafsu di Bulan Ramadhan dan Peran Setan
Dalam menjalani hidup, ada dua penghalang utama yang menjauhkan manusia dari ketaatan: setan dan nafsu. Keduanya Allah SWT ciptakan sebagai ujian.
Al-Qur’an berkali-kali memperingatkan agar kita tidak mengikuti langkah-langkah setan dan menjadikannya sebagai musuh yang nyata. Namun selain setan, dalam diri manusia sendiri terdapat nafsu yang memiliki dua potensi: fujur (keburukan) dan takwa (ketaatan). Bahkan disebutkan bahwa nafsu itu cenderung mendorong kepada keburukan (ammaratun bissu’).
Di luar bulan Ramadhan, setan dan nafsu seolah bekerja sama. Kadang setan memulai godaan, lalu nafsu mengikuti. Di lain waktu, nafsu yang memulai, kemudian setan menyemangati. Tidak heran jika menjalankan ibadah terasa berat.
Salat sunah rawatib memerlukan tekad kuat agar istiqamah. Membaca Al-Qur’an satu halaman saja terasa panjang. Berinfak sering kali membuat kita berpikir berulang-ulang.
Ramadhan dan Perubahan Energi Spiritual
Namun ketika Ramadhan tiba, suasana terasa berbeda. Ibadah wajib tidak hanya dikerjakan, tetapi juga ditambah dengan yang sunah. Salat tarawih, tahajud, tilawah satu juz sehari, hingga infak menjadi aktivitas yang terasa ringan.
Rasanya sabda Nabi SAW tentang pembelengguan setan benar-benar terjadi. Halangan untuk beribadah terasa berkurang. Ketaatan menjadi lebih mudah.
Namun muncul pertanyaan: jika setan dibelenggu, mengapa masih ada dorongan untuk bermaksiat?
Di sinilah kita memahami bahwa kekuatan nafsu di bulan Ramadhan masih tetap ada. Artinya, ketika dorongan maksiat muncul, kita tidak bisa serta-merta menyalahkan setan. Justru nafsu kitalah yang harus dievaluasi.
Baca juga : Keberkahan di Bulan Ramadhan
Mengendalikan Nafsu di Bulan Ramadhan Melalui Puasa
Bulan Ramadhan sejatinya adalah momentum satu lawan satu antara manusia dan nafsunya. Tanpa gangguan setan yang dominan, kita bisa lebih jernih memetakan kekuatan nafsu kita sendiri.
Apakah kita mampu mengendalikannya?
Ataukah justru kita yang dikuasai olehnya?
Puasa adalah salah satu cara paling efektif untuk melemahkan nafsu. Rasulullah SAW menganjurkan para pemuda yang belum mampu menikah agar memperbanyak puasa. Ini menunjukkan bahwa puasa memiliki efek langsung dalam pengendalian diri.
Dengan berpuasa, keinginan-keinginan jasmani dilatih untuk tunduk. Nafsu yang biasanya liar, perlahan dilemahkan.
Mengawal Nafsu Setelah Ramadhan
Jika selama Ramadhan kita berhasil mengendalikan nafsu, maka insya Allah bulan-bulan berikutnya akan terasa lebih ringan. Namun nafsu bisa kembali liar jika tidak terus diawasi.
Karena itu, puasa sunah menjadi latihan lanjutan: puasa enam hari di bulan Syawal, puasa Senin-Kamis, puasa ayyamul bidh, puasa Arafah, Asyura, dan lainnya.
Mengawal nafsu adalah keniscayaan. Jika tidak, kita yang akan dikuasainya.
Nabi SAW pernah bersabda sepulang dari perang:
“Kita baru saja pulang dari jihad kecil menuju jihad yang besar.”
Yaitu jihadunnafsi, jihad melawan nafsu.
Jika Ramadhan mampu kita jadikan sebagai momen memetakan kekuatan nafsu, maka semoga kita lebih siap mengawalnya sepanjang tahun. Wallahu a’lam.
Baca juga : Kebahagiaan di Bulan Ramadhan
_____
Muhammad Ali Imran, Kandidat Doktor di Kolej Universiti Islam Antarabangsa Selangor (KUIS), Malaysia
Bagikan artikel ini :



Post Comment