PUASA YANG SESUNGGUHNYA
Umat Islam di seluruh dunia diwajibkan berpuasa sebulan penuh. Banyak orang memahami bahwa puasa adalah aktivitas ibadah untuk memenuhi perintah Allah agar mendapatkan pahala dan balasan di akhirat kelak. Pemahaman seperti itu tentu tidak keliru.
Selain itu, puasa juga dimaknai sebagai upaya meninggalkan makan, minum, dan hubungan suami-istri di siang hari. Lagi-lagi, pemahaman ini juga tidak salah, karena berpuasa memang meninggalkan kegiatan-kegiatan tersebut.
Namun, puasa di bulan Ramadan memiliki makna yang lebih luas dan lebih mendalam. Puasa dan juga kegiatan ritual lainnya sejatinya adalah ikhtiar untuk meraih kemenangan dalam pergumulan antara dua kekuatan yang ada pada diri sendiri: keimanan dan kekafiran (QS At-Taghabun: 2).
Puasa yang sesungguhnya: apa yang “dipuasakan”?
Selama satu bulan penuh di bulan Ramadan, mukmin diwajibkan mempusasakan hawa nafsu, dunia, dan setan yang ada pada dirinya. Dalam pemahaman seperti ini, maka yang berpuasa adalah iman. Sementara itu, yang dipuasakan adalah sifat-sifat manusia yang merupakan sifat bawaan sebagai keturunan Adam.
Sebaliknya, pada bulan Ramadan, yang dikukuhkan adalah kekuatan iman sebagai turunan Muhammad, yakni sifat siddiq, amanah, tabligh, dan fathanah.
Secara syariat, puasa dilakukan dengan cara meninggalkan makan, minum, hubungan suami-istri, dan hal-hal lain yang membatalkan puasa. Namun itu baru syariatnya.
Lebih dari itu, yang harus diraih adalah hakikat puasa, yaitu menahan hawa nafsu, dunia, dan setan, sebagaimana disebut di muka.
Dari syariat menuju hakikat
Meraih hakikat puasa sedemikian penting agar mukmin benar-benar mendapatkan manfaat yang sebenarnya dari puasanya. Jika tidak demikian, puasa yang dijalankan hanya akan menghasilkan lapar dan dahaga.
Nabi Muhammad menyebutkan bahwa sedemikian banyak orang berpuasa tetapi tidak memperoleh apa-apa dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga. Artinya, puasa tidak sekadar meninggalkan makan, minum, dan hubungan suami-istri di siang hari.
Ramadan sebagai kemenangan: siapa yang menang?
Di akhir bulan Ramadan, sering disebut bahwa orang yang berpuasa meraih kemenangan. Pertanyaannya: siapa yang menang, dan menang atas siapa?
Tentu yang menang adalah keimanan yang ada pada dirinya. Ia berhasil merawat dan menjaga sifat-sifat turunan Rasulullah Muhammad: siddiq, amanah, tabligh, dan fathanah.
Sebaliknya, selama sebulan penuh ia berhasil membelenggu sifat-sifat turunan Adam: hawa nafsu, dunia, dan setan. Karena itu pula sering terdengar bahwa pada bulan Ramadan setan dibelenggu—yakni setan yang ada pada diri orang yang sedang berpuasa itu seharusnya dibelenggu oleh dirinya sendiri.
Jika puasa yang demikian bisa dilakukan, mukmin akan memperoleh kemenangan. Artinya, keimanannya mampu mengalahkan kekafiran yang ada pada dirinya sendiri. Itulah yang disebut bertakwa: dalam hidupnya mengikuti Rasulullah, dan buahnya disayang oleh Allah SWT.
Itulah mukmin yang disebut telah memperoleh berkah dari ibadah puasanya.
Wallahu a’lam.
_____
Imam Suprayogo, Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Periode 1997-2013
Bagikan artikel ini :



Post Comment