Launching dan Bedah Buku “Berdiang di Perapian Buya Syafii”
Rabu, 5 Januari 2022, PC IMM AR Fakhrudin bekerja sama dengan MAARIF Institute menyelenggarakan kegiatan Launching dan Bedah Buku “Berdiang di Perapian Buya Syafii”. Acara ini berlangsung secara hybrid, yaitu online melalui Zoom Meeting dan offline di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).
Kegiatan tersebut bertujuan untuk mengulas lebih jauh buku karya Riki Dhamparan Putra yang mengangkat pemikiran Buya Syafii Maarif dari sudut pandang kultural dan sastra.
Narasumber dalam Bedah Buku Berdiang di Perapian Buya Syafii
Berbagai narasumber dihadirkan dalam acara bedah buku ini, antara lain:
-
Abdul Rohim Gazali (Direktur Eksekutif MAARIF Institute)
-
Moh. Shofan, MA. (Direktur Program MAARIF Institute)
-
Raudal Tanjung Banua (Sastrawan Yogyakarta)
-
Faris Al-Fadhat, S.IP., MA., Ph.D. (Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan AIK UMY)
Acara ini juga dihadiri secara daring oleh Buya Syafii Maarif.
Dalam sambutannya, Abdul Rohim Gazali menyampaikan bahwa banyak tulisan—baik skripsi, tesis, disertasi, maupun buku—yang mengulas pemikiran Buya Syafii. Hal ini menunjukkan bahwa pemikiran Buya bersifat terbuka dan dapat dikaji maupun dikritisi oleh siapa saja.
Buya Syafii sendiri berpesan bahwa saat ini adalah momentum bagi anak muda untuk tampil. Ia menyampaikan kebanggaannya kepada Riki atas terbitnya buku tersebut.
Pendekatan Budaya dalam Buku Berdiang di Perapian Buya Syafii
Faris Al-Fadhat menyambut baik terselenggaranya bedah buku di lingkungan kampus UMY. Menurutnya, diskusi buku membuka cara pandang yang lebih luas dan berkelanjutan dibanding diskusi berbasis isu-isu sesaat.
Salah satu aspek utama yang disoroti adalah pendekatan budaya yang digunakan Riki dalam mengulas pemikiran Buya Syafii. Keunggulan buku ini, menurut Faris, antara lain:
-
Interpretasi bebas dan dapat dibaca dari bagian mana saja
-
Mudah dipahami oleh pembaca awam
-
Kaya diksi sastra yang indah
Raudal Tanjung Banua menambahkan bahwa pendekatan sastrawan sering kali mengambil gagasan organik-kultural, sebagaimana yang dilakukan Riki dalam buku ini.
Makna Simbolik “Perapian” dalam Perspektif Minangkabau
Secara harfiah, perapian berarti api dalam tungku, sedangkan berdiang adalah menghangatkan diri pada perapian. Namun secara simbolik, perapian memiliki makna filosofis yang lebih luas.
Dalam masyarakat Minangkabau dikenal konsep tungku-tigo-sajarangan, yang melambangkan tiga unsur utama: alim-ulama, ninik-mamak, dan cerdik-pandai. Ketiganya saling menopang dan menjaga keseimbangan.
Menurut Riki, jika dianalogikan dengan Buya Syafii, tiga unsur tersebut selalu melibatkan tiga kunci utama: Islam, Muhammadiyah, dan Keindonesiaan.
Struktur dan Isi Buku
Buku “Berdiang di Perapian Buya Syafii” memuat 28 esai yang terbagi dalam tiga bagian:
-
Bagian pertama: 12 esai tentang isu nasional, regional, dan internasional
-
Bagian kedua: 11 esai tentang isu-isu Minangkabau mutakhir
-
Bagian ketiga: 5 esai yang mengulas Covid-19
Selain esai, buku ini juga memuat puisi-puisi karya Riki, termasuk puisi pembuka berjudul “Hotspot Buya Syafii”.
Antusiasme Peserta dan Pesan Penutup
Meskipun berlangsung secara hybrid, peserta menunjukkan antusiasme tinggi. Hal ini terlihat dari sesi tanya jawab yang interaktif antara peserta, pembedah, dan penulis.
Sebagai penutup, Riki menyampaikan kekagumannya terhadap Mars IMM yang dinyanyikan saat pembukaan acara. Ia menyoroti kalimat “sejarah telah menuntut bukti” sebagai landasan perjuangan sekaligus auto kritik bagi kader IMM agar terus bergerak sembari membenahi diri.
(Ichsanul Rizal Husen)
Bagikan artikel ini :



Post Comment