Mabadi’ ‘Asyarah Ilmu Filsafat Intelijen
Filsafat Intelijen merupakan disiplin yang menggabungkan pemikiran filsafat dengan strategi dan praktik intelijen. Untuk memahami disiplin ini secara sistematis, pendekatan Mabadi’ ‘Asyarah dapat digunakan sebagai kerangka pengenalan dasar sebelum mendalami suatu ilmu.
Mabadi’ ‘Asyarah adalah sepuluh komponen yang menjelaskan suatu ilmu sebelum dipelajari lebih jauh. Istilah ini sangat dikenal di kalangan santri sebagai metode pengantar dalam memahami struktur keilmuan secara menyeluruh.
Sepuluh komponen tersebut meliputi: definisi, nama lain, penggagas, objek pembahasan, hukum mempelajari, manfaat, sumber kajian, permasalahan terkait, ilmu pendukung, serta keutamaan ilmu tersebut.
Pengertian dan Ruang Lingkupnya
Ilmu ini bekerja di ranah intelijen dengan tujuan membangun kreativitas intelektual agar mampu memilih strategi paling tepat di antara berbagai alternatif dalam menjalankan fungsi utama intelijen.
Nama lain dari disiplin ini adalah Filsafat Strategi Intelijen, karena berkaitan erat dengan perencanaan dan pengambilan keputusan dalam aktivitas intelijen.
Penyusunannya bertujuan tidak hanya untuk mengembangkan daya analisis, tetapi juga melakukan kritik intelektual terhadap aktivitas penyelidikan, pengamanan, dan penggalangan yang rawan penyimpangan pemikiran maupun politisasi kepentingan.
Penggagas dan Latar Belakang Keilmuan
Penggagas disiplin ini adalah Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. Abdullah Mahmud Hendropriyono, Kepala Badan Intelijen Negara pada tahun 2001–2004 sekaligus pendiri Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN).
Dalam karyanya berjudul Filsafat Intelijen, beliau menjelaskan bahwa penyusunan disiplin ini menggabungkan tiga ilmu pokok:
-
Ilmu hukum
-
Ilmu filsafat
-
Ilmu intelijen
Ketiganya dipadukan menjadi satu disiplin tersendiri yang bertujuan memperkuat kualitas analisis strategis dalam dunia intelijen.
Objek dan Hukum Mempelajarinya
Objek pembahasan dalam kajian ini adalah perkembangan kondisi umat manusia, baik pada tingkat lokal, nasional, regional, maupun internasional, serta aktivitas intelijen beserta kualitasnya.
Hukum mempelajarinya bagi aparat keamanan bersifat wajib karena berkaitan langsung dengan tugas menjaga stabilitas dan keamanan negara. Bagi masyarakat umum, mempelajarinya juga penting meskipun tidak secara mendalam seperti aparat profesional.
Manfaat dan Sumber Kajian
Manfaat mempelajari bidang ini antara lain:
-
Mencegah terjadinya ancaman terhadap negara
-
Melakukan tindakan pre-emptive
-
Menghindari infiltrasi ideologi
-
Memperoleh informasi strategis secara akurat
Sumber kajiannya adalah perkembangan kondisi masyarakat beserta ATHG (ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan) terhadap ketahanan dan keamanan negara serta ketenteraman rakyat.
Permasalahan yang dibahas sangat berkaitan dengan:
-
Keamanan (kriminalitas, separatisme, terorisme)
-
Pertahanan dan militer
-
Politik dan ekonomi
-
Sosial budaya dan agama
-
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
Ilmu Pendukung dalam Pendalaman Kajian
Untuk mendalami bidang ini secara komprehensif, diperlukan pemahaman atas tiga ilmu pokok: hukum, filsafat, dan intelijen.
Selain itu, diperlukan pula ilmu pendukung seperti militer, politik, ekonomi, sosiologi, logika, komunikasi, bahkan kedokteran dan teknologi sesuai dengan permasalahan yang dihadapi.
Hal ini menunjukkan bahwa disiplin ini bersifat multidisipliner dan dinamis mengikuti perkembangan zaman.
Keutamaan dan Relevansi di Era Digital
Kajian ini memiliki keutamaan karena membangun kesadaran dan kewaspadaan masyarakat terhadap berbagai bentuk ancaman, baik fisik maupun non-fisik.
Pada era kecerdasan buatan dan perang informasi, kegagalan logika (logical fallacy) serta penyalahgunaan teknologi siber dapat menjadi senjata perang psikologis (psychological warfare). Penyebaran hoaks yang masif di dunia maya sering kali berdampak pada kerusuhan di dunia nyata.
Tidak sedikit negara mengalami instabilitas akibat disinformasi yang mengadu domba rakyat dan memicu konflik internal.
Oleh karena itu, mempelajari Filsafat Intelijen penting bagi seluruh elemen bangsa, khususnya pelajar dan santri, guna memperkokoh rasa Al-Muwathanah, kebersamaan berbangsa dan bernegara, serta menjaga stabilitas nasional.
_____
Mush’ab Muqoddas Eka Purnomo, Lc. Pengamat Terorisme di Timur Tengah
Bagikan artikel ini :


Post Comment