Loading Now

Dakwah di Musim Sakura

Ramadhan di Jepang dan dakwah komunitas Muslim di Tokyo

Ramadhan di Jepang bukan sekadar tentang musim sakura yang bermekaran atau keindahan negeri matahari terbit. Di balik pesona itu, ada kisah dakwah yang sunyi, penuh perjuangan, dan sarat makna. Apa jadinya bila berkunjung ke Jepang bukan untuk wisata, melainkan untuk berdakwah?

Ramadhan Kareem!

Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta kembali mengirimkan santri-santrinya dalam kegiatan Muballigh Hijrah Nasional dan Internasional selama bulan suci Ramadan 1445 Hijriah. Agenda tahunan ini menjadi ruang pembelajaran nyata bagi para santri untuk mengenal tantangan dakwah, baik di tingkat nasional maupun global.

Santri-santri diterjunkan di berbagai wilayah di Indonesia melalui program Muballigh Hijrah Nasional, serta ke sejumlah negara seperti Malaysia, Thailand, Taiwan, hingga Jepang dalam program Muballigh Hijrah Internasional.

Adalah kami—Faiz (17), Azzam (16), dan Aflah (16)—yang masing-masing ditugaskan di Tokyo, Hiroshima, dan Fukuoka selama kurang lebih satu bulan penuh di bulan Ramadhan. Bagi penulis, pengalaman ini tiada tanding: pertama kali menjalankan puasa di luar negeri, sekaligus pertama kali menjejakkan kaki di negeri orang.


Dakwah Ramadhan di Hiroshima dan Fukuoka

Di Hiroshima, Azzam bertugas sebagai dai di Masjid Mihara. Kawasan ini bisa dikatakan sebagai wilayah perkampungan dengan pemandangan asri dan arsitektur khas Jepang pra-modern. Rumah-rumah berjajar dengan jarak antarbangunan yang cukup luas. Sakura bermekaran, indah sekali. Kawaii!

Azzam disambut oleh Bapak Tarmizi dan Ibu Ida, tuan rumah sekaligus pengurus masjid. Selain menjadi imam dan menyampaikan kultum, Azzam juga bertugas sebagai marbot dan menjaga kedai. Terkadang ia memasak sendiri.

Jumlah jamaah memang tidak banyak. Siang hari mereka bekerja, malam hari melepas penat. Salat Subuh terkadang hanya diisi dua hingga tiga orang. Namun Azzam tidak pernah berkecil hati. Justru di situlah makna dakwah terasa lebih dalam: bukan soal banyaknya jamaah, tetapi tentang konsistensi.

Masjid Mihara ramai saat hari libur. “Di sini hampir semua orang Medan,” tutur Azzam sambil tertawa. Bahasa dan intonasi mereka mengingatkan suasana kampung halaman.

Sementara itu, di Fukuoka, Aflah bertugas di Kitakyushu Islamic Cultural Centre (KICC), sebuah rumah yang dialihfungsikan menjadi masjid. Ia menjadi imam salat rawatib dan tarawih.

Jamaahnya beragam: mahasiswa asing dari berbagai negara yang tengah menempuh studi di Kitakyushu University. Interaksi lintas budaya ini menjadi pengalaman berharga. “Saya paling santai,” ujar Aflah, meski pada akhirnya ia dipercaya menjadi imam sekaligus khatib salat Id.

Di wilayah minoritas Muslim seperti ini, kehadiran dai muda sangat berarti. Ramadhan di Jepang bukan hanya tentang ibadah pribadi, tetapi juga menjaga semangat kolektif komunitas kecil Muslim di negeri mayoritas non-Muslim.


Ramadhan di Jepang: Dakwah Komunitas Muslim di Tokyo

Tokyo memiliki denyut kehidupan yang berbeda. Penulis bermukim di rumah Ibu Gina Farida dan Bapak Muhammad Fauzan Yazid, permanen residen Jepang yang aktif dalam kegiatan dakwah melalui Ainul Yaqiin Foundation.

Rumah kecil ala perkotaan itu disulap menjadi markas dakwah. Setiap hari penulis bertugas menjadi imam salat rawatib dan tarawih. Jamaahnya cukup ramai dengan kegiatan yang padat.

Anak-anak memiliki kelas belajar iqra hampir setiap hari. Bahkan mereka mengikuti program pesantren kilat hasil kerja sama Ainul Yaqiin Foundation, Dompet Dhuafa Jepang, dan Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta.

Empat hari penuh kegiatan: menonton kisah sahabat, belajar lagu islami, membuat kerajinan tangan, belajar Al-Qur’an, hingga bermain bersama di taman. Lebih dari 40 anak hadir dengan antusias. Berinteraksi dengan mereka menjadi pelajaran bahasa sekaligus budaya.

Ibu-ibu juga tak kalah semangat. Seusai tarawih dan jamuan malam, mereka bergiliran meminta disimak bacaan Al-Qur’annya. Diskusi ringan hingga mendalam berlangsung hampir setiap malam. Meski lelah dan mata mengantuk, rasanya tak tega meninggalkan majelis ilmu itu.

Di sela aktivitas dakwah, penulis juga berkesempatan menjelajah Tokyo. Kereta pagi diisi pekerja yang hanya sempat tidur beberapa jam. Kereta malam dipenuhi mereka yang pulang lembur. Tokyo benar-benar merepresentasikan ritme Jepang: disiplin, cepat, dan padat.

Namun di balik gemerlapnya, dakwah di Jepang membutuhkan kesabaran dan ketekunan luar biasa. Ibu Gina telah lebih dari 40 tahun menjaga denyut komunitas Muslim di sana. Anak-anak dibina, ibu-ibu dirutinkan dalam kajian, silaturahmi terus dirawat.

Berdakwah di negeri mayoritas Muslim mungkin terasa lebih mudah. Namun Ramadhan di Jepang mengajarkan bahwa mempertahankan iman dalam minoritas memerlukan energi, biaya, dan komitmen yang tidak sedikit. Shubarashii!


Refleksi Ramadhan di Negeri Minoritas

Sobat sekalian, Jepang tidak selalu seindah film anime yang kita tonton. Ada sisi kerja keras, kesunyian, dan perjuangan. Begitu pula dakwah.

Pengalaman Ramadhan di Jepang menyadarkan bahwa perjuangan menjaga iman jauh lebih berat dibanding sekadar menikmati keindahan sakura. Di negeri minoritas, setiap jamaah adalah amanah. Setiap majelis adalah harapan.

Semoga selalu ada kesempatan untuk kembali. Rasanya seperti menemukan keluarga baru di negeri yang jauh. Apalagi kalau jodohnya ada di Tokyo. Hah, jodoh? Ada-ada saja.

Wallahu a’lam.

Baca Juga:

Bagikan artikel ini :

Post Comment