Cinta, Patah Hati, dan Jalaluddin Rumi
Manusia sering merasakan perasaan yang abstrak dan sulit dipahami. Salah satu perasaan yang paling sering hadir dan melingkupi hidup manusia adalah cinta. Perasaan ini sudah dialami ribuan tahun lamanya, sehingga manusia mengabadikannya dalam berbagai media: puisi, syair, lagu, hingga kisah-kisah kehidupan.
Dalam pepatah orangtua, cinta berangkat dari proses mengenal sampai pada tingkatan yang tak mudah didefinisikan. Sudjiwo Tedjo juga pernah menyebutkan bahwa cinta sejati sulit dijelaskan, tetapi bisa dirasakan, dan ia bersifat abadi.
Lalu muncul pertanyaan yang sering mengganggu: mengapa manusia bercinta dan saling mencintai? Jika cinta itu ada, mengapa justru timbul patah hati? Inilah pertanyaan yang sering membawa manusia pada kebingungan yang berulang.
Sering kali manusia sendiri bingung ketika merasakan cinta. Tak jarang kita terjebak pada hiperbola rasa tertarik pada seseorang, lalu menganggapnya sebagai cinta yang utuh. Kita pun mulai menumpuk harapan, membangun definisi sepihak, lalu berani menyatakan: “aku mencintaimu”.
Di titik inilah masalah sering dimulai. Karena ketika cinta hanya berhenti pada persepsi subjektif dan harapan kepada entitas makhluk semata, maka kekecewaan mudah datang. Patah hati bisa muncul bukan semata karena cinta itu salah, melainkan karena arah dan tujuan cinta kita sering kali belum selesai.
Dalam catatan tentang cinta, ada satu nama yang selalu disebut: Jalaluddin Rumi. Merujuk pada buku Sri Muryanto Belajar Makrifat Syeh Siti Jennar, Al Hallaj dan Jalaluddin Rumi, kita menemukan bagaimana Rumi memandang cinta.
Bagi Rumi, cinta adalah sesuatu yang asing dengan bahasa yang asing pula: ia tidak selalu bisa diucapkan atau didengar, tetapi bisa dirasakan dan disampaikan.
Untuk membantu manusia memahami cinta, Rumi membicarakan tingkatan cinta. Dari sinilah manusia dapat meninjau ulang: cinta yang sedang kita jalani ini berada di tingkat yang mana? Dan mengapa pada tingkatan tertentu, cinta justru sering berakhir dengan luka?
Tingkatan Cinta Menurut Jalaluddin Rumi
1) Tingkatan pertama: cinta kepada ciptaan
Dalam tingkatan cinta pertama ala Rumi, cinta tertuju pada hal-hal ciptaan Allah—baik berupa materi maupun sosok makhluk. Inilah dasar paling awal dari bagaimana manusia mencintai sesuatu.
Pada tingkat ini, manusia paling sering mengalami dinamika cinta: jatuh cinta, berharap, kecewa, lalu patah hati. Karena cinta yang berhenti pada ciptaan—yang sifatnya berubah dan tidak abadi—sering kali membuat manusia menggantungkan kebahagiaannya pada sesuatu yang tidak selalu bisa ia kendalikan.
2) Tingkatan kedua: cinta melalui syariat dan ibadah formal
Tingkatan kedua adalah cinta yang mulai diarahkan melalui praktik ibadah atau ritual formal. Ini dikenal sebagai menjalankan syariat sesuai pedoman yang berlaku.
Pada tingkat ini, manusia tidak hanya mencintai ciptaan, tetapi mulai berusaha mencintai Tuhan melalui aturan-Nya. Ini menjadi jembatan: dari cinta yang semata duniawi menuju cinta yang lebih tertata dan memiliki orientasi spiritual.
3) Tingkatan ketiga: cinta kepada Allah secara personal dan spiritual
Tingkatan ketiga adalah cinta kepada Allah melalui penghayatan personal dan spiritual. Pada tahap ini, manusia merasakan kedekatan secara langsung dengan Tuhannya. Cinta tidak lagi sekadar konsep, tetapi pengalaman batin.
Pada tingkatan ini pula, cinta dipandang semakin utuh—dalam derajat hakikat maupun makrifat—karena cinta tidak lagi bergantung pada sesuatu yang fana.
Makna Patah Hati dalam Cinta Menurut Rumi
Jika kita mengikuti kerangka tingkatan cinta Rumi, maka patah hati sering terjadi karena cinta berhenti pada tingkat pertama: cinta kepada ciptaan yang sifatnya tidak kekal.
Kita mencintai hal-hal duniawi seolah-olah ia abadi, padahal dunia berubah, manusia berubah, dan keadaan pun berubah. Maka wajar jika cinta yang hanya bertumpu pada yang fana mudah menghasilkan kecewa.
Di sinilah makna patah hati bisa dibaca ulang: bukan sekadar derita, tetapi juga sinyal bahwa cinta kita perlu diarahkan—diperbaiki tujuannya—agar tidak terus berputar di luka yang sama.
Menuju Cinta yang Lebih Utuh
Rumi dalam hidupnya dapat dikatakan telah melampaui jauh hingga tingkatan tertinggi: bercinta tanpa bisa dijelaskan oleh logika semata, tetapi merasakan kedekatan yang kuat kepada Tuhan.
Lantas, sebagai manusia, bagaimana kita berupaya menuju cinta yang lebih utuh?
Kita perlu mengubah persepsi dan tujuan cinta. Pahami bahwa dunia bersifat tidak abadi—maka harapan untuk menjadikannya fondasi cinta yang “selamanya” sering kali berakhir dengan patah hati. Jika manusia menginginkan cinta yang lebih abadi, maka arahkan cinta itu pada Allah dengan pendekatan personal dan spiritual.
Pepatah lama juga mengatakan: jika menginginkan cinta dari ciptaan, cintailah terlebih dahulu Penciptanya. Dalam konsep cinta Rumi, barangkali di situlah kebenarannya.
Karena itu, mari mencoba mengubah pandangan tentang cinta: dari cinta yang mudah patah karena bergantung pada yang fana, menuju cinta yang murni dan lebih utuh. Sebab terlalu lama terjebak pada cinta kepada makhluk saja sering membuat kita lalai—mengulang lingkaran palsu tentang bahagia dan patah hati berkepanjangan.
Bagikan artikel ini :


Post Comment