Loading Now

Mengenal Buya dari Sudut Pandang yang Berbeda

Buya Syafii Maarif: kisah cinta, keluarga, dan keteladanan

Ahmad Syafii Maarif yang akrab disapa sebagai Buya adalah seorang kader Muhammadiyah yang lahir di Sumpur Kudus, Sumatera Barat. Gelar Buya yang disematkan pada namanya menandakan ilmunya yang luas, pengetahuannya berlimpah, dan perangainya baik nan mulia.

Jika biasanya sosok Buya diceritakan dari sisi keilmuan, kiprah, atau kesederhanaannya, namun dalam tulisan ini saya ingin membahas Buya dari fitrah kemanusiaannya. Tepatnya seputar cinta dan kisah asmaranya.

Sebagai manusia biasa, Buya juga dianugerahi perasaan dan emosi layaknya kita. Karena itu, beliau dikenal sebagai sosok yang penyayang. Baik kepada pasangannya, Ibu Nurkhalifah (Ibu Lip), maupun kepada orang-orang di sekitar beliau.


Mengenal Buya dari Sisi yang Berbeda

Sebelumnya saya mengenal Buya hanya melalui buku-bukunya. Militansinya sebagai kader Muhammadiyah sangat terasa. Selain itu, beberapa pendapatnya sering kontra atau berbeda dari tokoh dan cendekiawan muslim lainnya.

Sementara itu, Yogyakarta dan sejarah memiliki keterkaitan yang kuat. Terutama dengan tokoh besar seperti Buya. Di kota pelajar ini, beliau menempuh pendidikan dan meniti karier. Di sini pula beliau membangun rumah tangga, bahkan menutup usia.


Tour De Buya sebagai Rihlah Ilmiah

Tempo lalu, awalnya saya hanya ingin mengisi kepenatan. Saat itu saya sedang pusing menggarap tugas akhir kuliah. Lalu saya mencoba mendaftar dan mengikuti serangkaian persyaratan penerimaan peserta “Tour De Buya” yang digagas oleh Ma’arif Institute dan Anak Panah.

Saya rasa ini momentum yang tepat untuk mengenal sosok kader Muhammadiyah yang kiprahnya tak bisa dibilang biasa. Apalagi, latar tempatnya mendukung. Sepanjang perjalanan, feel “Tour De Buya” sangat menembus sanubari dan ruang ingatan saya.

Bagi saya kegiatan ini bukan sekadar tour. Melainkan rihlah ilmiah yang membuka wawasan dan pengetahuan. Kami menyambangi beberapa tempat yang disinggahi Buya. Kami juga mendapat cerita menarik dari orang-orang yang dekat dengan beliau. Dari situ, saya melihat Buya bukan hanya cendekiawan muslim. Beliau juga family man yang hangat dan sayang keluarga.


Cara Buya Memuliakan Ibu Lip

Saya sempat terkejut mendengar cerita dari Mas Erik. Beliau adalah salah satu orang terdekat Buya setelah keluarganya. Menurutnya, Buya adalah sosok yang sangat memuliakan istrinya.

Hal itu terlihat dari cara Buya memperlakukan istrinya. Misalnya, beliau membantu pekerjaan rumah. Mulai dari memasak, mencuci, menyiram tanaman, menjemur pakaian, dan lain sebagainya.

Bahkan, saking tak mau merepotkan istrinya, sering kali beliau menerima tamu dari berbagai kalangan di Masjid Nogotirto dekat rumahnya. Dengan demikian, istrinya tidak repot. Ibu Lip juga tidak perlu sibuk di dapur untuk menyiapkan segala sesuatunya.


Keteladanan Cinta, Komitmen, dan Kesetiaan

Buya adalah representasi laki-laki yang setia. Beliau juga memiliki komitmen tinggi terhadap pasangannya. Selain itu, Buya beruntung memiliki istri seperti sosok Ibu Lip.

Beliaulah perempuan hebat di balik seorang pemikir besar seperti Buya. Beliau juga rela membagi waktu suaminya dengan umat. Sebab Buya selalu mementingkan kepentingan umat di atas kepentingan pribadinya.

Belum lagi kecintaan Buya terhadap ilmu. Itu membuat beliau haus belajar dan sibuk berpikir. Idealisme beliau pun sulit ditawar. Oleh karena itu, hanya perempuan yang hebat yang bisa menemani beliau. Perempuan yang tidak silau harta maupun jabatan. Perempuan yang tetap mendukung dalam situasi apa pun.


Prinsip Egaliter dalam Keluarga

Barangkali demikianlah sedikit gambaran kisah cinta Buya dan istrinya. Keduanya membangun mahligai suci bernama pernikahan. Mereka saling mengupayakan, saling berkorban, dan saling mendukung keputusan satu sama lain.

Dalam kehidupan pernikahannya, Buya juga mengedepankan prinsip egaliter. Suami, istri, dan anak memiliki suara yang sama pentingnya. Semuanya setara saat memutuskan urusan keluarga.


57 Tahun Kebersamaan yang Menguatkan

Lima puluh tujuh tahun Buya dan istrinya melewati suka cita bersama. Selama itu pula Buya memuliakan istrinya. Sepanjang itu pula Ibu Lip menjadi rumah ternyaman bagi Buya.

Dengan kekuatan dan ketulusan cinta keduanya, mereka mampu melewati cobaan dalam pernikahan. Pada akhirnya, dengan iman dan rida pada takdir Allah, keduanya mampu melewati masa-masa sulit selama hidup bersama.

_____

Khulanah, Alumni Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah Yogyakarta

Bagikan artikel ini :

Post Comment