Filsafat Stoisisme dan Kehidupan Kini
Apa Itu Stoisisme dan Relevansinya dalam Kehidupan Kini
Pernahkah kalian merasa sangat tertekan, stres, gelisah, mencemaskan masa depan, menyesalkan masa lalu, dan dipenuhi berbagai emosi negatif lainnya? Atau mungkin kalian sedang mengalaminya saat ini?
Dalam skenario seperti itu, suka atau tidak, hidup tetap harus dijalani. Dunia tidak berhenti hanya karena kita kecewa. Waktu terus berjalan meski hati terasa berat. Di titik inilah Stoisisme hadir sebagai sebuah pandangan hidup yang mengajarkan penerimaan—bukan menyerah, tetapi menerima dengan kesadaran penuh.
Banyak orang hari ini bertanya: apa itu Stoisisme? Mengapa filsafat kuno ini kembali populer di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan?
Stoisisme telah menjadi pola pikir yang bertahan ratusan tahun. Ia dianggap relevan karena mengajarkan ketenangan dalam menghadapi situasi yang tidak terduga. Filsafat ini membantu manusia berpikir lebih jernih, lebih logis, dan tidak mudah hanyut oleh gejolak emosi.
Stoisisme berpendapat bahwa tujuan hidup adalah hidup selaras dengan alam. Alam di sini bukan hanya hutan dan gunung, tetapi seluruh tatanan kehidupan, termasuk manusia dan realitas yang tidak selalu sesuai dengan harapan kita.
Sejarah Singkat Stoisisme
Aliran filsafat Stoisisme muncul sekitar tahun 301 SM atau abad ke-3 SM. Zeno dari Athena adalah tokoh pertama yang mencetuskannya. Pemikirannya dipengaruhi oleh Socrates.
Istilah Stoisisme berasal dari dua kata Yunani: “Stoa”, yang berarti beranda atau serambi, dan “Stoik”, yang merujuk pada orang-orang yang belajar di beranda tersebut. Pada masa itu, kegiatan belajar tidak selalu dilakukan di dalam ruang tertutup, tetapi juga di ruang terbuka seperti teras atau serambi.
Kemudian muncul tokoh-tokoh besar seperti Chrysippus, Cicero, Epictetus—yang dikenal sebagai budak yang menjadi guru Stoik—Marcus Aurelius, Kaisar Romawi, serta Seneca, negarawan sekaligus filsuf.
Stoisisme tidak berhenti di masa Romawi. Ia terus hidup dan bahkan menemukan relevansi baru di abad ke-21.
Stoisisme dan Emosi
Ajaran Stoik membantu kita mengatasi setidaknya tiga persoalan utama dalam hidup. Yang pertama adalah persoalan emosi.
Hampir setiap hari kita dikeluhkan oleh sesuatu. Teman tidak menepati janji. Anak sulit diatur. Kebijakan politik membuat marah. Keadaan tidak sesuai dengan ekspektasi.
Kemarahan muncul bukan semata-mata karena kejadian itu sendiri, tetapi karena benturan antara harapan dan kenyataan.
Marcus Aurelius pernah berkata:
“Jika kamu merasa sedih karena hal-hal eksternal, masalahnya bukan berasal dari objek itu, tetapi dari pendapat kamu sendiri mengenai hal tersebut.”
Menurut Stoisisme, emosi negatif lahir dari penalaran yang keliru. Bukan peristiwa yang melukai kita, melainkan cara kita memaknai peristiwa itu.
Kita memiliki pilihan untuk mengubah cara berpikir kapan saja. Kekayaan, reputasi, jabatan—semuanya berada di luar kendali penuh kita. Namun pikiran kita, cara kita menafsirkan sesuatu, sepenuhnya ada dalam kendali diri.
Menyalahkan Kenyataan
Masalah kedua adalah kecenderungan kita menyalahkan kenyataan.
Kita sering bertanya: mengapa hidup begitu berat? Mengapa masalah datang bertubi-tubi?
Kaum Stoik percaya bahwa kepahitan hidup sering muncul karena kita tidak mampu membedakan mana yang bisa kita kendalikan dan mana yang tidak.
Bayangkan kita hendak menyeberang ke Bali menggunakan kapal laut. Di tengah perjalanan, ombak besar membuat kapal tidak bisa berlayar. Kita kesal, menyalahkan pelabuhan, bahkan mungkin mengutuk keadaan.
Namun apakah kemarahan itu membuat ombak berhenti?
Contoh lain: kita terburu-buru masuk kelas, lalu roda motor terkena paku. Kita merasa waktu terbuang, produktivitas terganggu, kecemasan meningkat.
Padahal kita tidak pernah tahu ada paku di jalan.
Jika kita mengubah sudut pandang, waktu menunggu bisa digunakan untuk membaca, sarapan, atau sekadar menenangkan diri.
Epictetus mengatakan bahwa beberapa hal berada di bawah kendali kita, dan beberapa hal tidak.
Protes tidak akan mengubah kenyataan. Tetapi respons kita dapat mengubah kualitas pengalaman kita.
Kehilangan Perspektif
Masalah ketiga adalah kehilangan perspektif.
Kita sering membesar-besarkan masalah kecil. Kita tenggelam dalam satu persoalan hingga lupa bahwa hidup jauh lebih luas dari peristiwa itu.
Seneca berkata:
“Manusia kehilangan siang hari karena mengharapkan malam, dan kehilangan malam karena takut akan fajar.”
Banyak anak muda hari ini terjebak dalam overthinking. Khawatir tentang pekerjaan setelah lulus. Tentang pasangan hidup. Tentang masa depan yang belum terjadi. Bahkan masa lalu yang tak bisa diubah terus diputar ulang dalam pikiran.
Stoisisme mengajarkan bahwa kehidupan hanya berlangsung di saat ini. Masa depan belum datang. Masa lalu sudah selesai.
Mengkhawatirkan kematian tidak membuatnya menjauh. Tetapi menikmati hidup membuat waktu menjadi bermakna.
Kebijaksanaan Stoik
Ajaran Stoisisme mudah dipahami, tetapi tidak mudah dijalankan.
Zeno sendiri harus kehilangan seluruh hartanya ketika kapalnya karam sebelum menemukan kebijaksanaan. Kehilangan menjadi pintu kesadaran.
Stoisisme mengajarkan kita untuk bijaksana dalam mengontrol pikiran dan perbuatan. Bijaksana dalam menciptakan jarak emosi terhadap apa pun yang ada di sekitar kita.
Segala sesuatu bisa hilang. Jabatan, kekayaan, orang terkasih—tidak ada yang kekal.
Kebijaksanaan bukan berarti tidak merasakan apa-apa, tetapi mampu mengendalikan reaksi kita terhadap apa yang terjadi.
Penutup
Apa itu Stoisisme? Ia adalah filsafat tentang pengendalian diri, penerimaan kenyataan, dan kebijaksanaan dalam menghadapi hidup.
Hidup tidak akan selalu berjalan sesuai keinginan. Banyak hal berada di luar kendali kita. Tetapi satu hal selalu ada dalam kendali: bagaimana kita merespons.
Di situlah letak kebebasan sejati manusia.
______
Referensi
Ani Mustafidah. (2014). Hubungan Antara Kontrol Emosi dan Islam. Buku Kecil STOI K ISME. (n.d.). https://spoti.fi/3INPoPt
Filsafat Stoikisme dan Cara Pandang Kebahagiaan Ibnu Sina – 10-13-2022. (n.d.). https://alif.id
Filsafat Teras* (Stois[-k]isme): Filosofi hidup anti galau? (n.d.). https://doi.org/10.13140/RG.2.2.32398.23367
Henry Manampiring. (2019). Filosofi Teras. PT Kompas Media Nusantara. Muhamamad Hatta. (1986). Alam Pikiran Yunani. Universitas Indonesia (UI-Press). Sundari, S. (2005). Kesehatan Mental dalam Kehidupan. Rineka Cipta .
Bagikan artikel ini :


Post Comment