Ajaran Syiah dalam Hizbut Tahrir
Taqiyah dalam Hizbut Tahrir menjadi isu yang sering diperdebatkan, terutama ketika membahas perbedaan narasi yang disampaikan ke publik dan ke internal. Tulisan ini mengulas rangkaian peristiwa, pola pendekatan politik, dan alasan mengapa hal tersebut dinilai sebagai bentuk “taqiyah”.
Delegasi Hizbut Tahrir ke Iran dan respons yang dianggap penolakan
Delegasi Hizbut Tahrir sowan kepada Ayatullah Khamaeni, pemimpin spiritual tertinggi Iran, pada tahun 1984—atau lima tahun setelah Revolusi Islam Iran. Dalam pertemuan tersebut, Hizbut Tahrir menyampaikan permohonan agar sistem pemerintahan Republik Islam Iran diubah menjadi sistem pemerintahan Khilafah versi Hizbut Tahrir yang bersifat transnasional.
Namun, Ayatullah Khamaeni sama sekali tidak memberikan jawaban. Sampai saat ini, baik secara resmi maupun tidak resmi, Iran tidak memberikan tanggapan atas permintaan Hizbut Tahrir. Diamnya Iran dianggap sebagai penolakan. Karena itu, Hizbut Tahrir disebut terus menghina Iran dan mendorong kader-kadernya di berbagai negara untuk bersikap keras/permusuhan terhadap warga Syiah.
Pola yang sama: Irak dan Libya, lalu berubah menjadi permusuhan
Tidak hanya Iran. Jurnalis Al Jazeera, Basyir Musa Nafi’, juga menceritakan perjalanan Hizbut Tahrir ke Irak untuk bertemu Saddam Husain dan ke Libya untuk bertemu Muammar Gaddafi, dengan menawarkan sistem Khilafah versi Hizbut Tahrir yang bersifat transnasional. Akan tetapi, Saddam Husain dan Muammar Gaddafi menolak tawaran tersebut.
Setelah penolakan itu, Hizbut Tahrir memusuhi Saddam Husain dan Muammar Gaddafi, sebagaimana halnya dengan Iran dan warga Syiah. Dengan kata lain, terlihat pola: mendekati tokoh/negara, menawarkan proyek politik, lalu bermusuhan ketika tawaran tidak diterima.
Seruan ke Mesir dan pelarangan aktivitas
Hizbut Tahrir juga menyerukan kepada Presiden Mesir Jenderal Besar Abdul Fattah As-Sisi dan Tentara Mesir untuk menegakkan Khilafah. Sementara itu, Mesir yang rujukan keislamannya adalah Al Azhar, tidak menanggapi seruan tersebut.
Pada tahun 2003, Pengadilan Mesir memperkuat keputusan mendiang Presiden Anwar Sadat dalam melarang aktivitas Hizbut Tahrir. Mantan Grand Mufti Prof. Ali Jum’ah bahkan mengomentari Hizbut Tahrir sebagai “tukang mengkhayal” yang merusak nalar berpikir.
Membenci, tetapi tetap mendekati: kritik terhadap pola gerakan
Seperti itulah Hizbut Tahrir. Sejatinya membenci Saddam Husain, Muammar Gaddafi, Ayatullah Khamaeni, dan Abdul Fattah As-Sisi, namun tetap berusaha mendekati dan mencari muka.
Benar apa yang digambarkan oleh Syaikh Ali Ath Tahnthawi: Hizbut Tahrir dianggap tidak memiliki upaya nyata dalam perjuangan dan menganggap Negara Islam turun dari langit seperti hidangan terakhir untuk Nabi Isa AS bersama Kaum Hawari, lalu Hizbut Tahrir memakan hidangan tersebut bersama kelompok-kelompok yang berusaha mendirikan Negara Islam.
Taqiyah dalam Hizbut Tahrir saat berhadapan dengan Taliban dan publik
Hal serupa tampak saat Hizbut Tahrir bertemu Taliban. Hizbut Tahrir memuji-muji Taliban dan menyebut dukungan, serta persamaan pemikiran dan ideologi Hizbut Tahrir dengan Taliban.
Akan tetapi, ketika ditanya oleh masyarakat umum atau aparat keamanan, Hizbut Tahrir menyampaikan bahwa pihaknya mengecam segala bentuk aksi kekerasan dan tidak memiliki keterkaitan dengan kelompok-kelompok jihadis. Perbedaan narasi ini menjadi salah satu dasar penyebutan “taqiyah” dalam pembacaan terhadap gerakan tersebut.
Taqiyah dalam Hizbut Tahrir dan ruang gerak di Barat
Melalui taqiyah seperti ini, Hizbut Tahrir dapat beraktivitas dengan bebas di Amerika Serikat, Inggris, serta negara-negara Eropa lainnya. Bahkan, Hizbut Tahrir dimanfaatkan oleh para tokoh Kiri-Baru karena dianggap sebagai juru bicara resmi bagi umat Islam.
Akibatnya, seolah-olah Hizbut Tahrir merasa mendapatkan otoritas atas nama Islam. Padahal, tokoh Kiri-Baru yang beraliran neo-sosialis memiliki pandangan-pandangan yang dianggap bertentangan dengan Islam, misalnya dukungan kepada kaum LGBT.
Klaim pelatihan militer dan penangkapan di Tajikistan
Di sisi lain, saat Taliban berkuasa, Hizbut Tahrir disebut menitipkan ribuan kadernya dari berbagai negara untuk dilatih secara militer di Afghanistan. Setelah Taliban tumbang pada invasi Amerika Serikat, ribuan kader Hizbut Tahrir tersebut melarikan diri dari Afghanistan. Sebagian besar menuju Iran dan Pakistan untuk meminta perlindungan.
Otoritas Tajikistan sendiri disebut telah menangkap 400 kader Hizbut Tahrir yang mendapatkan pelatihan dari Taliban.
Ajaran Syiah dan definisi taqiyah
Berbeda lagi, kepada kader-kadernya, para pimpinan Hizbut Tahrir disebut menyatakan bahwa Taliban adalah agen Amerika Serikat untuk menguasai Negara Islam. Pola ini dipahami sebagai taqiyah, yang disebut sebagai salah satu ajaran Syiah.
Taqiyah dipahami sebagai upaya menyembunyikan identitas jati diri yang dilakukan oleh kelompok Syiah pada masa Dinasti Bani Umayyah dan Dinasti Bani Abbasiyah. Saat ini, warga Syiah disebut tidak melakukan taqiyah karena tidak terancam seperti era tersebut. Berbeda dengan Hizbut Tahrir dan sejenisnya yang selalu merasa terancam keselamatannya, bahkan mata pencahariannya.
Taqiyah dalam Hizbut Tahrir di lembaga pemerintahan dan sosial
Tidak sedikit kader Hizbut Tahrir yang mendaftarkan diri bekerja di instansi pemerintahan atau sejumlah lembaga pendidikan dan sosial seperti di amal usaha Muhammadiyah, dengan bertaqiyah menyembunyikan identitasnya. Akan tetapi, saat terungkap, mereka disebut tetap bertahan.
Ulama Lebanon Prof. Thariq Al Lahham menjelaskan bahwa Taqiyuddin An Nabahani menyatakan dengan jelas: siapa pun yang tidak berbaiat kepada seorang khalifah—yakni Amir Hizbut Tahrir—adalah kafir dan matinya dalam keadaan jahiliyah. Karena itu, walaupun Hizbut Tahrir bernarasi memuji Taliban dan mendiang Presiden Muhammad Mursi, hal tersebut disebut sebagai taqiyah karena mereka hanya berbaiat kepada Amir Hizbut Tahrir dan diajarkan membenci tokoh selain pemimpin Hizbut Tahrir.
Kesimpulan: “lembaga jahiliyah” dan ajakan bersih-bersih
Baik institusi pemerintahan maupun lembaga pendidikan dan sosial seperti amal usaha Muhammadiyah dianggap sebagai lembaga jahiliyah oleh Hizbut Tahrir. Karena itu, Pemerintah Indonesia mulai membersihkan diri dari anasir-anasir Hizbut Tahrir. Hal tersebut juga dinilai perlu ditiru oleh Muhammadiyah untuk membersihkan diri dari para infiltran Hizbut Tahrir.
Jika tidak, infiltran semacam ini akan merusak dari dalam: menyebarkan kegalauan berpikir melalui khayalan-khayalan yang terus dicari pembenarannya.
_____
Mush’ab Muqoddas Eka Purnomo, Lc, Alumni Jurusan Sejarah Universitas Al Azhar Cairo Mesir
Bagikan artikel ini :


Post Comment