Kisah Cinta Raia dan River dalam the Architecture of Love
Review The Architecture of Love ini mengulik kisah Raia dan River yang sama-sama membawa luka. Film ini mengajak kita menyusuri dinamika masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang dari dua tokoh utama. Selain romansa, yang paling terasa adalah pelan-pelan proses pulih—tidak instan, tidak ajaib, tetapi manusiawi.
Kita tidak bisa memaksa orang untuk segera sembuh dari lukanya. Namun, kita bisa menemani orang itu sampai ia pulih dengan satu hal: cinta.
Babak I: Backstory yang Membuat Kita Peduli
Dalam drama, character development adalah pondasi yang membangun kedekatan emosi penonton. Belajar dari banyak drama (termasuk drama Korea), setiap karakter biasanya punya luka dan kebahagiaan mereka sendiri. Karena itu, nilai-nilai dasar karakter idealnya sudah terlihat sejak awal untuk menyiapkan “akar” konflik dan catalyst.
Di bagian awal film, penonton dibuat paham bahwa Raia dan River punya latar yang sama-sama menyakitkan. Dengan begitu, kita lebih mudah berempati. Bahkan sejak awal, luka itulah yang menjadi alasan kenapa keduanya terasa “nyambung” dan bisa berjalan bersama.
Babak II: Raia Menemukan River, Lalu Tembok Itu Roboh
Akhirnya, Raia menemukan River—seseorang yang menjadi alasan Raia bisa menulis lagi. River menjelaskan bangunan-bangunan di New York dengan cara yang romantis di mata Raia. Dari sini, alasan Raia jatuh cinta terasa masuk akal.
Menulis kembali setelah vakum karena sakit hati digambarkan seperti tembok yang tinggi. Namun, River berhasil meruntuhkan tembok itu perlahan.
Di sisi lain, River pun tidak mudah membuka hati. Ia masih menyimpan cinta dan duka pada mendiang istrinya. Lalu muncullah kalimat yang terasa “nempel” di kepala:
“Gak semua yang kosong itu harus diisi, karena bisa jadi cerita baru akan merusak memori yang berharga.”
Kalimat ini efektif menambah empati kita kepada River. Jadi, penonton tidak hanya berpihak pada Raia, tetapi juga memahami River.
Namun, di titik ini tarik-ulur mulai terjadi. River tiba-tiba datang, lalu tiba-tiba pergi. Raia sendiri sadar ia sudah jatuh hati, sehingga ia berusaha mewajarkan sikap River. Sayangnya, hal itu menghantarkan kita ke momen all is lost: Raia kehilangan River karena River memilih kabur lagi, kembali pada kesedihan masa lalunya.
Babak III: Happy Ending yang Kurang “Nendang”
Sejak awal, film ini sebenarnya mengisyaratkan happy ending. Meski begitu, penonton tetap ingin ikut merasakan proses menuju akhir itu. Itulah “nikmatnya” drama romance: kita menikmati setiap detik perjalanan, bahkan ketika kita tahu ujungnya akan bahagia.
Namun, bagiku, babak ini terasa nothing special. Raia merilis buku baru, lalu River kembali memberi kejutan dan mengaku ia butuh Raia. Padahal River juga sudah berjanji akan kembali. Karena itu, momen “kembalinya River” terasa terlalu santai dan kurang membuat penonton ikut tegang atau ikut “lega”.
Aku sempat bergumam, “Balik-balik River itu santai banget.” Mungkin, kalau treatment-nya dibuat lebih melo drama dan memberi closure yang lebih kuat, klimaksnya akan jauh lebih terasa. Misalnya, melibatkan peran pendukung agar emosi konflik tidak hanya bertumpu pada dua tokoh utama.
IMDb – The Architecture of Love (2024):
https://www.imdb.com/title/tt29560417/
Supporting Role: Potensi Besar yang Kurang Dieksplor
Berbicara soal supporting role, menurutku bagian ini yang paling terasa kurang. Padahal second lead sering efektif menambah dinamika emosi dalam cerita.
Adiknya River terasa terlalu cepat “mengalah”. Diaz pun tiba-tiba suka dengan Raia tanpa hint yang jelas sebelumnya. Akibatnya, elemen kejutan terasa hambar. Tidak ada “Chekhov’s gun” yang membangun rasa penasaran sejak awal. Ini menjadi “lubang” terbesar dalam film ini menurutku: potensi konflik pendukung ada, tetapi tidak dimaksimalkan.
Kesimpulan: Film Hangat yang Menyenangkan
Meski ada beberapa catatan, secara keseluruhan The Architecture of Love tetap terasa hangat dan menyenangkan. Film ini mengajarkan kita untuk menghargai masa lalu pasangan, tanpa memaksa proses pulih berjalan cepat.
Pada akhirnya, film ini kembali ke satu kalimat yang paling membekas:
“Kita tidak bisa memaksa orang untuk segera sembuh dari lukanya. Namun, kita bisa menemani orang itu sampai ia pulih dengan satu hal: cinta.”
Bagikan artikel ini :



Post Comment