Ramadan di Indonesia: Antara Tradisi dan Esensi
Ramadhan di Indonesia sering kali dipenuhi dengan tradisi, seremoni, dan euforia berbuka. Namun, apakah kita masih memahami esensi puasa yang sesungguhnya?
Tulisan ini dibuat di atas kegelisahan terhadap perilaku umat beragama, khususnya dalam konteks puasa Ramadhan. Puasa yang dilakukan sebagian umat Islam, menurut hemat saya, terkadang hanya menjadi tradisi tahunan.
Padahal puasa yang sesungguhnya bukan hanya menahan lapar dan dahaga dari pagi hingga petang. Dalam terminologi Arab, puasa memiliki dua istilah: shaum dan shiyam. Apakah keduanya sama atau berbeda?
Memahami Perbedaan Shaum dan Shiyam
Pertama, shaum bermakna menahan diri dari segala sesuatu yang dilarang. Makna ini tidak terbatas pada bulan Ramadhan saja, tetapi berlaku sepanjang hidup manusia.
Rasulullah SAW bersabda:
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِع فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وجاءٌ
Artinya, “Wahai para pemuda, siapa saja di antara kalian yang sudah mampu menanggung nafkah, hendaknya dia menikah. Karena menikah lebih mampu menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Sementara siapa saja yang tidak mampu, maka hendaknya ia berpuasa. Karena puasa bisa menjadi tameng syahwat baginya.” (HR Bukhari & Muslim).
Hadis ini menunjukkan bahwa shaum bukan sekadar ritual Ramadhan, tetapi juga pengendalian hawa nafsu.
Shaum berarti menahan syahwat, menahan ego, dan menahan potensi keburukan.
Contohnya, seorang pemuda yang mampu mengendalikan pandangannya meski tergoda. Atau seseorang yang menahan tangannya dari memukul orang lain meski ia mampu melakukannya.
Shaum adalah pengendalian diri.
Puasa Bukan Sekadar Menahan Lapar dan Haus
Adapun shiyam secara terminologi adalah puasa Ramadhan yang diwajibkan bagi orang beriman, sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Al-Baqarah: 183:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan puasa adalah takwa.
Namun yang sering terjadi, banyak orang hanya memahami shiyam sebagai menahan lapar dan haus, tanpa menghidupkan makna shaum dalam kehidupan.
Baca juga : Iman dan Intelektualitas di dalam Al-Qur’an
Puasa Hanya Menunggu Azan Magrib?
Azan Magrib memang dinanti. Itu manusiawi.
Namun jika puasa hanya tentang menunggu waktu berbuka, lalu bagaimana dengan esensi pengendalian diri?
Zaman sekarang, berbuka justru menjadi ajang konsumtif. Makanan berlimpah, pemborosan meningkat, dan seolah-olah ada “balas dendam” setelah menahan lapar.
Padahal puasa adalah ritual sakral yang menjanjikan ketakwaan.
Jika hawa nafsu tetap liar, ego tetap mendominasi, dan keburukan tetap dilakukan, apakah puasa benar-benar menghadirkan takwa?
Mengembalikan Esensi Puasa di Ramadhan
Ramadhan seharusnya menjadi momen refleksi.
Bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi menahan diri dari kezaliman, penindasan, kebohongan, dan segala bentuk keburukan.
Esensi puasa adalah transformasi diri.
Jika Ramadhan hanya menjadi tradisi tahunan tanpa perubahan karakter, maka kita perlu merenung kembali.
Semoga puasa kita bukan sekadar tradisi, melainkan perjalanan menuju takwa yang sejati.
Wallahu a’lam..
_____
Raychan Assabiq, S.Pd, Saat ini sedang menjadi guru pendidikan agama Islam di sekolah menengah pertama dan melanjutkan studi S2 Pendidikan Agama Islam di Universitas Ahmad Dahlan.
Bagikan artikel ini :


Post Comment