Puasa dan Kasih Sayang Allah
Setiap dipertemukan kembali dengan Ramadan, saya selalu bersyukur. Ramadan sering disebut sebagai bulan puasa, karena di bulan inilah puasa Ramadan selama satu bulan penuh diwajibkan kepada orang-orang beriman yang ingin meraih rida dan rahmat Allah.
Bagi saya, puasa bukan hanya bukti ketaatan kepada Sang Khalik, tetapi juga bukti kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.
Puasa Ramadan: Pahala, Ampunan, dan Kebaikan yang Dilipatgandakan
Allah menjanjikan pahala berlipat bagi hamba-hamba yang berpuasa dan melakukan kebaikan di bulan Ramadan. Di bulan ini pula ada ampunan, bahkan pembebasan dari siksa neraka bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh.
Saya juga meyakini satu hal: puasa adalah tanda bahwa Allah memahami kondisi kita dengan sangat detail. Dari sisi kesehatan, puasa membantu tubuh beristirahat—memberi jeda pada organ yang bekerja terus-menerus sepanjang tahun. Maka, puasa Ramadan menjadi semacam “penyegaran” bagi tubuh dan jiwa.
Karena itu, sebagai orang beriman yang sadar bahwa setiap ibadah membawa hikmah, semestinya kita bersemangat menjalankannya—dan wajar jika hati terasa sedih ketika terhalang.
Ketika Saya Tidak Bisa Puasa: Sedih yang Pernah Saya Rasakan
Sebagai perempuan, saya pernah merasakan kesedihan itu. Selain “tamu bulanan” yang rutin, ada kondisi lain yang membuat perempuan tidak bisa berpuasa, yaitu hamil dan menyusui.
Dalam kondisi normal, perempuan hamil tetap bisa menjalankan ibadah seperti biasa, termasuk puasa. Namun, pengalaman saya berbeda.
Pada kehamilan pertama, saya tidak mampu menjalankan puasa karena terjadi spontaneous abortion (keguguran). Sedihnya bukan hanya karena kondisi fisik, tetapi juga karena saya merasa kehilangan momen ibadah yang saya rindukan.
Pada kehamilan kedua, saya sempat berpuasa karena usia kehamilan masih berada di trimester pertama. Saat itu saya sudah berkonsultasi dengan dokter, dan saya diizinkan.
Namun, saya hanya mampu bertahan sampai hari kelima. Setelah itu, saya jatuh sakit selama dua minggu. Akhirnya saya tidak melanjutkan puasa dan memilih membayar fidiah.
Rukhsah Itu Nyata: Saya Merasakan Kasih Sayang Allah
Setelah melahirkan, saya berkomitmen memberi ASI selama dua tahun penuh. Saya bahkan berhenti mengajar selama masa hamil dan menyusui.
Saat menyusui, saya kembali mencoba berpuasa. Ternyata yang sakit bukan hanya saya, tetapi juga bayi saya. Di titik itulah saya merasakan betul bahwa rukhsah (kemudahan dari Allah) untuk tidak berpuasa benar-benar merupakan wujud kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.
Saya juga mengalami kondisi di mana saya tidak mampu berpuasa selama tujuh tahun berturut-turut karena hamil dan menyusui. Tentu, ada sedih yang datang—karena Ramadan selalu terasa istimewa dan saya ingin menjalaninya seperti orang lain.
Namun, kesedihan itu terhibur oleh satu hal: janji Allah bahwa pahala puasa juga mengalir ketika kita memberi makan orang yang berpuasa untuk berbuka.
Islam Itu Rasional dan Memanusiakan
Saya sangat bersyukur menjadi seorang Muslimah. Islam adalah agama yang rasional dan kompatibel dengan keadaan manusia.
Jika dipikirkan, semua perintah Allah sejatinya kembali untuk kebaikan kita sendiri. Ibadah seperti salat, puasa, zakat, haji, dan yang lainnya ditetapkan dengan fleksibilitas yang bijak—sebagai bentuk kasih sayang Allah, tanpa membebani hamba-Nya di luar kemampuan.
Di sisi lain, ibadah juga menjadi cara kita mendekatkan diri kepada Allah. Saya sering membayangkannya seperti anak yang merindukan orang tuanya. Ketika bertemu ayah dan ibu, kita merasa tenang karena doa-doa dan kasih sayang mereka. Dan tentu, kasih sayang Allah kepada hamba-Nya jauh lebih besar daripada itu.
Penutup: Puasa Ramadan adalah Bentuk Kasih Sayang Allah
Walhasil, semua ibadah dalam Islam—termasuk puasa Ramadan—adalah bentuk kasih sayang Allah kepada kita. Sebab itu, mari kita tunaikan dengan ikhlas dan istikamah.
Kita berdoa, semoga puasa yang kita kerjakan setiap tahun diterima dan mendapatkan rida Allah. Semoga kelak kita dipertemukan dengan-Nya dalam keadaan bahagia. Amin, ya Allah.
_____
Dr Wahju Kusumajanti, Dosen Fakultas Adab dan Humanioran UIN Sunan Ampel Surabaya
Bagikan artikel ini :



Post Comment