Miskonsepsi dalam Dekonstruksi Jacques Derrida
Dekonstruksi Derrida sering disalahpahami sebagai upaya “menghancurkan makna” atau merobohkan sesuatu yang mapan. Padahal, dekonstruksi bekerja dari dalam teks: melacak asumsi tersembunyi, oposisi biner, serta cara makna dibentuk dan ditangguhkan. Tulisan ini merangkum miskonsepsi yang umum sekaligus menjelaskan beberapa konsep kunci seperti pas de method dan différance.
Jacques Derrida: Biografi Singkat
Jacques Derrida lahir pada 15 Juli 1930 di kota Elbiar, dekat Aljazair. Ayahnya bernama Aime Derrida dan ibunya Georgette Sultana Esther Safar. Keduanya merupakan keturunan Yahudi; nenek moyangnya berasal dari Spanyol dan menetap di Aljazair. Pada tahun 1949, Derrida pindah ke Prancis dan menetap di sana hingga akhir hayatnya.
Pada tahun 1952, Derrida menyelesaikan pendidikannya di hypokhâgne dan melanjutkan studi di École Normale Supérieure, salah satu sekolah bergengsi di Prancis. Di sana, ia banyak berinteraksi dengan tokoh-tokoh seperti Louis Althusser dan Michel Foucault.
Selanjutnya, ia mempelajari arsip-arsip di Universitas Leuven, Belgia (1953–1954). Enam tahun berselang, pada 1960–1964, ia mengajar di Universitas Paris Sorbonne–Panthéon dan sempat menjadi asisten Ricoeur. Setelah itu, ia kembali ke almamaternya École Normale Supérieure untuk mengajar. Derrida wafat pada 9 Oktober 2004, pada usia 74 tahun, karena kanker.
Definisi Dekonstruksi Derrida
Buah pemikiran Derrida—yang dipengaruhi Ontologi Heidegger, Fenomenologi, dan Poststrukturalisme Prancis—sejatinya tidak memiliki definisi tetap. Derrida pernah mengakui bahwa ia tidak mampu membuat definisi yang final.
Kendati demikian, Derrida memberi kata kunci: “pas de method”. Dalam bahasa Prancis, ungkapan ini dapat dipahami sebagai “tidak” dan “metode”. Dari sini dapat disimpulkan bahwa dekonstruksi bukanlah suatu metode baku ataupun langkah prosedural yang bisa diterapkan secara mekanis.
Walau Derrida tidak menyatakan dekonstruksi sebagai metode, para pengkaji berikutnya sering mengklaimnya sebagai teori kritis atau metode pembacaan. Beberapa tokoh juga mencoba memberi definisi:
-
Nicholas Royle memaknai dekonstruksi sebagai pengalaman akan yang “tak mungkin”, cara berpikir yang menggoyang sesuatu yang sudah dianggap mapan, serta cara melihat bagaimana identitas tidak sepenuhnya identik dengan dirinya sendiri.
-
Muhammad Al-Fayyadl melihat dekonstruksi sebagai testimoni terbuka bagi yang “kalah”—mereka yang terpinggirkan oleh stabilitas rezim bernama pengarang—sehingga dekonstruksi menjadi gerak menuju hidup itu sendiri.
Sejarah Dekonstruksi: Metafisika Kehadiran dan Logosentrisme
Kemunculan dekonstruksi Derrida dilatarbelakangi ketidaksetujuannya terhadap metafisika kehadiran dan logosentrisme. Metafisika kehadiran yang diperkenalkan tradisi filsafat Barat dikritik karena, menurut Derrida, sesuatu yang “hadir” sering dibentuk oleh “ketidakhadiran” yang lain, sekaligus oleh kepercayaan berlebihan pada logos dan rasio.
Namun urgensi dekonstruksi bukanlah sekadar mencari inkonsistensi logis atau kelemahan argumentasi sebagaimana lazim dalam modernisme. Yang dilacak Derrida adalah unsur filosofis yang memungkinkan sebuah teks menjadi “filosofis”, termasuk tatanan yang tidak disadari: asumsi-asumsi tersembunyi di balik teks.
Sederhananya, Derrida mencoba “menelanjangi” tekstualitas latin dari sebuah teks: bukan hanya apa yang dikatakan teks secara sadar, tetapi juga apa yang disembunyikannya.
Dalam aktivitas membaca, Derrida mencetuskan istilah différance. Kata ini memadukan differing (berbeda) dan deferring (menangguhkan). Différance dikembangkan dari kata Prancis différence. Keduanya sama dalam pengucapan, tetapi berbeda dalam tulisan—sebuah cara untuk menunjukkan “keunggulan tulisan” yang tak sepenuhnya bisa digapai tuturan.
Dekonstruksi Bukan Menghancurkan
Dekonstruksi dirancang sebagai sesuatu yang bekerja di dalam teks yang dibaca. Ia bukan teori atau metode yang diterapkan “dari luar” teks, melainkan bekerja seperti “parasit” yang hidup dari material teks itu sendiri.
Derrida juga mengemukakan ungkapan terkenal: “there is no outside text”—bahwa tidak ada konten yang benar-benar berada “di luar” teks; semuanya hadir melalui teks.
Karena itu, sebuah teks dapat dibaca dalam berbagai konteks dan menghasilkan kemungkinan pembacaan yang nyaris tak berhingga. Makna teks tidak pernah hadir secara penuh dan final; makna selalu tertangguhkan dan tidak absolut. Derrida menyebut makna sebagai “jejak setelah jejak”, atau signifier of signified: penanda atas penanda.
Di sinilah miskonsepsi sering muncul: dekonstruksi dikira semata bentuk penghancuran segala yang kokoh atau mapan. Kekeliruan ini terjadi karena pembaca belum memahami dimensi etis dekonstruksi: membuka diri kepada “yang lain”.
Dekonstruksi tidak berhenti pada membongkar lalu membiarkan objek menjadi kosong. Ia justru menggeser fokus dari “pusat” (logosentrisme) menuju hal-hal kecil yang sering disembunyikan atau ditutup-tutupi dalam teks.
Gagasan-Gagasan Kunci Dekonstruksi
Gagasan kunci dekonstruksi meliputi:
-
différance
-
tilas/jejak
-
suplemen
-
teks
-
iterabilitas
-
ketiadaan putusan
-
diseminasi
Hubungan antar gagasan ini tidak bersifat hierarkis, melainkan jaringan yang saling menggantikan.
Sasaran pembacaan dekonstruksi dapat dipetakan menjadi tiga:
-
oposisi biner,
-
blind spot,
-
kontradiksi internal teks.
Pola minimal tahapannya sering disebut: rekonstruksi → dekonstruksi → reinskripsi → “yang lain”, sampai akhirnya teks seolah “mendekonstruksi dirinya sendiri”.
Terkait strategi dekonstruksi, terdapat tiga asumsi mendasar:
-
bahasa ditandai oleh ketidakstabilan dan ketakberhinggaan makna,
-
instabilitas makna membuat tidak ada metode analisis yang punya klaim istimewa untuk menguasai interpretasi tekstual,
-
konsekuensinya, interpretasi tekstual menjadi aktivitas tanpa batas yang lebih dekat pada permainan daripada analisis (dalam pengertian interpretasi yang biasa dipahami).
Manfaat Dekonstruksi dan Kelemahannya
Dekonstruksi Derrida memberikan kontribusi besar bagi perkembangan ilmu sosial. Namun, tetap ada kelemahan: kebebasan pemaknaan yang terlalu luas dapat memunculkan dinamika yang masif, sehingga sulit ditemukan “maksud ideal” karena teks terus-menerus didekonstruksi tanpa henti.
____
Muhammad Alfreda Daib Insan Labib
Bagikan artikel ini :


Post Comment