Loading Now

“Let Them Theory” dan Menjadi Berprestasi ala Maudy Ayunda

Di era media sosial yang serba cepat, kita sering terjebak dalam dua tekanan besar: tuntutan untuk menjadi sempurna secara prestasi dan kelelahan mental karena mencoba mengendalikan persepsi orang lain. Melalui sosok Maudy Ayunda dan konsep dari buku terbaru Mel Robbins, Let Them Theory , kita bisa menemukan formula baru untuk sukses tanpa kehilangan kedamaian batin. Penyanyi “Perahu Kertas”, Maudy Ayunda, bukan sekadar selebriti. Ia adalah representasi dari apa yang terjadi ketika bakat bertemu dengan disiplin yang konsisten. Lulusan Oxford dan Stanford ini membuktikan bahwa pendidikan bukan hanya soal gelar, tetapi fondasi terbentuknya karakter.

Disiplin, Growth Mindset, dan Jalan Panjang Menuju Prestasi

Semakin kita tahu banyak hal, semakin kita merasa tidak tahu apa-apa, ” tuturnya dalam sebuah podcast.

Maudy dikenal memiliki growth mindset . Ia tidak lahir dengan kemampuan instan—tidak langsung fasih berbahasa Inggris atau mahir berakting—melainkan melalui proses belajar yang panjang. Disiplin dan kecintaannya pada pengetahuan membuatnya mampu menyeimbangkan karir di dunia hiburan dengan peran strategis, termasuk sebagai Juru Bicara G20. Jika Maudy mengajarkan kita cara meraih sesuatu, maka buku Let Them Theory karya Mel Robbins mengajarkan kita cara melepaskan sesuatu. Konsep ini menjadi sangat relevan untuk menjawab stres yang dialami banyak orang hari ini.

Let Them, Let Me: Seni Melepaskan

Konsep ini sederhana, tetapi memiliki dampak yang transformatif. Jika seseorang tidak mengundangmu ke suatu acara, biarkan mereka ( biarkan mereka ). Jika rekan kerja meremehkan kemampuanmu, biarkan mereka ( biarkan mereka ). Intinya adalah melepaskan kendali atas tindakan, pikiran, dan pilihan orang lain. Mel Robbins memperkenalkan dua pilar utama: Let Them dan Let Me . Let They berarti berhenti menghabiskan energi untuk mengendalikan orang lain, sedangkan Let Me berarti mengalihkan fokus pada tanggung jawab diri sendiri.

Menggabungkan etos kerja Maudy Ayunda dengan filosofi Let Them menciptakan keseimbangan yang menarik. Dalam mengejar prestasi, kita tetap dituntut disiplin, berpendidikan, dan berdampak sosial. Namun, di saat yang sama, kita juga belajar untuk tidak terjebak dalam ekspektasi orang lain. Meski mengaku sebagai anak pemalu dan penyendiri di masa kecil, Maudy berhasil mengembangkan kemampuan komunikasi masyarakat yang kuat. Baginya, pendidikan adalah alat untuk memahami dunia dan mencari solusi atas berbagai permasalahan. Apalagi dalam soal mimpi, ia menekankan konsistensi—apa yang ia kejar di usia 20-an tetap ia perjuangkan di usia 30-an.

Namun, kesuksesan juga membawa konsekuensi: kritik dan penilaian masyarakat. Di titik ini, prinsip Biarkan Mereka menjadi relevan. Tugas kita bukan menjanjikan semua orang, melainkan terus berkarya dan bertumbuh. Dalam podcast “Suara Berkelas”, Maudy juga menunjukkan pentingnya membedakan antara fokus hasil dan fokus proses . Hal ini selaras dengan gagasan dalam buku Atomic Habits, bahwa identitas dibangun melalui proses, bukan sekedar hasil.

Misalnya, perbedaan antara “Saya sudah berhenti merokok” dan “Saya bukan perokok” menunjukkan bagaimana identitas terbentuk dari proses yang dijalani. Fokus pada proses membuat kita lebih mampu menghargai perjalanan, bukan hanya tujuan akhir. Manajemen stres juga menjadi poin penting yang ditekankan Maudy. Ia memulai dari perencanaan terhadap hal-hal yang bisa dikendalikan, lalu menggunakan prinsip Let Them untuk hal-hal di luar kekuasaan. Ia juga belajar membaca sinyal stres sejak dini.

Mengelola Emosi dan Stres: Kunci Ketahanan Diri di Tengah Tekanan

“Cara mengendalikan emosi adalah dengan tidak mengendalikan emosi itu.”

Pernyataan ini menyatakan bahwa setiap emosi perlu diberi ruang. Emosi tidak harus ditekan, tetapi dipahami. Membiarkannya hadir adalah bagian dari proses mengenali diri sebelum akhirnya kita bereaksi dengan lebih bijak. Pada akhirnya, hidup yang berkualitas adalah perpaduan antara usaha keras untuk tumbuh dan keberanian untuk melepaskan hal-hal yang tidak penting. Dari situlah ketahanan diri terbentuk: bukan dari kemampuan menahan, tetapi dari keberanian untuk memahami. Sejalan dengan itu, Maudy Ayunda menunjukkan bahwa pengelolaan stres juga dimulai dari kesadaran akan batas kendali. Apa yang bisa kita atur, kita rencanakan dengan matang. Apa yang tidak bisa kita kendalikan, kita lepaskan dengan sadar. Seperti Maudy Ayunda yang tetap fokus pada kontribusinya meski diterpa pro dan kontra, kita pun bisa meraih mimpi besar dengan hati yang tetap tenang—dengan satu prinsip sederhana: biarkan mereka.

 

____

Penulis: Zaeni Masitoh

Bagikan artikel ini :

Post Comment