Loading Now

“Musa” di Era Modern

kisah nabi musa dan firaun

Kisah Nabi Musa dan Fir’aun di Era Modern

Kisah Nabi Musa dan Fir’aun bukan sekadar cerita sejarah dalam Al-Qur’an. Ia merupakan refleksi abadi tentang kekuasaan, penindasan, dan keberanian melawan tirani yang relevan hingga era modern.

Sejarah mengisahkan seorang anak yang dihanyutkan ibunya ke Sungai Nil demi menyelamatkannya dari ancaman pembunuhan penguasa zalim. Anak itu adalah Musa. Ia justru ditemukan dan dibesarkan di lingkungan istana oleh istri Fir’aun.


Musa di Tengah Kemewahan Kekuasaan

Musa tumbuh dalam kemegahan kerajaan. Namun kemewahan tidak membuatnya silau. Justru dari dalam istana, ia menyaksikan bagaimana kekuasaan dijalankan secara sewenang-wenang terhadap kaum mustadh’afin (kaum tertindas).

Fir’aun dikenal sebagai penguasa diktator yang mengklaim kebenaran atas dasar kekuasaan. Dalam Al-Qur’an disebutkan:

“Dan Fir’aun berkata kepada kaumnya: ‘Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan sungai-sungai ini mengalir di bawahku? Maka apakah kamu tidak melihat? Bukankah aku lebih baik dari orang yang hina ini…’”
(QS. Az-Zukhruf [43]: 51–52)

Sikap congkak dan klaim sepihak atas kebenaran menjadi ciri kekuasaan tiranik sejak dahulu.


Fir’aun dan Haman: Relasi Kekuasaan dan Pengetahuan

Dalam kisah Nabi Musa dan Fir’aun, kekuasaan tidak berdiri sendiri. Fir’aun memiliki Haman sebagai pendukung legitimasi kekuasaan, termasuk dalam bidang keagamaan.

Haman disebut sebagai pembesar kerajaan yang bahkan membangun menara untuk membuktikan klaim Fir’aun tentang Tuhan Musa.

Dalam perspektif modern, relasi ini dapat dianalisis melalui pemikiran Michel Foucault yang menyatakan bahwa pengetahuan tidak dapat dipisahkan dari kekuasaan. Kekuasaan membentuk pengetahuan, dan pengetahuan memperkuat kekuasaan.

Foucault menyebutnya sebagai episteme, yakni sistem pengetahuan yang dilanggengkan sebagai kebenaran di suatu zaman.


Refleksi Kekuasaan di Era Modern

Dalam konteks negara modern, hubungan antara penguasa, pemilik modal, dan pemuka agama kerap membentuk kebijakan yang tidak memihak rakyat kecil. Kebijakan yang lahir sering kali menguatkan dominasi, bukan membela keadilan.

Sikap sombong, self-claim atas prestasi, dan pengabaian terhadap peran rakyat dalam pembangunan menjadi ciri kekuasaan yang mirip dengan karakter Fir’aun.

Sejarah menunjukkan bahwa kekuasaan yang tidak terkendali cenderung congkak dan menolak kebenaran.


Mencari Musa di Zaman Sekarang

Namun sejarah juga mengajarkan bahwa di tengah tirani selalu ada sosok pembebas. Musa adalah simbol perlawanan terhadap status quo yang menindas.

Dalam teori Antonio Gramsci, sosok seperti ini dapat disebut sebagai intelektual organik — mereka yang tidak hanya berpikir, tetapi juga mengorganisasi masyarakat untuk perubahan sosial.

Intelektual organik berbeda dari intelektual tradisional karena ia berpihak kepada rakyat dan aktif dalam perjuangan sosial.


Penutup

Kisah Nabi Musa dan Fir’aun memberikan pelajaran bahwa kekuasaan yang zalim akan selalu menghadapi perlawanan moral.

Pertanyaan pentingnya:
Siapakah “Musa” di era modern?

Siapakah yang berani berpihak kepada kaum tertindas, melawan ketidakadilan, dan menegakkan kebenaran?

Sejarah tidak pernah berhenti. Ia hanya berganti tokoh.

Bagikan artikel ini :

Post Comment