Iman dan Intelektualitas dalam al-Qur’an
Keutamaan ilmu dalam Al-Qur’an tidak dapat dipisahkan dari kualitas iman seorang manusia. Al-Qur’an berulang kali menegaskan bahwa manusia adalah makhluk potensial yang dimuliakan, namun kemuliaan itu bergantung pada aktualisasi iman dan intelektualitasnya.
Manusia diciptakan Allah sebagai makhluk berpribadi, makhluk sosial, makhluk yang hidup di tengah alam, dan makhluk yang diasuh oleh Allah. Setiap fungsi tersebut menuntut tanggung jawab yang hanya dapat dijalankan dengan iman dan ilmu.
Manusia sebagai Makhluk Potensial dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an menyebut manusia diciptakan dalam bentuk sebaik-baiknya:
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
(QS. At-Tiin [95]: 4)
Dan dimuliakan di atas banyak makhluk lainnya:
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam…”
(QS. Al-Isra [17]: 70)
Namun manusia juga dicela ketika lalai:
“Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari nikmat.”
(QS. Ibrahim [14]: 34)
Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa manusia memiliki potensi menjadi makhluk berkualitas atau sebaliknya, tergantung pada iman dan intelektualitasnya.
Kualitas Iman dalam Perspektif Al-Qur’an
Manusia berkualitas adalah manusia yang beriman dan bertakwa. Iman menjadi motor penggerak amal saleh dan perilaku sosial.
Keimanan tidak hanya berupa keyakinan, tetapi diwujudkan dalam:
-
Tawakkal
-
Sabar
-
Pemaaf
-
Muhsin
-
Bersyukur
-
Mengajak kepada kebaikan
Iman adalah fondasi menuju insan kamil, manusia yang hanif dan kaffah. Dalam keadaan beriman, manusia berjuang melawan penindasan, tirani, dan ketidakadilan.
Keutamaan Ilmu dalam Al-Qur’an
Keutamaan ilmu dalam Al-Qur’an ditegaskan sejak awal penciptaan manusia. Allah berfirman:
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya…”
(QS. Al-Baqarah [2]: 31)
Ayat ini menunjukkan bahwa potensi intelektual adalah bagian dari fitrah manusia.
Allah juga mengangkat derajat orang berilmu:
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujadalah [58]: 11)
Dan Allah membedakan antara yang berilmu dan tidak:
“Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”
(QS. Az-Zumar [39]: 9)
Ayat-ayat ini menegaskan bahwa ilmu adalah jalan menuju kemuliaan derajat.
Hubungan Iman dan Intelektualitas
Ilmu tanpa iman dapat kehilangan arah. Iman tanpa ilmu dapat kehilangan kekuatan. Keduanya saling melengkapi dalam membentuk manusia berkualitas.
Ilmu dibutuhkan untuk:
-
Mengelola alam
-
Membangun peradaban
-
Menjaga keseimbangan sosial
-
Menegakkan keadilan
Dalam kehidupan sosial, setiap bidang membutuhkan ahlinya. Ketika suatu urusan tidak diserahkan kepada ahlinya, ketidakharmonisan akan muncul.
Penutup
Keutamaan ilmu dalam Al-Qur’an menunjukkan bahwa manusia dimuliakan bukan hanya karena penciptaannya, tetapi karena iman dan intelektualitasnya.
Manusia berkualitas adalah manusia yang:
-
Beriman
-
Berilmu
-
Beramal saleh
-
Memberi manfaat bagi masyarakat
Dengan iman dan ilmu, manusia dapat menjalankan amanah sebagai khalifah di bumi secara adil dan bertanggung jawab.
Bagikan artikel ini :



Post Comment