Jalan Panjang Kesetaraan Paus Fransiskus
Kesetaraan Paus Fransiskus menjadi salah satu warisan moral paling kuat yang ia tinggalkan bagi dunia. Satu hari pasca perayaan Paskah, umat Katolik di berbagai belahan dunia harus menerima kabar duka wafatnya Paus Fransiskus. Kepergiannya bukan hanya kehilangan bagi Gereja Katolik, tetapi juga bagi umat beragama secara global. Selama kepemimpinannya, Paus Fransiskus dikenal tidak pernah berhenti menyuarakan nilai keadilan, empati, dan keberpihakan pada mereka yang terpinggirkan. Namun, dunia kini bertanya: ke mana arah perjuangan kesetaraan dan kemanusiaan itu akan bergerak tanpa sosok yang berani menantang arus tradisi ini? Artikel ini mencoba menelusuri jalan panjang kesetaraan yang telah ia bangun, sekaligus tanggung jawab moral yang ditinggalkannya.
Duka Dunia atas Kepergian Paus Fransiskus
Satu hari pasca perayaan Paskah, umat Katolik di seluruh dunia harus menelan pahit kabar duka wafatnya Paus Fransiskus. Kepergiannya bukan sekadar kehilangan bagi umat Katolik, tetapi juga bagi komunitas lintas agama di berbagai belahan dunia.
Selama hidupnya, Paus Fransiskus tidak pernah berhenti menunjukkan kepemimpinan yang penuh empati dan keberanian moral. Ia menjadi teladan dari sosok sederhana, namun memiliki pengaruh global yang besar.
Dalam perjalanan panjangnya, Paus Fransiskus telah menjelma sebagai simbol moral progresif yang berani menyuarakan nilai keadilan lintas iman. Karena itu, kepergiannya memunculkan pertanyaan mendasar: ke mana arah perjuangan itu akan bergerak tanpa kehadiran tokoh sepertinya?
Tokoh Progresif di Balik Tradisi Gereja
Paus Fransiskus, dengan nama asli Jorge Mario Bergoglio, dikenal sebagai paus pertama yang berasal dari Amerika Latin. Sejak awal kepemimpinannya, ia menunjukkan pendekatan yang humanis dan membumi. Ia menolak tinggal di Istana Apostolik dan memilih hidup sederhana.
Selain itu, ia memusatkan perhatian pada agenda moral global. Isu-isu seperti inklusivitas, ketimpangan gender, hingga konflik Israel–Palestina menjadi bagian dari perhatiannya. Karena konsistensi itu, Paus Fransiskus dijuluki “The People’s Pope” bahkan “The Progressive Pope”.
Julukan tersebut tidak hadir tanpa alasan. Ia lahir dari langkah-langkah nyata yang terus diperjuangkan, meskipun kerap menuai kritik dari berbagai arah.
Kesetaraan sebagai Arah Kepemimpinan Moral
Kesetaraan Paus Fransiskus tidak berdiri terpisah dari tradisi Gereja, tetapi berusaha menjembatani ajaran lama dengan tuntutan zaman modern. Ia membuka ruang dialog terhadap isu-isu yang selama ini dianggap sensitif.
Tentu saja, pendekatan ini menuai kritik. Baik dari kalangan konservatif, tradisional, maupun progresif yang khawatir akan bergesernya prinsip Gereja. Namun demikian, Paus Fransiskus tetap konsisten. Ia meyakini bahwa iman harus hadir sebagai kekuatan moral yang relevan, tidak hanya bagi umat Katolik, tetapi juga bagi umat beragama lain.
Upaya Nyata Sang “The Progressive Pope”
Warisan progresivitas Paus Fransiskus tercermin dalam langkah-langkah konkret yang transformatif.
Perempuan dan Struktur Gereja
Dalam isu peran perempuan, Paus Fransiskus mengambil langkah berani. Ia menunjuk perempuan sebagai Wakil Menteri Luar Negeri Vatikan. Selain itu, ia membuka akses lebih luas bagi perempuan untuk menduduki posisi penting dalam struktur Gereja, termasuk hak memberikan suara dalam proses sinode.
Reformasi Keuangan Vatikan
Di sektor keuangan, Paus Fransiskus melakukan reformasi besar-besaran. Ia membentuk Sekretariat Ekonomi guna meningkatkan transparansi dan akuntabilitas. Salah satu fokus utamanya adalah pembenahan pengelolaan Bank Vatikan (IOR) yang lama disorot publik.
Dialog Lintas Iman
Paus Fransiskus juga aktif dalam dialog lintas agama. Ia menandatangani Dokumen Persaudaraan Manusia di Abu Dhabi bersama Imam Besar Al-Azhar. Langkah ini menegaskan komitmennya membangun dunia berbasis toleransi, persaudaraan, dan perdamaian lintas iman.
Lingkungan Hidup dan Laudato Si’
Dalam isu lingkungan, Paus Fransiskus menghadirkan Laudato Si’. Dokumen ini menjadi seruan moral global untuk menjaga bumi sebagai rumah bersama dan mengkritik kerakusan ekonomi yang merusak lingkungan.
Sikap atas Konflik Gaza
Bahkan dalam konflik Gaza, Paus Fransiskus tidak tinggal diam. Ia menjadi salah satu tokoh dunia paling vokal menyerukan gencatan senjata. Selain itu, ia mengirim bantuan medis melalui jaringan Gereja Katolik sebagai bentuk keberpihakan nyata pada korban kemanusiaan.
Semua langkah ini menunjukkan bahwa Paus Fransiskus tidak sekadar berbicara tentang perubahan, tetapi berusaha mewujudkannya secara konkret.
Meneruskan Jalan Panjang Kesetaraan
Kepergian Paus Fransiskus memang meninggalkan luka mendalam. Namun, ini bukan akhir dari perjuangan. Justru, dunia dihadapkan pada tanggung jawab untuk meneruskan semangat reformasi yang telah ia bangun.
Dunia hari ini membutuhkan lebih banyak tokoh yang berani menyuarakan kesetaraan. Bagi agama, kesetaraan bukan sekadar agenda politik atau sekuler, melainkan panggilan iman untuk membela mereka yang dilemahkan.
Mengikuti jejak Paus Fransiskus berarti tidak hanya mengenang, tetapi juga meneruskan warisan iman yang inklusif dan penuh kasih.
Penutup
Kesetaraan Paus Fransiskus adalah jalan panjang yang belum selesai. Tanggung jawab kita adalah memastikan semangat reformasi ini tidak padam. Dalam setiap langkah kecil menuju dunia yang lebih adil, lebih setara, dan lebih berperikemanusiaan, warisan itu harus terus hidup.
____
Iefone Shiflana Habiba, Aktivis Gerakan Perempuan
Bagikan artikel ini :



Post Comment