Kebahagiaan di Bulan Ramadhan
Ramadan kembali hadir, dan segenap umat Islam di seantero buana bergembira menyambutnya. Rasa rindu selama rentang sebelas bulan lamanya terasa terobati dengan paripurna. Senandung doa yang kerap dipanjatkan—Allahumma ballighna Ramadan (Ya Allah, sampaikanlah kami ke bulan Ramadan)—kini Allah kabulkan. Walhasil, tahun ini kita berjumpa kembali dengan Ramadan, dan kebahagiaan di bulan Ramadan pun kembali mengetuk pintu hati.
Kebahagiaan di Bulan Ramadan dan Ampunan Allah
Bergembiranya umat Islam menyambut Ramadan bukan tanpa sebab. Ramadan adalah momen pembersihan diri, seakan menjadi peristiwa “pembakaran” atas benih-benih dosa masa lampau—baik yang dikerjakan secara eksplisit maupun implisit. Ramadan hadir sebagai bulan pengampunan, kasih sayang Allah, serta pembebasan dari api neraka (HR Bukhari dan Muslim). Pantaslah jika segenap umat Islam begitu antusias menyambut bulan sarat keagungan dan kemuliaan ini.
Makna Puasa Ramadan sebagai Latihan Menahan Diri
Di dalam Ramadan, ada ibadah puasa. Puasa (shiyam) bermakna menahan diri (al-imsak). Ia bukan sekadar tidak makan, tidak minum, dan tidak memenuhi kebutuhan biologis sejak terbit fajar hingga menyingsingnya matahari. Lebih dari itu, puasa mengajarkan kita menahan diri dari perangai buruk: amarah, angkara, dengki, jemawa, dusta, dan berbagai bentuk keburukan lainnya.
Dengan puasa, kita dilatih untuk lahir sebagai manusia bertakwa (QS Al-Baqarah: 183). Karena itu, puasa bukan sekadar ritual, melainkan pendidikan batin—agar manusia belajar mengendalikan diri, menata keinginan, dan menjaga lisan serta perilaku.
Puasa dan Jalan Menuju Takwa
Proses pembentukan takwa tidak berhenti pada menahan lapar dan dahaga. Ia dilanjutkan dengan serangkaian amalan: salat tarawih, tadarus dan tadabur Al-Qur’an, infak, sedekah, hingga iktikaf. Pengejawantahan amalan-amalan tersebut diupayakan agar membantu membentuk jiwa takwa dalam hati sanubari kita.
Manusia bertakwa niscaya memiliki konektivitas kuat dengan Allah (hablum minallah) sekaligus hubungan baik dengan sesama manusia (hablum minannas). Hidupnya senantiasa dihiasi perangai jujur, adil, amanah, lapang hati, pemaaf, pemurah, setia, dan bertindak serba positif. Tatkala semua itu dikerjakan dengan kesungguhan hati, semata-mata karena Allah, maka kita akan merasakan pencerahan dari puasa: nurani memancarkan cahaya, hidup terasa adem ayem, dan jiwa menjadi ringan dari beban dunia yang mengekang.
Berkah Ramadan dan Spirit Berbagi
Ramadan sarat dengan keberkahan (al-barakah). Untuk mengaktualisasikan keberkahan itu, kita berupaya seoptimal mungkin berbagi kasih antar sesama. Berbagi tidak mengenal batas, sebab ia bersifat universal. Allah Maha Pemberi Berkah telah membuka ruang agar kita saling menolong dan berbagi rezeki kepada mereka yang berhak.
Inilah bagian dari sedekah yang, sebagaimana sabda Nabi Muhammad, dapat menghapus dosa laksana air memadamkan api (HR Tirmidzi). Tidak mengherankan bila banyak orang berbondong-bondong berbagi dengan corak yang variatif demi menggapai keutamaan tersebut.
Tradisi Berbagi yang Perlu Dilestarikan Sepanjang Tahun
Berbagi telah menjadi tradisi bangsa Indonesia. Spirit berbagi ini mesti kita lestarikan bersama—bukan hanya di bulan Ramadan, tetapi juga sepanjang tahun. Dengan demikian, kita dapat ikut membangun kehidupan kebangsaan yang tenteram, hangat, dan mencerahkan semesta.
Penutup: Menyemai Nilai Kebajikan di Bulan Ramadan
Akhirnya, mari jadikan Ramadan kali ini sebagai momen menyemai nilai-nilai kebajikan. Semoga seluruh rangkaian ibadah dalam bulan Ramadan semakin berwarna, semakin bermakna, dan benar-benar melahirkan kebahagiaan di bulan Ramadan—yang tidak hanya terasa sesaat, tetapi menetap sebagai karakter dan kebiasaan setelah Ramadan berlalu.
_____
Penulis Bekerja di Grha Suara Muhammadiyah Kota Yogyakarta
Bagikan artikel ini :



Post Comment