Loading Now

Iri yang Positif

iri yang positif dalam Islam menurut hadis Nabi

Iri yang positif dalam Islam sering kali luput dari pemahaman umat. Selama ini, mayoritas masyarakat Muslim menganggap iri hati atau hasad sebagai sifat tercela yang sepenuhnya dilarang oleh agama. Padahal, Rasulullah Saw. sebagai teladan umat justru memperbolehkan iri dalam batas tertentu. Iri yang dimaksud bukanlah dengki yang mengharapkan hilangnya nikmat orang lain, melainkan dorongan untuk meniru dan melampaui kebaikan yang dilakukan orang lain. Artikel ini akan mengulas dalil hadis tentang iri yang diperbolehkan, kisah teladan para sahabat, serta hikmah pengelolaan iri agar menjadi energi positif dalam kehidupan.

Iri dalam Pandangan Umum Umat Islam

Mayoritas masyarakat Muslim, baik di Indonesia maupun dunia, memahami iri hati atau hasad sebagai sifat tercela yang harus dijauhi. Iri sering dipahami sebagai perasaan tidak senang ketika melihat orang lain memperoleh nikmat.

Pemahaman ini tidak sepenuhnya keliru. Dalam banyak kondisi, iri memang dapat merusak hati, memicu kebencian, dan menghapus pahala. Namun demikian, Islam tidak memandang iri secara hitam-putih. Ada bentuk iri tertentu yang justru diperbolehkan dan bernilai positif.

Hadis tentang Iri yang Diperbolehkan

Rasulullah Saw. secara tegas menjelaskan batas iri yang diperkenankan dalam sebuah hadis:

“Tidak boleh iri (dengki) kecuali kepada dua hal. Yaitu kepada seseorang yang Allah berikan kepadanya harta lalu ia membelanjakannya di jalan yang benar, dan seseorang yang Allah berikan hikmah (ilmu) lalu ia mengamalkannya dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Hadis ini menegaskan bahwa iri yang diperbolehkan adalah iri dalam kebaikan. Iri semacam ini tidak mengharapkan nikmat orang lain hilang, tetapi mendorong diri untuk melakukan kebaikan serupa, bahkan lebih baik.

Teladan Iri dalam Kebaikan pada Perang Tabuk

Salah satu contoh nyata iri yang positif terlihat pada peristiwa Perang Tabuk. Saat itu Rasulullah Saw. memerintahkan para sahabat untuk bersedekah demi kebutuhan jihad.

Seorang sahabat yang awalnya berniat berdagang mengurungkan niatnya. Ia justru menyedekahkan seluruh harta dagangannya, ditambah ratusan unta, kuda, serta dinar emas dan perak. Sedekah besar ini menggugah hati para sahabat lain.

Melihat keteladanan tersebut, para sahabat merasa iri dalam kebaikan. Hati mereka tergerak untuk ikut bersedekah sesuai kemampuan masing-masing. Bahkan ada sahabat yang menyerahkan seluruh hartanya tanpa menyisakan apa pun, kecuali tawakal kepada Allah dan Rasul-Nya.

Iri yang muncul di sini bukanlah dengki, melainkan pemantik semangat untuk berlomba dalam kebaikan.

Kisah Santri dan Pelajaran tentang Iri

Kisah lain datang dari seorang santri di pesisir Jawa. Ia dikenal berperangai kasar dan tidak pernah senang melihat orang lain memiliki kelebihan. Hidupnya dipenuhi kegelisahan dan keinginan yang tak pernah selesai.

Suatu hari ia mengadu kepada gurunya. Sang guru menasihatinya untuk berlemah lembut dan menjauhi iri. Namun, ketika santri itu merasa berat, sang guru memberikan izin: ia boleh iri, dengan syarat iri tersebut hanya dalam kebaikan, khususnya ibadah.

Nasihat itu mengubah hidup sang santri. Ia mulai merasa tertantang melihat temannya rajin beribadah, giat belajar, dan berakhlak baik. Beberapa bulan kemudian, ia justru dinobatkan sebagai santri terbaik.

Iri yang ia kelola dengan benar telah menjadi bahan bakar perubahan diri.

Hikmah Iri yang Positif dalam Kehidupan

Dari hadis dan kisah-kisah tersebut, kita dapat mengambil pelajaran bahwa iri tidak sepenuhnya dilarang dalam Islam. Yang dilarang adalah iri yang disertai kebencian dan keinginan agar nikmat orang lain lenyap.

Sebaliknya, iri yang positif akan melahirkan semangat berlomba dalam kebaikan, meningkatkan kualitas ibadah, memperbaiki akhlak, dan memotivasi diri untuk berkembang.

Dengan manajemen iri yang tepat, sifat ini justru menjadi energi spiritual dan sosial yang membawa dampak positif dalam kehidupan.

Penutup

Iri yang positif dalam Islam adalah iri yang diarahkan pada kebaikan. Selama iri tersebut mendorong kita untuk beramal lebih baik tanpa merugikan orang lain, maka ia bukan dosa, melainkan motivasi. Dari sinilah lahir semangat berlomba dalam kebaikan, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah Saw.

Referensi:

Al-Bukhari. Muhammad Bin Ismail. Al-Jami’ al-Musnad al-Sahih al-Mukhtasar min Umur Rasulillah Sallallahu ‘alaihi wa sallam wa Sunanihi wa Ayyamihi. Beirut. Darr kutub Al-Islamiyyah

Al-Mubarakfuri.Shafiyyurahman.2020. Ar-rahiq Al-Makhtum. Sirah Nabawiyah , Sejarah Hidup Rasulullah saw. dari Lahir Hingga Wafat. Sukoharjo. Insan Kamil Press

Bagikan artikel ini :

Post Comment