Loading Now

Harald Motzki: Orientalis Penentang Teori Orientalis

Harald Motzki orientalis dan metode isnad cum matan

Harald Motzki orientalis yang menarik karena posisinya tidak sepenuhnya sejalan dengan banyak orientalis lain dalam studi hadis. Berbeda dengan Al-Qur’an yang bersifat qath’i ats-subut, hadis memiliki periwayat, musnad, rantai sanad, perbedaan matan, dan proses pembukuan yang relatif jauh dari masa hidup Rasulullah. Karena itu, ruang kajinya terbuka lebar, termasuk kemungkinan pemalsuan dalam sejarah transmisi. Di sisi lain, perbedaan cara pandang antara sarjana Muslim dan sarjana Barat membuat diskursus autentisitas hadis semakin panas. Namun, Motzki justru hadir sebagai peneliti Barat yang mengkritik teori-teori pendahulunya. Lewat penelitian atas Mushannaf Abdur Razzaq dan metode isnad cum matan, ia berusaha menunjukkan bahwa kesimpulan “hadis hanya konstruksi belakangan” tidak sesederhana itu.

Kenapa Studi Hadis Selalu Diperdebatkan

Studi Hadis dalam Islam merupakan suatu hal menarik untuk terus dikaji. Berbeda dengan Al-Qur’an yang bersifat qath’i ats-subut, hadis memiliki periwayat, musnad, rantai sanad, perbedaan matan, serta proses pembukuan yang relatif jauh dari masa hidup Rasulullah. Faktor-faktor tersebut membuka kemungkinan terjadinya pemalsuan dalam proses pembukuan.

Karena itu, para sarjanawan—baik Muslim maupun Barat—banyak meneliti autentisitas hadis sebagai sumber ajaran umat Islam. Sebagian besar tokoh Muslim berkesimpulan bahwa hadis adalah autentik. Hal ini boleh jadi karena dalam diri mereka sudah terpatri kebenaran Islam dan doktrin hadis sebagai sumber ajaran yang perlu dipercaya.

Namun, berbeda dengan para sarjana Barat. Mereka memposisikan hadis sebagai sumber data dan objek penelitian. Di sisi lain, posisi itu membuat tidak sedikit dari mereka meragukan autentisitas hadis.

Posisi Sarjana Barat dan Munculnya Motzki

Kendati demikian, ada juga sarjana Barat yang mengkritik sarjana Barat lainnya. Salah satunya adalah Harald Motzki orientalis yang dikenal sebagai cendekiawan, peneliti, dan guru besar metodologi studi Islam dari Barat.

Motzki melakukan penelitian terhadap kitab hadis Mushannaf Abdur Razzaq karya Abdurrazzaq As-Shan’ani. Karya ini sering dipandang sebagai salah satu dokumen hadis tertua yang penting untuk menguji klaim-klaim besar dalam studi hadis. Hasil penelitiannya dianggap meruntuhkan produk penelitian orientalis lainnya yang beranggapan bahwa hadis adalah konstruksi ulama abad ketiga (Hadi Wiryawan 2020). Adapun teori yang digunakannya adalah isnad cum matan.

Motzki dan Mushannaf Abdur Razzaq

Motzki menaruh perhatian pada Mushannaf Abdur Razzaq karena ia melihat perlunya “bukti dokumen” yang lebih dekat dengan periode awal. Selain itu, kitab ini memberi ruang untuk melihat variasi jalur periwayatan dan variasi teks (matan) secara lebih rinci. Karena itu, penelitian Motzki sering dibaca sebagai upaya menantang generalisasi yang terlalu cepat: seolah-olah semua hadis baru lahir belakangan.

Singkatnya, Motzki tidak sedang memutihkan seluruh tradisi hadis. Namun, ia juga tidak menerima begitu saja kesimpulan orientalis pendahulunya.

Teori Dating dan Isnad cum Matan

Teori dating dan isnad cum matan merupakan sebuah terobosan baru dalam menguji autentisitas hadis yang ditawarkan Motzki. Sebenarnya teori ini telah dimulai oleh Hendrik Kramers pada tahun 1953 dan Joseph van Ess dalam bukunya Zwischen Hadith and Theologie pada tahun 1975. Namun, karena Motzki diklaim memiliki keseriusan dalam mengkaji hadis, teori ini lebih dikenal sebagai teori Motzki (Wazna 2018). Baca juga (Ahmad Masyhur 2022).

Empat Kategori Dating Menurut Motzki

Dalam proses dating, Motzki membagi metode penanggalan hadis menjadi empat kategori:

  1. Teori dating berdasarkan analisis matan oleh Ignaz Goldziher dan Marston Speight.

  2. Teori dating berdasarkan analisis isnad yang secara khusus dikembangkan oleh Joseph Schacht dan G.H.A. Juynboll.

  3. Teori dating berdasarkan kitab-kitab koleksi hadis, dipraktikkan oleh Schacht dan Juynboll.

  4. Teori dating berdasarkan analisis isnad dan matan yang ditawarkan Harald Motzki dan G. Schoeler. (Sumbulah, Zarwaki, dan Huda 2022)

Langkah Isnad cum Matan (Versi Motzki)

Adapun langkah-langkah yang harus ditempuh dalam menganalisis sumber berdasarkan isnad cum matan menurut Motzki adalah sebagai berikut:
Pertama, menghimpun semua varian hadis beserta isnadnya.
Kedua, menyusun bundel isnad yang terdiri dari semua varian isnad untuk mendeteksi partial common link (pcl) dan common link (cl) pada jalur periwayatan yang berbeda-beda.
Ketiga, menganalisis matan untuk mengetahui apakah common link dapat dianggap benar-benar sebagai kolektor atau penyebar profesional.

Keempat, membandingkan kelompok varian sanad dan kelompok varian matan untuk mengetahui apakah ada korelasi atau tidak.
Kelima, jika ada korelasi, maka konklusi yang dapat ditarik adalah mengenai matan asli yang diriwayatkan oleh common link dan siapa yang bertanggung jawab mengubah matan dilihat dalam perjalanan periwayatan setelah common link. (Mufid 2017)

Teori mengenai isnad cum matan ini kemudian dikembangkan menjadi isnad cum matan analysis.

Sekilas tentang Isnad cum Matan Analysis

Kemunculan isnad cum matan analysis dilatarbelakangi anggapan Motzki bahwa studi isnad dan matan tidak akan cukup jika ingin mencapai tujuan yang komprehensif dalam mengkaji autentisitas hadis. Adapun yang menjadi dasar pemikiran isnad cum matan analysis adalah khabar yang memiliki banyak varian isnad dan matan.

Dasar pemikiran tersebut menunjukkan bahwa teori ini tidak digunakan untuk menganalisis matan dengan Al-Qur’an, hadis sahih, ataupun fakta sejarah. Sebaliknya, fokusnya adalah menganalisis kualitas riwayat teks seorang perawi, atau mengetahui perbedaan riwayat lain secara tekstual. (Haitomi dan Syachrofi 2020)

Untuk mencapai hasil isnad cum matan analysis, perlu dilakukan beberapa tahapan:
Pertama, menghimpun sebanyak-banyaknya varian yang dilengkapi dengan sanad.
Kedua, menghimpun semua jalur sanad untuk mendeteksi common link di berbagai generasi periwayat.
Ketiga, teks-teks dari berbagai varian tersebut dibandingkan untuk menemukan hubungan dan perbedaan, baik dalam susunan lafadz maupun strukturnya.

Keempat, membandingkan hasil analisis sanad dan matan. Dari sana dapat disimpulkan kapan dan di mana hadis yang dibicarakan itu disebarkan, serta siapa yang bertanggung jawab atas perubahan tersebut. Namun, jika terdapat perbedaan antara hasil analisis sanad dan matan—misalnya sanad menunjukkan hubungan antarvarian, tetapi matan tidak—maka dapat disimpulkan bahwa sanad maupun matan hadis tersebut cacat. Cacat itu bisa karena kecerobohan periwayat atau karena perubahan-perubahan yang disengaja.

Kritik Motzki terhadap Para Pendahulunya

Motzki dikenal sebagai tokoh orientalis yang banyak mengkritik teori pendahulunya. Beberapa teori yang dikritik adalah sebagai berikut.

Kritik terhadap Argumen e Silentio

Pertama, argumen e silentio, yaitu anggapan Joseph Schacht bahwa hadis sebagai dalil fikih dianggap tidak ada karena memiliki sanad tunggal. Dalam kasus ini, Motzki beranggapan bahwa ulama pada awal masa Islam tidak wajib mengutip semua rincian hadis meskipun mereka mengetahuinya.

Kritik terhadap Common Link

Kedua, common link. Motzki beranggapan bahwa tokoh common link dalam rantai sanad adalah Rasulullah. Definisi common link menurutnya adalah pengumpul sistematis pertama pencatat hadis pada abad pertama. Di sisi lain, Motzki berpendapat bahwa pada abad kedua dan ketiga, penyusunan hadis tidak hanya didasari dari teks-teks terdahulu, melainkan juga dari hafalan.

Kritik terhadap Projecting Back

Ketiga, projecting back. Motzki mengkritik teori ini melalui pendekatan sejarah. Hasil penelitian yang dilakukan Motzki menunjukkan fakta bahwa ahli fikih Hijaz telah mempelajari hadis sejak abad pertama. (Sumbulah, Zarwaki, dan Huda 2022)

Adapun pemaparan data dan produk penelitiannya dapat dilihat dalam karyanya The Muṣannaf of ʿAbd al-Razzaq al-Sanʿani as a Source of Authentic Aḥadith of the First Century.

Kesimpulan

Dari pemaparan data di atas dapat disimpulkan bahwa tidak semua orientalis mengkaji hadis untuk menjatuhkan dan menyerang Islam. Di antara mereka masih terdapat sedikit-banyak sarjanawan yang melakukan penelitian secara objektif untuk kepentingan dan perbendaharaan keilmuan. Karena itu, Harald Motzki orientalis menjadi contoh menarik: ia tetap peneliti Barat, tetapi berani mengoreksi teori orientalis sebelumnya melalui pendekatan isnad dan matan.

Daftar Pustaka

Ahmad Masyhur. 2022. “Harald Motzki, Pengkritik Orientalis Pengkaji Hadis.” ibtimes.id. https://ibtimes.id/harald-motzki-pengkritik-orientalis-pengkaji-hadis/ (November 20, 2023).

Hadi Wiryawan. 2020. “Harald Motzki dan Kontribusinya dalam Ilmu Hadis.” artikula.id. https://artikula.id/hadiwiryawan/harald-motzki-dan-kontribusinya-dalam-ilmu-hadis/ (November 20, 2023).

Haitomi, Faisal, dan Muhammad Syachrofi. 2020. “Aplikasi Teori Isnad Cum Matn Harald Motzki Dalam Hadis Misoginis Penciptaan Perempuan.” Al-Bukhari : Jurnal Ilmu Hadis 3(1): 29–55.

Mufid, Abdul. 2017. “Dating Hadits Tentang Persaksian Melihat Hilal: Telaah atas Isnad Cum Matn Analysis Harald Motzki.” Millati; Journal of Islamic Studies and Humanities 2(1): 85–103.

Sumbulah, Umi, Zarwaki, dan Muhammad Miftakhul Huda. 2022. “Isnad Cum Matan Analysis Sebagai Metode Otentifikasi Hadis Nabi (Studi Pemikiran Hadis Harald Motzki).” Jurnal Studi Hadis Nusantara 4(2): 125–33.

Wazna, Ruhama. 2018. “Metode Kontemporer Menggali Otentisitas Hadis ( Kajian Pemikiran Harald Motzki ).” Jurnal Ilmiah Ilmu Ushuluddin 17(2): 112.

Bagikan artikel ini :

Post Comment