Duka dari Yerusalem, Luka di Negeri Sendiri
Ledakan demi ledakan kembali membumbung ke langit Yerusalem. Suara tembakan membuat para jemaat salat Idulfitri di sekeliling Masjidil Aqsa berlarian. Takbir menggema, bersamaan dengan hamburan jemaat yang digiring rasa takut.
Pada Jumat (20/3/26) pagi waktu setempat, militer Israel menembakkan gas air mata. Tujuannya, mencegah para jemaat mendirikan salat Idulfitri. Padahal, bagi umat Islam di mana pun, Lebaran adalah momen istimewa.
Selepas sebulan berpuasa, Idulfitri menjadi saat yang paling dinanti. Di hari inilah syiar Islam tegak berdiri. Takbir, tahlil, serta tahmid menggema, memuji Sang Empunya Jagad sejak tenggelamnya surya hingga imam naik ke mimbar khutbah.
Makna Suci Idulfitri
Idulfitri adalah momen penyucian diri dan perayaan atas nikmat dan ampunan tuhan. Secara bahasa, id dalam bahasa Arab memang berarti kembali. Sementara itu, kata fithri bermakna ciptaan.
Sehingga, ketika keduanya ber-idhafah (joinment), maknanya kurang lebih menjadi kembali kepada ciptaan awal. Maksudnya, bersih dan suci tanpa noda dosa, seperti saat pertama kali lahir ke muka bumi dalam wujud sesosok bayi kecil.
Namun, di Yerusalem, di tepi-tepi Masjidil Aqsa, damai kesucian itu tak ada. Anak kecil dan orang dewasa berhamburan dalam ketakutan dan rasa ngeri. Takbir dan derap langkah larilah yang tampak dari potret kamera wartawan.
Bahkan, saat umat Islam telah mengalah dengan kebijakan penutupan Masjidil Aqsa, hari itu mereka pun tetap dilarang untuk beribadah.
Pembatasan Ibadah di Masjidil Aqsa
Otoritas Israel telah menutup Masjidil Aqsa sejak berlangsungnya perang kontra Iran pada akhir Februari 2026 lalu. Entah apa yang militer Israel sangsikan, praktik ibadah bagi warga Palestina benar-benar dihalangi.
Padahal, di momen bulan Ramadan, dahaga akan ibadah tentu mendera setiap umat Islam. Mereka tak angkat senjata, juga tak menenteng senapan. Namun, mereka seolah begitu berbahaya.
Karena itu, politisi dan ulama Palestina, Syekh Raed Salah, telah mengecam keras kebijakan sepihak dan fobiatik itu.
“Azan dilarang. Salat dilarang. Salat Jumat dan Tarawih tidak dibolehkan. Umat Islam beribadah dalam kedinginan, rintik hujan, serta semribit angin di luar Masjidil Aqsa. Sungguh, ujian ini telah mendera seluruh negeri Muslim dan Arab tanpa kecuali,” serunya.
Penangkapan Syekh Raed Salah
Tak berselang lama, beberapa jam seusai menyuarakan seruan itu, militer Israel menangkap Syekh Raed Salah. Ia ditangkap saat menghadiri undangan buka bersama di rumah satu keluarga di Yerusalem.
Bagi Syekh Raed, tentara dan penjara Israel bukan lagi hal asing baginya. Pada akhir 2021 lalu, ia dibebaskan dari penjara selepas 17 bulan mendekam di balik dinginnya jeruji besi.
Ia dijebloskan tanpa proses hukum yang jelas. Ia dituduh sebagai provokator terorisme dan pendukung organisasi militer ilegal. Pengadilan Israel memvonisnya dengan hukuman bui selama 28 bulan pada Agustus 2020.
Sementara itu, publik Palestina mengenal pribadinya sebagai pengarang buku dan pembela Al Aqsa. “Syekh Raed layak menyandang titel sebagai suri teladan umat,” puji Syekh Muhammad Dedew al Shanqiti.
Dari Yerusalem ke Indonesia
Potret yang terjadi di Yerusalem adalah contoh nyata dari betapa umat Islam tak
pernah lepas dari tindak persekusi dan diskriminasi. Di Indonesia sendiri, meski tak
semengerikan Yerusalem, praktik persekusi di hari Idulfitri juga terjadi.
Warta beberapa media lokal menyebut jika sebagian kaum Muslimin di Sukoharjo dan Sulawesi Selatan yang berhari raya pada hari Jumat mengalami pelarangan beribadah. Hal itu tak lepas dari keterangan pemerintah dalam Sidang Isbat yang di antaranya mengharamkan Idulfitri selain mengikuti keputusan negara.
Sementara di Yerusalem persekusi dilakukan oleh tentara Zionis, di dalam negeri persekusi itu justru dilancarkan oleh sesama muslim. Lebih mirisnya, pemerintah turut andil di dalamnya. Nahas!
_______
Penulis: M. Khoirul Imamil M
Bagikan artikel ini :



Post Comment