Membedah Ilmu Kalam: Pilar Rasional dalam Teologi Islam
Apa itu ilmu kalam? Ilmu kalam adalah cabang ilmu dalam Islam yang berperan penting untuk menjelaskan dan mempertahankan keyakinan (akidah) secara rasional. Islam bukan hanya mengatur ritual ibadah, tetapi juga menghadirkan sistem pemikiran yang utuh. Karena itu, ilmu kalam berkembang sebagai ruang dialog intelektual untuk menguatkan iman dengan dalil dan argumen.
Istilah kalam sendiri sering dikaitkan dengan “percakapan” atau “perdebatan”, sebab ilmu ini tumbuh dari kebutuhan menjawab pertanyaan teologis melalui diskusi. Dengan begitu, ilmu kalam menjadi salah satu pilar penting dalam teologi Islam, terutama ketika muncul ragam pandangan yang saling berhadapan.
Apa Itu Ilmu Kalam?
Secara bahasa, istilah kalam berasal dari bahasa Arab yang berarti “perkataan” atau “ucapan”. Ahmad Hanafi menjelaskan bahwa ilmu kalam membahas tentang keberadaan Allah, sifat-sifat yang wajib bagi-Nya, sifat-sifat yang mustahil bagi-Nya, serta sifat-sifat yang mungkin bagi-Nya.
Selain itu, ilmu kalam juga membahas para rasul. Pembahasannya mencakup pembuktian kerasulan, serta sifat-sifat yang harus dimiliki, yang mustahil dimiliki, dan yang mungkin ada pada para rasul. Sementara itu, menurut Husein Tripoli, ilmu kalam adalah cabang ilmu yang membahas dasar-dasar keyakinan Islam dengan bukti yang kuat dan meyakinkan (dalam Muhammad Hasbi, 2015:1).
Hasbi al-Shiddieqy menambahkan bahwa ilmu tauhid adalah disiplin ilmu yang mengkaji metode menetapkan keyakinan keagamaan dengan beragam dalil. Dalil itu bisa bersumber dari wahyu (naqli), akal (aqli), maupun intuisi keimanan (wijdani) (dalam Muhammad Hasbi, 2015:2).
Kesimpulannya, jika ada yang bertanya apa itu ilmu kalam, maka jawabannya: ilmu kalam adalah ilmu yang mempelajari dan mempertahankan akidah Islam dengan pendekatan rasional dan argumentatif. Fokusnya mencakup pembahasan tentang Allah, sifat-sifat-Nya, serta bukti kerasulan para nabi. Karena itu, ilmu ini juga berperan untuk menguatkan iman dan merespons pandangan yang menyimpang dari ajaran Islam menurut Ahlussunnah.
Sejarah Perkembangan Ilmu Kalam
Sejarah ilmu kalam tidak bisa dilepaskan dari dinamika sosial, politik, dan intelektual umat Islam. Pada mulanya, ilmu kalam belum menjadi disiplin tersendiri. Saat itu, persoalan akidah dijawab langsung melalui Al-Qur’an dan sunnah.
Namun kemudian, konflik politik memunculkan perdebatan teologis. Peristiwa besar seperti terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan dan Perang Shiffin antara Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah melahirkan perpecahan. Dari sini muncul kelompok-kelompok seperti Khawarij dan Syi’ah. Perdebatan mereka menuntut jawaban akidah yang lebih sistematis, sehingga menjadi benih lahirnya ilmu kalam (Delia Putri et al., 2025).
Selanjutnya, ilmu kalam memasuki fase baru saat Washil bin Atha’, murid Hasan al-Bashri, memisahkan diri dan mendirikan Mu’tazilah. Aliran ini menekankan peran akal dalam memahami Tuhan. Mereka membahas keadilan Tuhan, kebebasan manusia, serta pembacaan rasional terhadap teks agama. Pada titik ini, ilmu kalam mulai disusun lebih sistematis dan dipakai dalam perdebatan internal maupun dengan non-Muslim (Putri et al., 2025).
Seiring waktu, ilmu kalam makin mapan. Sejak sekitar abad ke-5 Hijriah, ilmu ini diajarkan di madrasah sebagai bagian dari kurikulum pendidikan Islam klasik. Tokoh seperti Imam al-Ghazali juga berperan besar karena menggabungkan pendekatan kalam, filsafat, dan tasawuf. Karya-karyanya lalu menjadi rujukan penting dalam studi keislaman.
Di era kontemporer, tantangannya berubah. Pemikiran modern dan filsafat Barat berkembang pesat. Isu-isu seperti pluralisme, sekularisme, dan relativisme ikut memengaruhi lanskap intelektual. Karena itu, beberapa pembaru seperti Muhammad Abduh dan Fazlur Rahman berusaha memperbarui pendekatan ilmu kalam agar tetap relevan dengan zaman, tanpa meninggalkan nilai dasar Islam. Dengan demikian, ruh dialog dan semangat kritis ilmu kalam dihidupkan kembali dalam konteks global yang lebih kompleks.
Fungsi Ilmu Kalam
Ilmu kalam berfungsi sebagai fondasi intelektual untuk menguatkan keyakinan melalui dalil dan argumen. Selain itu, fungsi ilmu kalam juga terlihat dalam beberapa hal berikut:
-
Mengokohkan akidah Islam dan menjaga kemurniannya dari penyimpangan.
-
Merespons ajaran yang menyesatkan dengan penjelasan yang logis dan runtut.
-
Mendorong umat memahami ketuhanan secara mendalam, tidak sekadar ikut-ikutan.
-
Melindungi keimanan dari pengaruh kesesatan dan keraguan.
-
Menjadi penopang nilai Islam yang bertumpu pada iman, Islam, dan ihsan.
Karena fungsi itulah, ilmu kalam sering dianggap penting untuk memperkuat fondasi teologi, terutama ketika umat berhadapan dengan banyak wacana dan pertanyaan baru.
Ilmu Kalam sebagai Dasar Teologi Islam Rasional
Sebagai dasar teologi Islam, ilmu kalam membangun kerangka berpikir yang sistematis tentang iman. Ilmu ini mempertemukan akal dan wahyu sebagai dua hal yang saling melengkapi. Harun Nasution dalam Islam Rasional menekankan bahwa pendekatan rasional dalam ilmu kalam penting agar Islam hadir sebagai agama yang selaras dengan tuntutan zaman.
Dalam konteks pendidikan Islam, ilmu kalam juga membantu menanamkan pemahaman rukun iman secara lebih kuat. Jadi, seseorang bukan hanya tahu “apa yang harus diyakini”, tetapi juga paham “mengapa hal itu diyakini”. Dengan cara ini, iman tidak mudah goyah ketika berhadapan dengan perdebatan atau keraguan.
FAQ: Apa Itu Ilmu Kalam?
1) Apa itu ilmu kalam secara sederhana?
Ilmu kalam adalah ilmu yang membahas akidah Islam dengan dalil wahyu dan argumen rasional.
2) Mengapa ilmu kalam muncul dalam sejarah Islam?
Karena muncul perdebatan teologis akibat konflik politik, perbedaan kelompok, serta kebutuhan menjawab pertanyaan akidah secara sistematis.
3) Apa manfaat mempelajari ilmu kalam hari ini?
Agar akidah lebih kokoh, pemahaman iman lebih jernih, dan mampu merespons tantangan pemikiran modern secara matang.
Penutup
Ilmu kalam bukan sekadar warisan masa lalu. Ilmu ini tetap relevan, karena membantu memperkuat akidah, menjernihkan pemahaman, dan menjawab tantangan pemikiran zaman. Jadi, ketika kita memahami apa itu ilmu kalam, kita sedang memperkuat fondasi iman sekaligus mengasah nalar agar berjalan seimbang.
Dengan mengenal ilmu kalam, umat Islam dapat membangun keyakinan yang kokoh dan tidak mudah goyah. Maka, menjadikan ilmu kalam sebagai dasar teologi Islam adalah langkah penting untuk menjaga iman dan akal secara bersamaan.
Bagikan artikel ini :



Post Comment