Loading Now

Trilogi Planet of the Apes

Trilogi Planet of the Apes menampilkan Caesar si kera cerdas

Trilogi Planet of the Apes adalah film sains fiksi Amerika yang merilis total tiga film: Rise of the Planet of the Apes (2011), Dawn of the Planet of the Apes (2014), dan War for the Planet of the Apes (2017).

Selama puluhan tahun, waralaba Planet of the Apes mengalami evolusi besar. Dari yang dulu mengandalkan kostum kera, kini tampil jauh lebih realistis lewat CGI dan motion-capture.

Trilogi ini merupakan garapan ulang dari versi klasik (rilis 1968–1973) yang diadaptasi dari novel La Planète des Singes (1963) karya Pierre Boulle.


Sinopsis Rise of the Planet of the Apes (2011)

Di film pertama, kisah bermula dari eksperimen ilmiah untuk menyembuhkan Alzheimer. Will Rodman (James Franco), seorang ilmuwan, berusaha menciptakan obat untuk ayahnya yang menderita Alzheimer.

Obat itu diberi nama ALZ-112. Uji coba dilakukan pada seekor kera betina yang kemudian dinamai Bright Eyes. Efeknya mengejutkan: sel otak berkembang pesat, sehingga Bright Eyes menjadi jauh lebih cerdas.

Namun kemudian terjadi tragedi. Bright Eyes mengamuk dan menghancurkan laboratorium. Karena situasi tak terkendali, ia akhirnya ditembak mati.

Meski begitu, Will menolak membunuh bayi kera Bright Eyes. Ia memilih merawatnya dan memberi nama Caesar.

Di saat yang sama, Will semakin putus asa melihat kondisi ayahnya. Akhirnya, ia menyuntikkan ALZ-112 ke tubuh ayahnya. Hasilnya terlihat seperti keajaiban: kondisi ayahnya membaik dan gejala Alzheimer perlahan mereda. Akan tetapi, risiko besar mulai mengintai.

Sementara itu, Caesar (Andy Serkis) tumbuh dengan kecerdasan yang tidak biasa. Will menyimpulkan bahwa kecerdasan itu menurun lewat garis keturunan. Delapan tahun berlalu, Caesar semakin dewasa. Ia belajar banyak hal, mulai dari mengenali benda, abjad, hingga bahasa isyarat.

Lalu konflik besar terjadi. Ayah Will kambuh dan membuat keributan dengan tetangga. Caesar yang tak terima melihat ayah Will diperlakukan kasar langsung menyerang tetangga itu hingga jarinya putus.

Akibatnya, polisi memaksa Will menyerahkan Caesar ke penangkaran kera. Dengan berat hati, Caesar pun tinggal di sana bersama kera-kera lain.

Di sinilah kebangkitan dimulai.

Caesar menyusun rencana kabur. Ia berhasil mengambil ALZ-112 dari rumah Will. Cairan itu kemudian menyebar ke kandang-kandang lain, membuat banyak kera berevolusi menjadi lebih cerdas.

Keesokan harinya, Caesar mulai membangun koloni. Ia berteman dengan Maurice (orangutan), Buck (gorila), dan Rocket (simpanse). Pada akhirnya, Caesar memimpin kawanan kera menyerbu San Fransisco.

Ketika Caesar kembali ke rumah lamanya, ia membuat keputusan penting: ia tidak ingin kembali sebagai “peliharaan”. Ia memilih hidup sebagai kera yang merdeka.


Sinopsis Dawn of the Planet of the Apes (2014)

Film kedua melanjutkan kisah koloni kera cerdas di hutan utara San Fransisco. Sementara itu, umat manusia banyak tewas karena virus (dari eksperimen ALZ-113) yang menyebar selama bertahun-tahun.

Caesar kini hidup berkeluarga bersama Cornelia. Mereka memiliki anak, Blue Eyes dan Cornelius.

Konflik dimulai saat Blue Eyes dan sahabatnya bertemu kelompok manusia. Situasi memanas dan memicu ketegangan. Di sisi lain, kelompok manusia ingin menghidupkan kembali pembangkit listrik di hutan agar pemukiman mereka bertahan.

Malcolm (Jason Clarke) mencoba bernegosiasi dengan Caesar. Akhirnya, dengan bantuan para kera, bendungan dan pembangkit listrik bisa diperbaiki.

Namun, Koba—salah satu bawahan Caesar—tidak percaya pada manusia. Menurutnya, manusia selalu menjadi ancaman.

Koba lalu berkhianat. Ia mencuri senjata, menembak Caesar, lalu menyebarkan propaganda bahwa Caesar dibunuh manusia. Setelah itu, Koba memimpin pasukan kera menyerang pemukiman manusia.

Ternyata Caesar masih hidup. Ia dirawat oleh Ellie (Keri Russell), istri Malcolm. Setelah pulih, Caesar menghadapi Koba. Pertarungan mereka brutal dan emosional. Pada akhirnya, Caesar menang dan Koba tewas.

Meski koloni kembali dipimpin Caesar, perang besar seperti sudah tak terhindarkan. Caesar sadar, gelombang konflik berikutnya akan lebih besar.


Sinopsis War for the Planet of the Apes (2017)

Film ketiga menempatkan manusia dan kera dalam situasi perang terbuka. Virus flu simian telah membunuh sebagian besar manusia. Kera cerdas membangun koloni dan dipimpin Caesar.

Setelah konflik Koba, pihak manusia meminta bantuan militer. Kolonel McCullough (Woody Harrelson) memimpin operasi besar untuk membasmi koloni kera.

Tragedi terjadi: Kolonel membunuh Cornelia dan Blue Eyes. Caesar terpukul, marah, dan ingin membalas dendam.

Koloni kera berencana pindah ke tempat aman. Namun Caesar memilih mengejar Kolonel. Ia ditemani Maurice, Rocket, dan Luca. Mereka juga bertemu seorang anak perempuan yang diberi nama Nova, serta seekor kera yang bisa bicara bernama Bad Ape.

Singkatnya, Caesar akhirnya tertangkap. Di markas militer, para kera dipaksa kerja paksa membangun tembok. Kolonel mengaku ia membangun tembok untuk menghadapi militer utara. Ia juga menyimpan trauma: anaknya sendiri terinfeksi virus dan ia terpaksa membunuhnya.

Maurice, Rocket, Bad Ape, dan Nova merancang pelarian lewat terowongan. Rencana berhasil. Saat itu juga militer utara menyerang markas.

Caesar menemui Kolonel dan mendapati ia sudah terinfeksi virus hingga tak bisa berbicara. Kolonel pun mengakhiri hidupnya sendiri.

Markas hancur, perang berakhir dengan cara yang ironis. Kaum kera selamat dan melanjutkan perjalanan menuju rumah baru.

Namun Caesar terluka parah. Ia sempat berbincang dengan Maurice untuk terakhir kalinya. Caesar menegaskan bahwa kaum kera akan tetap kuat, dengan atau tanpa dirinya. Tak lama setelah itu, Caesar menghembuskan napas terakhir.


Ulasan Trilogi Planet of the Apes

Dari sisi visual, trilogi ini terasa “hidup”. Motion-capture dan CGI-nya membuat kera terlihat seperti benar-benar nyata. Rasanya bukan aktor yang bermain, melainkan kera sungguhan yang sedang berakting.

Matt Reeves juga sukses menghadirkan sinematografi yang nyaman dipandang. Lingkungan manusia dan kera digambarkan detail, sehingga dunia filmnya terasa solid.

Akting para pemeran pun kuat. Andy Serkis sebagai Caesar benar-benar menjadi jiwa trilogi ini. Dengan cara bicara Caesar yang tidak terlalu lancar, kesan realistisnya justru makin terasa.

Selain itu, karakter lain seperti Maurice, Rocket, Koba, dan Bad Ape juga terasa “punya nyawa”. Ini salah satu kekuatan utama filmnya.

Dari segi cerita, trilogi ini bukan sekadar reboot. Alurnya terasa fresh dan emosional. Character development Caesar dibangun dengan rapi. Bahkan, kalau kamu mengikuti perjalanan Caesar dari awal, kamu bisa merasa bahwa ia lebih “manusiawi” daripada manusia.

Menurut saya pribadi, trilogi Planet of the Apes adalah salah satu trilogi terbaik. Ceritanya filosofis, emosional, dan punya pesan kuat tentang peradaban, kekuasaan, dan moralitas.


Lanjut ke Film Berikutnya

Kisah dunia Planet of the Apes berlanjut ke film berikutnya berjudul Kingdom of the Planet of the Apes. Film ini mengambil latar ratusan tahun setelah era Caesar, ketika tatanan dunia berubah: manusia makin primitif, dan kera menjadi pemimpin.

___
Danu Rahman Wibowo, Siswa kelas 5 Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta

Bagikan artikel ini :

Post Comment