Loading Now

Redefenisi Pelajar di Era Post-Truth

 Redefinisi pelajar di era post-truth menjadi sebuah keharusan di tengah perubahan zaman yang begitu cepat. Membicarakan pelajar selalu menghadirkan keragaman cerita dan pengalaman. Ada pelajar yang tekun membaca buku dan aktif di perpustakaan, ada yang sibuk berorganisasi, menorehkan prestasi akademik dan non-akademik, hingga mereka yang lebih suka menikmati masa muda dengan caranya sendiri. Semua itu menunjukkan bahwa dunia pelajar adalah dunia yang berwarna. Namun pertanyaannya, siapakah yang benar-benar layak disebut pelajar? Apakah hanya mereka yang berprestasi dan berperingkat, ataukah setiap individu yang sedang belajar menemukan jati dirinya? Artikel ini mencoba memaknai ulang konsep pelajar di era post-truth dengan pendekatan ilmu, iman, dan amal.

Ragam Wajah Pelajar Hari Ini

Membicarakan pelajar memang tidak pernah membosankan. Dunia pelajar selalu menyuguhkan beragam kisah yang menarik. Ada pelajar yang menghabiskan waktunya dengan membaca buku dan keluar-masuk perpustakaan. Ada pula yang aktif berorganisasi, menorehkan prestasi akademik dan non-akademik, hingga mereka yang gemar nongkrong, berwisata, atau sekadar menikmati kebersamaan dengan teman.

Keberagaman ini mengingatkan kita pada semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda-beda, tetapi tetap satu. Itulah pelajar: unik, beragam, dan memiliki ciri khas masing-masing.

Siapa dan Apa Itu Pelajar?

Pertanyaan mendasar kemudian muncul: siapakah pelajar itu? Apakah pelajar harus selalu berprestasi, meraih peringkat, dan unggul di segala bidang?

Realitasnya, tidak semua pelajar bisa menjadi juara kelas atau menjuarai lomba. Hanya sebagian kecil yang memiliki capaian akademik di atas rata-rata. Lalu bagaimana dengan pelajar lain yang tidak menonjol secara akademik atau non-akademik? Apakah masa depan mereka otomatis suram?

Pertanyaan ini sering kali lahir dari cara pandang yang sempit terhadap makna pelajar.

Setiap Pelajar Punya Keistimewaan

Setiap manusia terlahir dengan keistimewaannya masing-masing. Tidak ada manusia yang sama, baik dari segi rupa, kecerdasan, maupun keterampilan. Begitu pula pelajar.

Ada yang unggul di bidang seni, tetapi kurang menonjol dalam pelajaran formal. Ada yang pandai olahraga, tetapi tidak tertarik pada dunia bisnis. Semua itu bukan kekurangan, melainkan perbedaan potensi.

Karena itu, semua pelajar sejatinya cerdas dengan caranya masing-masing. Yang dibutuhkan adalah kesadaran akan kemampuan diri, kekuatan, serta keterbatasan yang dimiliki, lalu mengelolanya menjadi potensi yang bermanfaat.

Ilmu, Iman, dan Amal sebagai Fondasi Pelajar

Secara umum, pelajar memiliki ciri berpikir dan bertindak berdasarkan ilmu, iman, dan amal yang saling berkesinambungan.

Ilmu

Ilmu adalah pengetahuan yang disusun secara sistematis, dapat dipertanggungjawabkan secara akademik dan dapat membantu manusia memahami realitas dengan benar.

Sebagai contoh, gerhana matahari dahulu dipahami sebagai peristiwa mistis. Namun melalui ilmu pengetahuan, kita mengetahui bahwa gerhana terjadi karena posisi Matahari, Bulan, dan Bumi berada dalam satu garis lurus.

Di era modern, ilmu berkembang dalam berbagai cabang. Baik ilmu alam, sosial, teknik, maupun ilmu keagamaan. Semua ilmu memiliki manfaat, tergantung bagaimana ia dipelajari dan diamalkan.

Iman

Namun ilmu saja tidak cukup. Ilmu perlu dibarengi dengan iman. Iman menjadi penuntun agar ilmu tidak disalahgunakan.

Tanpa iman, ilmu dan teknologi bisa merusak alam, lingkungan, bahkan kemanusiaan. Sebaliknya, ilmu yang dibarengi iman akan melahirkan kemaslahatan dan kebaikan bagi banyak pihak.

Amal

Tahap terakhir adalah amal. Ilmu dan iman yang tidak diamalkan akan kehilangan makna. Amal menjadi wujud nyata dari apa yang telah dipelajari dan diyakini.

Beramal berarti mengabdikan ilmu untuk kebaikan sesama manusia, lingkungan, bangsa, dan negara.

Pelajar di Era Post-Truth

Di era post-truth, kebenaran sering kali dikalahkan oleh opini dan emosi. Informasi bertebaran tanpa saringan, hoaks mudah dipercaya, dan pengetahuan sering kali dangkal.

Di sinilah peran pelajar menjadi sangat penting. Pelajar di era post-truth harus mampu berpikir kritis, memverifikasi informasi, dan tidak mudah terprovokasi. Dengan bekal ilmu, iman, dan amal, pelajar dapat menjadi agen perubahan yang bermartabat.

Penutup

Redefinisi pelajar di era post-truth menuntut kita untuk tidak lagi memaknai pelajar sebatas nilai dan prestasi. Pelajar adalah mereka yang terus belajar memahami diri, mengembangkan potensi, dan mengabdikan ilmunya dengan iman serta amal.

Dengan fondasi itu, pelajar akan tumbuh menjadi manusia berakhlak, bermanfaat, dan mampu menghadapi tantangan zaman. In syaa Allah.

Bagikan artikel ini :

Post Comment