Loading Now

Meneladankan Asmaul Husna

Meneladani Asmaul Husna: dari persiapan diri sampai refleksi.

Jika kita tidak memahami bagaimana kita berada, kita akan kesulitan memahami makna eksistensi diri. Kita mengetahui Allah bereksistensi karena kita dan seluruh alam bereksistensi. Kita diciptakan oleh-Nya.

Allah juga menciptakan pengetahuan. Pengetahuan itu hadir dalam nama-nama yang diajarkan kepada Adam. Pengetahuan itu diwarisi manusia. Ia berasal dari-Nya, milik-Nya, dan menjadi jalan menuju-Nya. Ia menuntun kita menuju Yang Maha Mengetahui.

Karena itu, meneladani asmaul husna bukan sekadar hafalan. Ia adalah upaya membentuk diri. Ia adalah ikhtiar agar hidup lebih jernih, lebih lembut, dan lebih terarah.


Persiapan Diri untuk Meneladani Asmaul Husna

Agar mampu mengawali jalan kebahagiaan, dan menjadi dekat dengan Tuhan, kita perlu membersihkan hati. Terutama dari cinta berlebihan kepada dunia.

Kedudukan manusia berada di antara hewan dan malaikat. Kebutuhan badaniyah mencerminkan sisi hewani manusia. Sementara itu, sisi malaikat digerakkan oleh satu dorongan utama: ingin mengetahui, menemukan, dan berada dekat dengan Tuhan. Sisi kemalaikatan ini juga ada dalam diri manusia.

Karena itu, perlu ada persiapan batin.

Pertama, kita perlu mengendalikan jiwa hewani yang sering menguasai diri. Insya Allah, usaha ini membantu peneladanan menjadi nyata.

Kedua, saat menerapkan jejak sifat-sifat Allah dalam diri kita, kita perlu mengagungkan nilai sifat itu sendiri. Dengan begitu, kita tidak asal meniru, tetapi memahami maknanya. (Syekh Tosun Bayrak al-Jerrahi, 2008, hlm. 19–20)

Setelah itu, kita juga perlu memantapkan hubungan diri dengan alam sekitar. Kita menyaksikan kesamaan dalam keseluruhan eksistensi material. Manusia adalah mikrokosmos dari makrokosmos. Dan keduanya memantulkan jejak sifat-sifat Allah.


Peneladanan Asmaul Husna dalam Kehidupan

Tuhan bereksistensi, dan kita pun bereksistensi. Namun, eksistensi Tuhan kekal. Eksistensi kita sementara.

Dia berdiri sendiri. Sebaliknya, eksistensi kita bergantung pada-Nya. Eksistensi-Nya tidak terikat ruang. Eksistensi kita dibatasi ruang dan waktu.

Sifat-sifat-Nya menunjukkan ketakterbatasan. Sementara pada diri kita, yang hadir hanya jejak yang kecil. Karena itu, peneladanan bukan menyamakan diri dengan Tuhan. Peneladanan adalah menumbuhkan akhlak, sesuai kapasitas manusia.

Berikut beberapa contoh praktik meneladani asmaul husna.


Al-Ghaffar (Maha Pengampun)

Al-Ghaffar berasal dari akar kata ghafara, yang berarti menutupi. Maghfirah Allah adalah dirahasiakannya dosa-dosa. Lalu kesalahan itu diampuni dengan karunia dan rahmat-Nya.

Kita meneladaninya dengan cara:

  • memaafkan kesalahan orang lain,

  • menutupi aib orang lain, bukan menyebarkannya,

  • menampakkan kelebihan orang lain, bukan memperbesar kekurangannya.


Al-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki)

Al-Razzaq berasal dari kata razaqa/rizq, artinya rezeki. Allah memberi rezeki kepada makhluk-Nya. Pemberian itu datang berulang-ulang.

Kita meneladaninya dengan cara:

  • yakin bahwa Allah menjamin rezeki tiap orang,

  • bekerja sungguh-sungguh, lalu disertai qona’ah,

  • berinfak, dan mengantarkan rezeki kepada yang berhak.


Al-Malik (Maha Raja)

Al-Malik bermakna raja atau penguasa. Kata ini menunjukkan bahwa Allah tidak membutuhkan apa pun. Sebaliknya, segala sesuatu membutuhkan-Nya.

Kita meneladaninya dengan cara:

  • sadar bahwa kepemilikan manusia itu terbatas,

  • mengendalikan nafsu untuk menguasai segalanya,

  • bersyukur atas nikmat yang Allah berikan.


Al-Hasib (Maha Mencukupi)

Menurut Imam al-Ghazali, Al-Hasib bermakna Allah yang mencukupi segala sesuatu. Sifat ini hanya milik Allah. Semua makhluk bergantung kepada-Nya.

Kita meneladaninya dengan cara:

  • tenang bersama Allah,

  • beramal semata karena Allah,

  • melakukan introspeksi diri secara konsisten.


Al-Hadi (Maha Pemberi Petunjuk)

Al-Hadi adalah Allah yang memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Petunjuk itu sesuai peran makhluk dan sesuai tingkatannya.

Kita meneladaninya dengan cara:

  • yakin bahwa petunjuk Allah sangat luas,

  • yakin Islam adalah petunjuk tertinggi,

  • memberi petunjuk kepada orang lain dengan santun, benar, dan tanpa pamrih.


Al-Khaliq (Maha Pencipta)

Al-Khaliq berarti Allah mewujudkan segala sesuatu dengan ukuran yang ditetapkan. Dia mencipta dengan ketentuan.

Kita meneladaninya dengan cara:

  • berkarya secara inovatif dan bermanfaat,

  • tetap yakin bahwa Allah adalah Pencipta hakiki.


Al-Hakim (Maha Bijaksana)

Al-Hakim berasal dari kata hakam, yang maknanya dekat dengan “menghalangi”. Dengan hikmah-Nya, Allah menghindarkan mudharat yang lebih besar.

Kita meneladaninya dengan cara:

  • memperdalam ilmu agar memahami hikmah peristiwa,

  • bertindak profesional dalam urusan apa pun,

  • berusaha bijaksana dalam mengambil sikap.
    (Muhammad Reza Azizi, 2016, hlm. 2–4)


Refleksi

Demikian beberapa contoh meneladani asmaul husna. Kita meyakini bahwa Allah mengasihi makhluk-Nya melalui nikmat, rahmat, dan karunia.

Karena itu, sudah seharusnya kita bersyukur. Salah satu bentuk syukur adalah hidup saling mengasihi. Kita mengasihi sesama manusia, dan juga alam.

Agar kasih sayang antar sesama tumbuh, kita bisa memulainya dari hal kecil:

  • membaca basmallah sebelum memulai kegiatan,

  • bersikap ramah dan sopan,

  • mau berbagi,

  • menolong yang membutuhkan,

  • menggunakan nikmat Allah untuk hal yang baik.

Sementara itu, kasih sayang kepada alam bisa diwujudkan dengan:

  • menjaga lingkungan dari polusi,

  • melestarikan tumbuhan dan hewan,

  • turut menyuarakan penyelamatan lingkungan kepada pihak berwenang.
    (Suparno Achmad, 2013, hlm. 23)

Akhirnya, semoga peneladanan ini tidak berhenti di kata-kata. Semoga ia menjadi laku. Dan semoga ia menjadi jalan yang mendekatkan kita kepada Allah.

_____

Daftar Referensi

Muhammad Reza Azizi. (2016). Akidah Akhlak: Pendekatan Saintifik Kurikulum 2013. Kementrian Agama RI.

Suparno Achmad. (2013). Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti. Yudhistira.

Syekh Tosun Bayrak al-Jerrahi. (2008). Asmaul Husna: Makna dan Khasiat (4 ed.). Serambi Ilmu Semesta.

_____

Heri Bayu Dwi Prabowo, S.Pd., M.A. Aktivitas kesehariannya selalu membaca, tafakur dan tadabur alam, Tuhan dan manusia. Berharap tunduk patuh dihadapan-Nya dengan qalbun salim, ridha dan diridhai oleh-Nya, adalah gerbong pemberhentian yang hendak dicapai.

Bagikan artikel ini :

Post Comment