Kuliah Tawakal Pak Pacee
Makna tawakal kadang terasa sederhana di lisan, tetapi baru benar-benar terasa ketika kita sedang “di perjalanan” dan tidak memegang kendali penuh. Mamad menghampiri sahabat karibnya, Maman, sambil membawa kabar mendadak: Pak Pacee mengajak mereka jalan-jalan ke Kalimantan dan meminta KTP untuk pemesanan tiket. Maman langsung riang, sebab ini akan jadi perjalanan terjauh yang pernah ia lakukan. Namun, semakin dekat hari keberangkatan, rasa cemas mulai muncul—apalagi ini kali pertama Maman naik pesawat. Di sisi lain, perjalanan pagi, sholat Subuh di stasiun, sampai briefing keselamatan pramugari seakan mengingatkan satu hal: ikhtiar perlu, tetapi hati tetap harus bersandar. Dan di situlah “kuliah tawakal” Pak Pacee dimulai.
Diajak ke Kalimantan: Awal Cerita
Mamad menghampiri sahabat karibnya, siapa lagi kalau bukan Maman.
“Man, semalam Pak Pacee kirim pesan. Kita mau diajak jalan-jalan ke Kalimantan. Kamu mau ikut ndak? Kalau iya, kirimkan KTP-mu untuk pemesanan tiket.”
Sontak Maman tersipu dan riang gembira. Bagaimana tidak, kalau terwujud ini merupakan perjalanan terjauh yang pernah dia lakukan. Selama ini, jarak terjauh yang ia tempuh hanya mengitari seperenam dari Pulau Jawa bersama sejawatnya.
Subuh, Kereta Bandara, dan YIA
Setelah semua persiapan tuntas, tanggal yang ditunggu pun datang. Pak Pacee menyampaikan perjalanan dengan pesawat pagi. Keduanya diarahkan untuk naik kereta bandara pukul 04.35 dari Stasiun Tugu. Jam segitu otomatis mengharuskan mereka sholat Subuh di stasiun atau malah di bandara.
Perjalanan ke bandara di pagi hari tidak kalah ramainya dengan siang hari. Bahkan, kalau tidak memesan terlebih dahulu dengan sistem online, bisa dipastikan akan kehabisan tiket. Karena itu, sebagian orang terpaksa memakai moda transportasi lain yang sudah barang tentu lebih mahal berkali lipat dari kereta bandara.
Menuju bandara YIA dengan kereta terbilang singkat dan nyaman. Tepat pukul 05.20, kereta bandara sudah memasuki area stasiun bandara. Setelah itu, keduanya bergegas menuju area keberangkatan.
Dua sahabat karib itu masuk ke area dalam bandara Jogjakarta. Tak terbayang oleh Maman, ini merupakan kali pertamanya masuk ke bandara YIA. Bandara yang berdiri di atas area seluas 600 hektar ini mulai beroperasi sejak 6 Mei 2019. Pembangunannya berlangsung sekitar 20 bulan dan menghabiskan dana besar. Selain itu, desain bandara menggabungkan aspek teknis dan filosofis yang kuat terkait kearifan budaya lokal Jogja sebagai ciri khas.
Bertemu Pak Pacee Sebelum Boarding
Setelah melewati pemeriksaan, keduanya bertemu Pak Pacee di terminal 1. Pertanyaan pertama yang keluar dari Pak Pacee sederhana, tapi menghangatkan:
“Sudah sarapan belum? Itu ada roti. Makan roti dulu, nanti kita tuntaskan di Balikpapan.”
Sesudah berbincang ringan dan menyantap roti yang disodorkan Pak Pacee, panggilan untuk penumpang pesawat yang akan terbang ke Balikpapan pun bergema seisi bandara. Mereka membiarkan antrian yang mengular. Namun, ketika barisan terlihat longgar dan tak lagi memanjang, barulah mereka ikut masuk.
Pertama Kali Naik Pesawat, Maman Gelisah
Semua penumpang melewati garbarata atau jembatan penghubung dari gedung terminal ke pesawat. Mamad, Maman, dan Pak Pacee duduk sederetan di kursi 15 A, B, dan C.
Maman tak bisa menyembunyikan kegelisahannya. Ini merupakan kali pertama dia naik pesawat. Di sisi lain, Mamad sebagai sahabat karib sudah membaca gelagat itu sedari awal masuk bandara. Karena itu, Mamad menuntun dan mengajari Maman memakai sabuk pengaman.
Tak lama kemudian, pramugari berdiri di lorong pesawat dan memberi pengarahan keselamatan. Ia menjelaskan sabuk pengaman, masker oksigen, pintu dan jendela darurat, baju pelampung, serta kartu keselamatan. Sementara itu, penumpang diminta benar-benar memperhatikan.
Mamad memperhatikan temannya yang sedari tadi gelisah. Mulutnya komat-kamit. Sesekali tangannya mencengkeram pegangan kursi. Lalu ia melirik jendela, melihat kota Jogja yang terbuat dari rindu itu tertinggal di bawah sana.
Doa Bepergian dan Pertanyaan Pak Pacee
Tiba-tiba Pak Pacee yang duduk di antara mereka berdua bertanya, “Kalian sudah baca doa?”
“Sudah,” jawab Maman.
”Apa yang kalian baca?” tanya Pak Pacee.
Maman menjelaskan bahwa saat keluar rumah tadi ia membaca:
بسم الله توكلت على الله لا حول ولا قوة إلا بالله
‘Bismillahi tawakaltu ‘alallah, la haula wa la quwwata illa billah’
Artinya: Dengan menyebut Nama Allah, aku berserah diri kepada Allah, tidak ada daya dan upaya selain dengan pertolongan Allah.
Lalu, saat mau terbang ia membaca:
بسم الله مجريها ومرساها إنّ ربي لغفور رحيم
‘Bismillahi maj reha wa mursaha inna rabbi la ghofurur rohim.’
Artinya: “Dengan (menyebut) nama Allah pada waktu berjalan (berlayar/terbang) dan berhenti (berlabuh/mendarat). Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
Pak Pacee menatap mereka, lalu menegaskan, “Apa yang dapat kita petik dari doa yang kita panjatkan mulai dari keluar rumah sampai kita naik pesawat? Kalian dengar apa yang disampaikan pramugari tadi?!”
Ia melanjutkan, “Yang mereka sampaikan adalah senandung akan dekatnya kita dengan kematian. Kita dan seisi pesawat diingatkan bahwa perjalanan ini penuh risiko. Karena itu, penumpang diminta siap sedia dan paham alat pengaman yang disiapkan.”
Singkatnya, di sinilah makna tawakal mulai terlihat: ada ikhtiar yang dipahami, lalu ada hati yang bersandar.
Ikhtiar Dulu, Baru Tawakal
“Segala kemungkinan bisa saja terjadi dalam dua jam penerbangan ini,” kata Pak Pacee. “Penumpang hanya bisa menyerahkan dirinya pada Sang Pencipta.”
Ia menambahkan, pesawat telah dirancang sedemikian rupa. Peralatannya canggih. Crew pesawat juga handal dan punya jam terbang tinggi. Namun, semua itu bukan alasan untuk meninggalkan tawakal.
“Tawakal kita pada Allah harus selalu hadir,” lanjutnya, “seperti saat keluar rumah seraya berdoa: ‘Dengan menyebut Nama Allah, aku berserah diri kepada Allah…’”
Pak Pacee menjelaskan bahwa tawakal berarti penyerahan diri secara total kepada Allah SWT. Tawakal juga realisasi keyakinan kita terhadap adanya Allah Yang Maha Kuasa, seperti yang difirmankan Allah dalam surah Al-Maidah ayat 23:
وَعَلَى اللّٰهِ فَتَوَكَّلُوْٓا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
“Dan hanya kepada Allah hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar orang yang beriman”.
Ayat tersebut menegaskan perintah tawakal. Akan tetapi, bertawakal pada Allah tidak serta merta dilakukan tanpa usaha. Oleh sebab itu, sebelum pasrah, ikhtiar harus dikuatkan.
Pada zaman Rasulullah SAW, ada seorang laki-laki meninggalkan untanya di depan masjid tanpa diikat. Alasannya ia bertawakal kepada Allah SWT. Ketika hal itu diketahui Rasulullah SAW, beliau mengatakan, “Tambatkan untamu lebih dahulu, baru kemudian bertawakal.”
Dari situ kita paham, Nabi mengajarkan agar bekerja dan berupayalah terlebih dahulu. Setelah itu, barulah bersandar penuh kepada Allah SWT.
Turbulensi: Saat Tawakal Diuji
Tiba-tiba pesawat berguncang dan bergoyang. Tak lama, terdengar seruan, “Para penumpang yang terhormat, tanda kenakan sabuk pengaman telah menyala. Cuaca saat ini dilaporkan kurang baik. Harap kembali ke tempat duduk dan kenakan sabuk pengaman.”
Sambil mengencangkan sabuk pengaman, Pak Pacee berkata lagi, “Ini isyarat tanda bahaya bagi semua penumpang. Karena itu, tawakal adalah kesungguhan hati dalam bersandar kepada Allah Ta’ala untuk mendapatkan kemaslahatan serta mencegah bahaya.”
Ia menambahkan, para ulama menjelaskan tawakal sebagai wujud menampakkan kelemahan dan penyandaran hamba pada Allah. Ada juga yang memaknai tawakal sebagai memutus ketergantungan kepada makhluk.
Pak Pacee lalu membacakan:
وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱلۡحَيِّ ٱلَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحۡ بِحَمۡدِهِۦۚ وَكَفَىٰ بِهِۦ بِذُنُوبِ عِبَادِهِۦ خَبِيرًا
Artinya: “Dan bertawakallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya.” (Al-Furqan 58)
Tawakal adalah sikap mental hamba dan salah satu bentuk keimanan. Di dalam tauhid, kita diajari meyakini bahwa hanya Allah yang menciptakan segala-galanya. Allah pula yang menguasai dan mengatur alam semesta. Karena itulah keyakinan ini mendorong hamba menyerahkan persoalannya kepada Sang Pencipta.
Quraish Shihab menyatakan bahwa tawakal bermakna menyerahkan dan mewakilkan. Namun, makna itu hadir setelah ada usaha. Sementara itu, Imam Al-Ghazali menegaskan tawakal sebagai sikap pasrah diri seorang hamba pada Sang Pencipta. Al-Ghazali juga mengaitkan tawakal dengan tauhid sebagai landasan tawakal.
Tawakal sangat berkaitan erat dengan keimanan. Bahkan, bertawakal adalah syarat sahnya keislaman dan keimanan seseorang. Seorang hamba tidak lepas dari ketergantungan kepada Allah walau sedetik pun.
Di sisi lain, bersandar kepada selain Allah sama saja menyerahkan diri pada kelemahan, kekurangan, kekhilafan, dan kesalahan. Hal itulah yang dapat menggerus keimanan seorang hamba.
Penutup: Mendarat Selamat, Bertambah Paham
Ulasan Pak Pacee terkait tawakal telah memberikan pengetahuan baru bagi Mamad serta Maman. Tak terasa perjalanan ini benar-benar punya nilai tambah. Mereka bukan hanya sampai tujuan, tetapi juga semakin mengerti makna tawakal.
Penerbangan ke Balikpapan akan sampai. Crew pesawat menyampaikan bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat. Tak lama berselang, pesawat pun mendarat dengan sempurna. Karena itu, ucapan syukur terus terpanjatkan kepada Allah atas keselamatan perjalanan selama dua jam dari Jogja ke Balikpapan.
Rombongan Mamad keluar dari bandara dan menuju tempat mereka menginap. Rencana hari pertama adalah bertemu dengan kolega-kolega Pak Pacee. Keesokan harinya, mereka berencana menuju IKN yang gadang-gadang menjadi Ibu Kota Negara Indonesia di masa depan. Letaknya ada Sepaku, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Setelah itu, petualangan lain menanti, semoga tetap sarat hikmah.
Bagikan artikel ini :



Post Comment