Loading Now

Kuntowijoyo: Cendekiawan Indonesia Penggagas Ilmu Sosial Profetik

Kuntowijoyo dan Ilmu Sosial Profetik Indonesia

Kuntowijoyo dan Ilmu Sosial Profetik tidak dapat dipisahkan dalam khazanah pemikiran Islam Indonesia. Kuntowijoyo dikenal sebagai cendekiawan muslim Nusantara yang tidak hanya bergerak di dunia akademik, tetapi juga aktif sebagai sastrawan, budayawan, dan sejarawan. Melalui gagasannya, ia berupaya merumuskan paradigma ilmu sosial yang berpijak pada nilai-nilai Islam dan realitas masyarakat Indonesia. Salah satu warisan intelektual terpentingnya adalah Ilmu Sosial Profetik, sebuah tawaran kritis terhadap dominasi teori sosial Barat. Artikel ini mengulas latar belakang kehidupan Kuntowijoyo, perjalanan intelektualnya, karya-karyanya, serta pokok-pokok pemikiran Ilmu Sosial Profetik yang ia gagas.

Kuntowijoyo sebagai Cendekiawan Muslim Nusantara

Kuntowijoyo merupakan salah satu cendekiawan muslim Nusantara yang memiliki peran penting dalam perkembangan pemikiran Islam Indonesia. Selain dikenal sebagai akademisi, ia juga masyhur sebagai sastrawan, budayawan, dan sejarawan. Kuntowijoyo lahir di Bantul pada 18 September 1943.

Jika dilihat dari garis keturunannya, Kuntowijoyo berasal dari keluarga priyayi. Hal ini tercermin dari figur kakeknya yang dikenal sebagai lurah sekaligus seniman, ulama, pedagang, petani, dan tukang. Latar keluarga ini membentuk kepekaan sosial dan budaya dalam perjalanan intelektualnya.

Selain aktif di dunia akademik, Kuntowijoyo juga dikenal sebagai aktivis Muhammadiyah. Menariknya, latar belakang keluarganya terdiri dari unsur Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU), yang turut membentuk sikap moderat dan terbuka dalam pemikirannya.

Latar Belakang Pemikiran dan Pendidikan

Perkembangan intelektual Kuntowijoyo banyak dipengaruhi oleh Sartono Kartodirjo, seorang sejarawan sosial terkemuka. Sartono mendorong sikap skeptis terhadap reduksionisme, pentingnya plurikausalitas, serta pendekatan multidimensional dalam kajian sejarah.

Setelah lulus dari SMA Negeri 2 Surakarta pada tahun 1962, Kuntowijoyo melanjutkan studi di Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada dan menyelesaikannya pada tahun 1969. Ia kemudian mengajar di fakultas yang sama sebelum melanjutkan studi ke University of Connecticut, Amerika Serikat, dan lulus pada tahun 1974.

Pada tahun 1990, Kuntowijoyo meraih gelar Ph.D di bidang sejarah dari Columbia University melalui disertasi berjudul Social Change in an Agrarian Society: Madura 1850–1940. Puncak karier akademiknya diraih pada tahun 2001 sebagai guru besar di Fakultas Ilmu Budaya UGM.

Karya-karya Kuntowijoyo

Karya Sastra

Dalam bidang sastra, Kuntowijoyo menghasilkan berbagai karya penting. Beberapa di antaranya adalah Dilarang Mencintai Bunga-Bunga, Rumput-Rumput Danau Bento, Tidak Ada Waktu bagi Nyonya Fatma, Barda dan Cartas, Topeng Kayu, Pasar, Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari, serta Khotbah di Atas Bukit.

Karya-karya ini menunjukkan kemampuannya menggabungkan sensitivitas sastra dengan refleksi sosial dan keagamaan.

Karya Keilmuan

Selain sastra, Kuntowijoyo juga produktif menulis karya keilmuan. Di antaranya adalah Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia, Identitas Politik Umat Islam, Budaya dan Masyarakat, Paradigma Islam, Interpretasi untuk Aksi, Radikalisme Petani, Demokrasi dan Budaya, Metodologi Sejarah, Pengantar Ilmu Sejarah, Muslim tanpa Masjid, Islam sebagai Ilmu, serta Selamat Tinggal Mitos, Selamat Datang Realitas.

Melalui karya-karya ini, Kuntowijoyo berupaya menjembatani ilmu sosial, sejarah, dan nilai-nilai Islam.

Lahirnya Gagasan Ilmu Sosial Profetik

Kemunculan gagasan Ilmu Sosial Profetik tidak terjadi tanpa sebab. Kuntowijoyo melihat adanya ketergantungan yang kuat ilmu sosial di Indonesia terhadap teori-teori Barat. Akibatnya, fenomena sosial Nusantara sering dianalisis dengan kerangka teori yang belum tentu sesuai dengan konteks lokal.

Setidaknya terdapat dua faktor utama yang melatarbelakangi gagasan ini. Pertama, ketergantungan ilmu sosial Nusantara pada teori sosial Barat dalam dunia akademik. Kedua, kecenderungan meniru Barat secara membabi buta tanpa kritik dan kontekstualisasi.

Sebagai alternatif, Kuntowijoyo menawarkan Ilmu Sosial Profetik yang berangkat dari nilai-nilai Islam sekaligus realitas sosial masyarakat Indonesia.

Pilar Ilmu Sosial Profetik

Surat Ali Imran ayat 110 menjadi paradigma awal pembentukan Ilmu Sosial Profetik. Menurut Kuntowijoyo, ayat ini mengandung empat poin tersirat, yakni konsep umat terbaik, aktivisme sejarah, urgensi kesadaran, dan etika profetik.

Dari ayat tersebut, Kuntowijoyo merumuskan tiga pilar utama Ilmu Sosial Profetik. Pertama, humanisasi, yaitu memanusiakan manusia dengan dasar humanisme-teosentris. Kedua, liberasi, yakni membebaskan manusia dari penindasan dan kemerosotan moral. Ketiga, transendensi, yaitu iman kepada Allah sebagai fondasi nilai dan kebudayaan.

Ketiga pilar ini dimaksudkan untuk menghadirkan ilmu sosial yang tidak hanya menjelaskan realitas, tetapi juga mendorong perubahan sosial yang bermoral.

Akhir Hayat dan Warisan Intelektual

Di akhir hayatnya, Kuntowijoyo menderita penyakit langka berupa radang selaput otak (meningoensefalitis). Meski demikian, ia tetap aktif dan produktif dalam berkarya.

Pada tahun 1999, Kuntowijoyo memperoleh penghargaan sastra tingkat Asia Tenggara, SEA Write Award. Ia wafat pada 22 Februari 2005 dan dimakamkan di makam keluarga UGM di Sawitsari, Yogyakarta.

Warisan intelektual Kuntowijoyo, khususnya Ilmu Sosial Profetik, hingga kini tetap relevan sebagai tawaran paradigma alternatif bagi pengembangan ilmu sosial di Indonesia.

_____

Daftar Pustaka

Fahmi, Muttakhidul. 2005. Islam Transendental: menelusuri jejak-jejak pemikiran Islam Kuntowijoyo. Yogyakarta: Pilar Media.

Irwanto. 2014. “Pendekatan Ilmu Sosial Profetik Dalam Memahami.” Literasi V (1): 1–12.

Kahar. 2019. “Paradigma Al-Quran Kuntowijoyo.” Mimbar, Jurnal Media Intelektual Muslim dan Bimbingan Rohani 5 (2): 1–15. http://journal.iaimsinjai.ac.id/indeks.php/mimbar.

Kuntowijoyo. 1994. Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

———. 2001. Muslim Tanpa Masjid,. Bandung: Mizan.

Syarifuddin Jurdi. 2011. “Pengislaman ilmu dan pegilmuan islam dalam ilmu- ilmu sosial.” In Islam dan Ilmu Sosial Indonesia, diedit oleh Syarifuddin Jurdi dan Sulistyaningsih, 1 ed., 17–45. Yogyakarta: Laboratorium Sosiologi UIN Sunan Kalijaga.

Bagikan artikel ini :

Post Comment