Loading Now

HOS Tjokroaminoto: Sudah Sampai di Mana Hijrah Kita?

hijrah menurut HOS Tjokroaminoto dan refleksi kebangsaan

Hijrah menurut HOS Tjokroaminoto bukanlah sekadar perpindahan tempat, melainkan sebuah proses panjang perubahan diri dan masyarakat. Pertanyaan “sudah sampai di mana hijrah kita?” adalah pertanyaan abadi yang terus ia tanamkan kepada murid-muridnya di Gang Peneleh dan para pengikut Sarekat Islam. Pertanyaan itu bukan untuk dijawab dengan kata-kata, melainkan dengan kerja nyata. Hingga hari ini, pertanyaan tersebut masih relevan bagi bangsa Indonesia yang terus berjalan di antara cita-cita dan kenyataan. Artikel ini mencoba menelusuri makna hijrah dalam pandangan Tjokroaminoto, hijrah sebagai strategi perubahan zaman, serta sejauh mana hijrah kebangsaan itu telah kita tempuh bersama.

Pertanyaan Abadi Sang Guru Bangsa

Pertanyaan dari Sang Guru Bangsa, HOS Tjokroaminoto, adalah pertanyaan yang belum tuntas kita jawab hingga hari ini. Hal itu selalu ia sampaikan kepada murid-muridnya di Gang Peneleh, juga kepada para pengikut Sarekat Islam: “Sudah sampai di mana hijrah kita?” Bahkan, pertanyaan yang sama kerap ia benamkan pada dirinya sendiri sebagai alat evaluasi perjuangan.

Bukan sekadar kalimat retoris, pertanyaan ini sejatinya adalah cambuk kesadaran. Karena itu, ia tidak meminta jawaban berupa pidato atau slogan. Ia menuntut jawaban berupa tindakan, kerja nyata, dan perubahan yang bisa dirasakan.

Hijrah sebagai Titik Balik Peradaban

Hijrah merupakan peristiwa penting dalam tarikh Islam. Ia menjadi titik balik perjuangan Nabi Muhammad SAW ketika beliau dan para sahabat meninggalkan kota Mekkah menuju Yatsrib untuk memulai era baru penegakan kebenaran dan keadilan.

Namun demikian, hijrah Nabi bukanlah karena rasa takut. Ia juga bukan karena ketidakpedulian terhadap nasib kota Mekkah. Bahkan, hijrah bukan pula karena Nabi tidak mencintai tanah kelahirannya. Sebaliknya, hijrah dilakukan semata-mata karena Allah, dibarengi keberanian, kepedulian yang kuat, serta kecintaan mendalam kepada manusia dan alam semesta.

Hijrah Bukan Sekadar Pergi

Di sisi lain, hijrah bukan hanya meninggalkan kerusakan. Lebih dari itu, hijrah adalah upaya memperbaiki kerusakan itu sendiri. Karena alasan itulah, hijrah tidak boleh dipahami semata sebagai peristiwa sejarah.

Hijrah adalah nilai, cara, siasat, dan strategi perubahan zaman. Suatu masyarakat yang enggan berhijrah dalam tatanannya—yang bertahan pada pola lama dan cara usang—akan digilas oleh waktu. Oleh sebab itu, masyarakat harus berani memperbarui diri, mereformasi hidup, dan menyambut kebaruan.

Singkatnya, hijrah menjadi sempurna ketika masyarakat tidak hanya mengikuti perubahan, tetapi menjadi pembaharu yang menciptakan kemajuan.

Hijrah Kebangsaan ala Tjokroaminoto

Indonesia adalah bangsa yang diimpikan HOS Tjokroaminoto. Ia membayangkan sebuah negeri yang memiliki zelfbestuur (pemerintahan sendiri), tidak lagi menjadi sapi perah bangsa lain, serta berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa dunia.

Selain itu, Indonesia yang dicita-citakan adalah bangsa yang meletakkan Ketuhanan sebagai asas, serta menolak diperlakukan sebagai bangsa kelas dua. Namun pertanyaannya, apakah hijrah kebangsaan itu sudah selesai?

Jawabannya jelas: belum. Kita masih berada di tengah perjalanan, masih di antara Mekkah dan Yatsrib, masih di padang gurun sejarah.

Kemerdekaan sebagai Awal Hijrah

Kemerdekaan 17 Agustus 1945, sebagaimana dikatakan Bung Karno, hanyalah awal. Proklamasi adalah jembatan emas menuju cita-cita besar rakyat Indonesia, baik yang tersurat maupun tersirat.

Karena itu, kemerdekaan merupakan bagian dari hijrah kebangsaan: dari bangsa yang diperintah menjadi bangsa yang memerintah dirinya sendiri. Akan tetapi, hijrah ini belum tuntas jika kemerdekaan hanya dimaknai sebatas bebas dari penjajahan asing.

Indonesia merdeka seharusnya menjamin pendidikan tanpa rasa takut biaya, layanan kesehatan yang layak, pembangunan yang merata, serta kebebasan berbicara kebenaran dan beribadah dengan khidmat.

Peran Kaum Terpelajar dalam Jalan Hijrah

Dalam pandangan Tjokroaminoto, kaum terpelajar adalah lokomotif masyarakat. Karena itu, mereka memikul tanggung jawab lebih besar dalam proses hijrah ini.

Terpelajar politik harus menghadirkan sistem politik yang berkeadilan, terpelajar hukum wajib menjadi penjaga tegaknya keadilan, terpelajar kesehatan harus hadir sebagai penolong masyarakat. Sementara itu, terpelajar teknik dituntut mencipta inovasi peradaban, dan terpelajar ekonomi wajib merumuskan konsep ekonomi yang manusiawi.

Dengan kata lain, setiap ilmu memiliki kewajiban moral untuk diabdikan bagi kemajuan masyarakat.

Hijrah sebagai Perpindahan Pola Pikir

Lebih jauh, hijrah hari ini bukan lagi soal perpindahan raga. Hijrah adalah perpindahan cara berpikir.

Mulai dari keluarga yang toxic menuju keluarga yang suportif. Kemudian dari kampung yang individualis menuju kampung yang bergotong royong. Selanjutnya, dari ekonomi kapitalistik menuju ekonomi humanistik. Bahkan pendidikan pun harus berhijrah, dari orientasi ijazah menuju orientasi moral.

Di bidang politik, hijrah berarti menggeser praktik Machiavellistik menuju politik profetik. Pada akhirnya, hijrah juga menuntut dunia yang lebih peduli pada perdamaian ketimbang konflik.

Penutup: Jawaban Ada pada Tindakan

Suka saya ulangi, hijrah itu bukan sekadar pergi, tetapi memperbaiki. Ringkas cara hijrah ala HOS Tjokroaminoto sangat jelas: “setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat.”

Namun sekali lagi, sudah sampai di mana hijrah kita? Pertanyaan itu tidak meminta jawaban lisan. Jawabannya ada pada perbuatan. Jawabannya ada pada tindakan. Bukan pada perkataan.

Bagikan artikel ini :

Post Comment